Survive & Sustain sebagai Desainer

Ini adalah bagian kedua dari dua tulisan. Bagian pertama: Desain Grafis di Indonesia dalam Revolusi Industri 4.0.

Di penghujung tahun 2017 lalu saya menghadiri acara Jakarta Creator’s Meet-up 2017 di salah satu resto di Jakarta Selatan. Yang datang adalah orang-orang dari komunitas para pembuat template dan mock-up, pembuat icon dan clip-art, para peserta kontes desain, komunitas pembuat stiker Line, pembuat stok foto, dan lain-lain. Dari pemula yang diajak teman, baru mau mencoba keberuntungannya, hingga yang sudah berkecimpung puluhan tahun dan kini memiliki tim dengan penghasilan ratusan juta perbulan.

Isi acaranyapun menarik. Jauh dari perbincangan desain, metode, maupun Design Thinking, materi yang dibawakan adalah tips mengelola Microsite (situs promosi karya pribadi yang berada di dalam situs portal besar), supaya karya kita laku di Market Place seperti Graphicriver, 99designs, Envato, Creativemarket, Shutterstock, dan lain-lain.

Dari sini, muncul pertanyaan-pertanyaan: mereka desainer atau bukan? Yang dikerjakan itu desain bukan? Siapakah yang berhak disebut desainer? Apa itu desain? Yang pasti, populasi para “Creator” ini sangat banyak. Salah satu komunitas saja mempunyai jumlah anggota lebih dari 33.000 orang, tersebar di seluruh Indonesia. Itu baru dari satu komunitas, belum dari komunitas lainnya yang semakin banyak bermunculan di berbagai daerah. Belum lagi yang tidak tergabung dalam komunitas.

Saya jadi berpikir, 513 Miliar Rupiah PDB (Produk Domestik Bruto) dari sub-sektor Desain Grafis tahun 2015, mungkin lebih banyak dihasilkan oleh para “Creator” ini, dibandingkan agensi-agensi desain besar nan gemuk yang lebih rentan terhempas Revolusi Industri 4.0.

Desain telah berubah sejalan dunia yang berubah. Desain grafis sekarang jadi Sub-dominan, bukan Dominan lagi seperti dulu. Di luar sektor hulu seperti Brand Identity, desain makin melebur sebagai supporter bisnis, teknologi, dan disiplin lainnya. Eksistensinya makin tidak kentara. Mindset baru ini sebetulnya yang perlu dimiliki oleh seluruh stakeholder: pihak pemerintah penyusun regulasi, pihak asosiasi yang mengatur, penyedia jasa pendidikan, pengguna jasa desain, dan desainernya sendiri.

“Lulusan DKV mendirikan agensi desain grafis”. Pernyataan ini bisa berlaku umum di tahun 1980-an, tapi apakah masih berlaku umum sekarang ini? Apakah sebagian besar lulusan DKV bisa survive mendirikan agensi desain grafis? Mungkin jawabannya ya, tapi apakah sustain? Sampai berapa lama agensi bisa survive dengan menjual jasa desain grafis saja? 5 tahun? 10 tahun?

Melihat seluruh fenomena ini saya jadi berpikir, mungkin yang bisa survive dan sustain justru para Creator pembuat aset-aset desain, yang menjawab kecenderungan jaman secara lebih realistis. Juga para desainer produk, karena produk bisa diraba, dilihat, dicium, dibandingkan riset dan strategi yang dianggap mengada-ada (di luar sektor hulu desain: Brand Identity).

Lagipula, berapa banyak orang yang berprofesi desainer grafis di Indonesia? Seratus ribu orang? Sejuta? Sepuluh juta? Secara de facto mungkin banyak, tapi secara de jure? Berapa orang yang memiliki sertifikat profesi sebagai desainer grafis?
Ini semua adalah persoalan internal yang kita hadapi sejak dulu kala dan belum juga selesai hingga sekarang.

Jadi tidak cukup dihantam dahsyatnya tsunami Revolusi Industri 4.0, persoalan internal keprofesian, belum lagi masalah mutu pendidikan DKV di Indonesia. Endapan masalah ini seperti efek domino terhadap hal-hal yang kita temui sekarang: siapapun bebas menjadi desainer, bebas menafsirkan desain, bebas meniru, bebas memberi harga, bebas menawar harga, bebas menggratiskan, dll
__________

Ditulis oleh Surianto Rustan. Ini adalah bagian kedua dari dua tulisan. Bagian pertama: Desain Grafis di Indonesia dalam Revolusi Industri 4.0.

Desainer bekerja tergantung mood atau tidak?

Ivan Reynaldy Syaputra
selamat malam pak. saya mau tanya. apakah hasil kerja desainer itu tergantung dari mood pada saat mengerjakan?

Surianto Rustan
December 22, 2011
halo, ini saya jawab sepengetahuan saya: namanya juga manusia tentunya kadang dipengaruhi mood, namun desainer yg profesional biasanya dapat mengatasi hal itu. analoginya seperti penyanyi profesional katakanlah Rosa, Yuni Shara, atau siapalah, walaupun mereka punya masalah besar dalam kehidupannya, namun coba lihat begitu tampil, mereka curahkan 100% dirinya di atas panggung, tampil total apapun keadaannya. desainer yg profesional juga sepantasnya demikian.

Ivan Reynaldy Syaputra
December 22, 2011
dan dengan cara apa desainer mengatasi hal itu?

Surianto Rustan
December 22, 2011
dengan selalu sadar diri: saya sedang apa sekarang. tidak hanya berpikir sejauh menyelesaikan pekerjaan pokoknya beres, tapi saya ini sekarang sedang memupuk personal branding: saya dan karya saya nanti dilihat orang, dan melalui karya tsb diri saya akan dinilai orang.

Ivan Reynaldy Syaputra
December 22, 2011
waoww.. penjelasan yang sangat masuk akal, terima kasih atas penjelasannya bapak .
saya anggap itu sebagai motivasi saya dlm berkarya [:)]

Surianto Rustan
December 22, 2011
sip Mas Ivan, smg makin semangat mendesain, saya tunggu karya2nya [:)]

Apa kiat kiat yang harus dilakukan semasa muda agar menjadi seorang Designer yg baik?

Anjam Piyani Anjam Piyani
selamat malam bpk Rustan.
saya sudah membaca beberapa buku dr bpk,salah satunya Logo.

Surianto Rustan
June 13
halo

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
sangat bagus [(Y)]
bpk bagaimana dulu merintis kariernya?
kiat kiat seperti apa yg harus saya lakukan semasa muda skrng ini pak,agar menjadi seorang Designer yg baik.?

Surianto Rustan
June 13
saya? yah awalnya sih mengikuti arah angin saja
btw skrg sedang kuliah atau otodidak?

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
arahnya mana pak?kuliah advertising pak,di slh stu swasta JKT,,tp sering keluar masuk.hehe

Surianto Rustan
June 13
oh gitu. hehe kiat2 apa ya? saya juga masih dlm tahap belajar nih

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
iya kan setidaknya bpk lebih duluan belajar dari saya.
lebih banyak pengalamanya,,
share dong pak ilmunya..

Surianto Rustan
June 13
iya ya betul juga :))))
saya lahir duluan sih ya.

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
btw saya sangat beruntung dan bersyukur bisa chating sama bapak.

Surianto Rustan
June 13
yg penting di jmn sekarang mah kurang cocok pake cara ngikuti arah angin
wah saya jg senang chatting dengan Mas Anjam

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
ngikutin apa yg cocok pak?

Surianto Rustan
June 13
hrs punya rencana sendiri, punya cita2 / dreams yg jelas
krn waktu berjalan super cepat dan coba lihat persaingan di jaman sekarang apalagi di area industri kreatif, wah super banyak desainer & org yg kreatif

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
YES SIR!
hehe
bagaimana dulu awalnya bapak mendapatkan client?

Surianto Rustan
June 13
dulu mah klien yg nyari desainer, krn desainer masih dikit, tapi skrg? kebalik!

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
iya ya betul juga :))))
bapak lahir duluan sih ya.

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
*Copas*
hehe
boleh tanya pak?

Surianto Rustan
June 13
silahkan sblm sy berangkat ke peraduan, maklum fisik sudah renta

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
apa yg bapak lakukan ketika dalam keadan titik terjenuh.
biasanya saya kalo lagi design ada kalanya sangat semangat dan kadang berada di titik paling jenuh…

Surianto Rustan
June 13
kalo saya jalan2 dulu aja, hrs betul2 keluar dari kejenuhan itu, biasanya saya naik gunung, ato pergi kemana keq yg membuat saya melupakan rutinitas sebentar. ntar pas pulang berlarut2 kreatif lagi koq

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
ok..
mksih banyak bpk rustan.
semoga di lain hari bisa chat lagi.
selamat istrhat.

Surianto Rustan
June 13
sam2 Mas Anjam, sip, kl sy online langsung disapa aja, tar kita ngobrol lagi ya. slmt begadang :)))

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
kalo ada seminar atau louncing buku bisa share saya pak infonya..

Surianto Rustan
June 13
sip pasti. biasanya saya share di fb ini
sampai jumpa Mas Anjam.. suxeselalu!

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
trimaksih pak Rustan

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
semoga Tuhan selalu memberi Anda kesehatan Utuk terus berkarya dan membagi ilmunya ke Generasi berikutnya.amin

Surianto Rustan
June 14
Wah makasih bgt doanya Mas Anjam, salam sejahtera sekeluarga!

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 21
ehh ada bapak,,,

Surianto Rustan
June 21
haloo

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 21
jarang2 lo bisa Onlen ama penulis Buku

Surianto Rustan
June 21
hehehe bisa aja [:)]

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 21
td mau nyapa pak,tp bingung mau bilang apa..
ya sudaah deh aku putusin bilang
“eh bapak”
[:D]

Surianto Rustan
June 21
ini aku nyambi nulis ya

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 21
Owh semoga dapet inspirasinya dari saya jg pak
hehe
Monggo silahkan [(Y)]

Surianto Rustan
June 21
nulis pe er S2 Mas, bukan nulis buku [:)]

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 21
owh? [:D]
bapak S 2 ambil apa?

Surianto Rustan
June 21
ambil desain, biar sejurusan

Desainer harus Idealis, atau Komersil?

Rizal Fauzi A
Menarik pak setelah saya baca artikel di wordpress nya bapak,namun pak kembali kepada pertanyaan mendasar, apakah nantinya banyak tercipta desainer muda Indonesia yang mau untuk mengorbankan “kemewahan” saat berkuliah dengan mencoba memajukan UKM berkualitas dengan ilmu yang didapat untuk mencoba melabelisasi produk asli Indonesia yang terbaik dengan harga murah atau tidak dibayar sekalipun. terima kasih pak [:D]

Surianto Rustan
February 1
jadi kalau saya pikir, riwayat seorang desainer itu ada tahap2nya, misalnya: kuliah, atau tidak kuliah, awal bekerja, sudah bekerja tahunan, sudah bekerja puluhan tahun (senior).
nah membantu orang lain itu tidak terikat dengan setinggi apa karier kita. bisa kapan saja, apakah waktu masih kuliah, atau sudah senior. kalau di luar negeri, seorang desainer profesional justru berlomba2 mendapatkan pekerjaan yang sifatnya sosial, misalnya social campaign, membantu ukm, dll, krn itu sangat bagus buat portfolio mereka. jadi menyeimbangkan antara pekerjaan komersial dan segi pelayanan sosial. brandingnya jadi bagus. di sini juga demikian, kalaupun belum membudaya, sikap seperti itu adalah perlu: membantu orang lain kapanpun. saya sendiri dan beberapa teman desainer punya pemikiran yg sama, jadi selain kita bekerja komersial, kita seimbangkan dengan bekerja sosial bahkan tanpa dibayar sepeserpun.

Surianto Rustan
February 1
karena kita seharusnya melihat gambaran besarnya, bahwa bukan semata-mata uang yang paling penting, melainkan juga reputasi pribadi / nama baik. kalaupun itu masih dianggap bungkus, mari masuk ke yang lebih dalam lagi: hati nurani [:)] Nah Mas Rizal sejak awal sudah memiliki kepekaan tsb, silahkan menyebarkan virus kebaikan tsb di lingkungan terdekatnya dulu, baru lama2 meluas.

Surianto Rustan
February 1
bagi desainer muda / pemula, lebih jelas lagi kebutuhan mereka memang harus melayani orang lain dulu, tanpa mengharapkan balasan materi, krn yg dibutuhkan oleh mereka lebih berupa: portfolio, network, pengalaman, latihan, dll. jadi paling baik melihat ke dalam / introspeksi, jadi kita tetap sadar saya sedang berada di tahap mana, dan apa yg sebaiknya saya lakukan, apa saya sudah bisa kasih harga mahal, apa belum, bagaimana kualitas saya, kapan saya harus lebih membantu orang, kapan harus kerja lebih keras lagi, dll.

Rizal Fauzi A
February 1
Waw, [:D] saya tidak menyangka pak kalo jawabannya sekomprehensif ini pak [:D] . Terima kasih sekali
Mengenai undangan tersebut ya iya saya memahaminya [:)] , tanpa ada kekhawatiran lain pak. Insyaallah saya sedang menuju itu (untuk mencoba mengundang dan menimba ilmu langsung di kampus udinus) [:D]
Lalu untuk menjadi seorang desainer muda yang berkembang seperti yang bapak ungkap disini kadang pak kita sebagai seorang desainer terjegal hal yang sama, kebutuhan ekonomi.
Lalu apakah memang kita harus menjadi desainer yang seperti supermarket? yang notabenenya terkadang harus bersimpangan dengan apa yang kita yakini dari awal, atw mungkin adakah cara yang lainnya tanpa kita meninggalkan idealis kita tersebut?

Surianto Rustan
February 1
Banyak Cara mengakalinya Mas Rizal, ada teman saya desainer profesional, di sela2 proyek desain idealis pribadinya, ia jg menerima pekerjaan2 desain ecek2 spt brosur, kartu nama, dll. Jadi dia mengelompokkan ada 2 macam kerjaan desain, yg 1 yg sifatnya komersial, dan uangnya cepat dan banyak, yg 1 lagi pekerjaan idealis sosial yg tidak ada uangnya. Pekerjaan komersialnya bisa menghidupi dirinya dan memodali idealismenya. Kreatif dan seimbang kan?

Surianto Rustan
February 1
Jadi bukan berarti kota menolak uang, tapi bagaimana secara arif mengolahnya utk tujuan yg lebih mulia
Mohon maaf saya sudah siap2 kuliah, jadi hrs terpotong obrolannya, tapi silahkan dilanjutkan saja apabila masih penasaran [:)] terimakasih bisa berbincang2 dengan Mas Rizal yg menyenangkan

Rizal Fauzi A
February 1
iya makasih banget atas kerelaannya meluangkan waktu dan berbagi dengan saya yang sangat cerewet ini heheheh. sekali lagi terima kasih banyak pak [:D]

Menghadapi Klien

Ircuz Pastrana
oke, boleh panggil aku prazz aja,, hehe. biar lebih akrab,, hehe,, eh ngomong” ni lagi sibuk gak pak ? mau sharing” ni .. tentang client.. [:)]

Surianto Rustan
January 22
silahkan Mas Praz

Ircuz Pastrana
January 22
gini pak, selaku junior, apa kedepan nya aku harus menerima client yg ngerti atau paham dan mau mengerti tentang apa itu hak, kewajiban dan lain” tentang desainer grafis, stelah aku jabarkan atau mengkasih 3 artikel yg judulnya kalo gk slah BUKA MATA di site nya DGI.. atau mungkin aku juga boleh menerima client yg gak mau tau tentang itu semua.. ” ah saya gak perlu tau detail tentang itu semua,, yg penting desenin yg bagus,, konsep dan bla bla bla ,, gak perlu ,, tapi harga nya jangan mahal2” ketika aku menerima client yg gak mau tau tentang DG ini, apakah secara gak langung ikut serta memperkembangkan pemikiran masyarakat yg slah kaprah tentang DG. tp aku juga butuh menambah porto, dan juga ngenyangin perut,, melihat di indonesia ato d surabaya (krna aku tinggal di sby) yg sudah terpecah mnjadi 2 , yaitu pemikir dessain dan tukang desain, karna aku pengen nanti nya jadi desainer yg PRO. pemikir desain.bukan ” TUKANG ”. mohon penjelasannya dari bapak ?

Surianto Rustan
January 22
Pertama2 saya salut dg sikap kritisnya Mas.
Begini, kalau kita cuma mau dengan klien yg mengerti & menghargai desain, bisa2 ga pernah dapat kerjaan. masalahnya bukan di kliennya, tapi di kitanya. karena kita terlalu berpihak pada diri sendiri, menganggap orang lain harus mengerti kita. saya sarankan ubah 180% pemikiran seperti itu.
desainer grafis itu konsultan, bukan operator. sbg konsultan hukumnya harus pertama2 bisa menempatkan diri sebagai klien, mendengarkan, mengerti jalan pikirannya, dan berbicara dengan bahasa mereka
kedua: menyambung kita sbg konsultan yg hrs mengerti klien, jadi yg perlu dipelajari oleh desainer sama sekali bukan ilmu desainnya saja, tapi ilmu mendengarkan, dan berkomunikasi dengan baik pada klien. ini semua utk memperlihatkan pada mereka bhw “oh desainer itu sopan2 & wawasannya luas, dll” > citra positif. ini adalah misi & tanggung jawab moral kita: mengedukasi masyarakat (trmsk klien) tentang apa itu desain & siapa itu desainer.

Surianto Rustan
January 22
tiga: hampir semua klien yg saya temui punya pemikiran yg barusan Mas sebutkan semua: mau cepat, desain bagus, murah. itu semua wajar saja, krn mereka belum kenal siapa kita & apa itiu desain. ok, sekarang tunjuk balik diri saya sendiri, apa saya tau betul apa itu desain grafis? siapakah saya yg disebut desainer grafis ini? nah sebelum edukasi mereka, sepertinya kita hrs didik diri kita sendiri dulu. belajar yg banyak, cari wawasan seluas2nya, bergaul dengan desainer lain, dll.

Ircuz Pastrana
January 22
oo.. gitu ya pak, jadi aku boleh menerima klien yg sperti apa saja ya. dan yg paling utama aku sendiri harus mempunyai patokan ato pondasi, harus mengerti ilmu mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik pada klien. terus bagaimana aku mensikapi klien” yg tidak mau tau tentang desain grafis, dan menganggap desain itu ya gitu” aja, hanya software dan selera, dan berlaku se.enak nya sendiri terhadap desainer grafis ?

Surianto Rustan
January 22
portfolio, uang, pengalaman, network, dll, itu semua adalah penghargaan2 yg akan kita terima kalau kita berprestasi, tapi sebelum itu seharusnya saya bertanya pada diri saya: standar kualitas saya bagaimana? sekali lagi bukan hanya di ilmu desain, tapi juga kemampuan introspeksi, kemampuan mendengarkan & berbicara, pemikiran bisnis, manajemen, dll.
itu dulu.
penghargaan2 psti akan menyusul belakangan.
bagi yg masih baru di industri ini, silahkan terima klien siapa saja tanpa terlalu melihat gaji, krn profit yg dibutuhkan bukan uang, melainkan: pengalaman, network, kepercayaan orang, portfolio, dll.
tapi bagi yang sudah kerja lama sbg desainer, sudah punya branding, pengalaman, network, dll. seharusnya harganya pun makin mahal, krn kualitasnya mungkin sudah jauh lebih baik dr pd seorang pemula.

Surianto Rustan
January 22
di belahan dunia manapun, kalau kita perhatikan, top designer adalah seorang yg ahli secara tukang, sekaligus seorang pemikir yg ulung. sebaiknya kita sendiri tidak ikut2an arus negatif, termasuk adanya jenis2 desainer, dll, kita harus ‘autis’. kalau tujuannya mau jadi desainer top, ya harus peka segalanya, belajar segalanya, sangat rendah hati & merasa kurang terus.

Ircuz Pastrana
January 22
ooo.. oke” ya ya ya.. aku baru mendapatkan jawaban yg pas untuk masalah ini, sebelumnya aku pernah menanyakan pada teman” senior dan di forum diskusi, jwaban nya kurang kuat. terima kasih pak surya. jawabannya sangat bermanfaat.

Surianto Rustan
January 22
halo Mas Pras, mohon maaf, tadi off sebentar
kalau boleh saya lanjutkan:

Ircuz Pastrana
January 22
ya pak gak pa” ..santai saja..

Surianto Rustan
January 22
yg saya maxud tukang disini adalah ahli soal craft-nya, keindahan, warna, huruf, detail, segala aspek dalam membuat desain tsb.
lagipula semua orang harus mulai dari nol. arsitek ternama harus belajar jadi kuli bangunan dulu, sutradara terkenal hrs mahir megangin lampu dulu, penulis terkenal waktu kecilnya harus belajar mengeja kata2 dulu. semua hrs bersakit2 dahulu, sedikti2 lama2 menjadi bukit, hukum ini berlaku pada tiap orang tanpa kecuali. yg instan cuma indomie dan cerita sinetron!

Ircuz Pastrana
January 22
oo.. iya ya,, jadi bukan ” tukang ” yag maen ceplak ceplok gambar dan huruf.. mungkin hard skill nya ya pak.. baru setelah itu soft skill .. komunikasi,
tapi bagaimana pak surya mensikapi klien” yg belum mengenal desain ? dan siapa itu desainer grafis ?

Surianto Rustan
January 22
menghadapi klien yg tidak menghargai, yah kita tidak tau masa lalu klien itu gimana. coba pikir, yg pasti mereka bukan desainer, mungkin mereka tidak lulus sd (byk org ga lulus sd tp jd jutawan), mungkin mereka dulu disixa ortunya shg sekarang mau menyixa kita [:)] dll, tapi itu semua seharusnya bukan dijadikan alasan mereka harus mengerti kita, justru kitanya yg harus sangat maklum & sabar, untuk itu kitanya harus menggali ilmu2 tadi itu: mendengarkan & berbicara. sudah banyak bukti bahwa dengan komunikasi yg sopan, sabar & baik, klien justru jadi tunduk sama kita.

Ircuz Pastrana
January 22
oalah.. jadi gitu ya mensikapinya ,, brarti desainer grafis itu profesi yag mnurut ku sangat bagus ya,, sealin dengan kelebihan” nya juga harus baik di karakteristiknya.

Surianto Rustan
January 22
tapi ya memang ada beberapa special case, dimana klien tsb sangat kepala batu walaupun sudah berhubungan lama dengan kita dan diberi penjelasan dengan sabar. untuk yg begini dia saya kasih harga khusus. bukan diskon, tapi sebaliknya: saya tinggikan harganya, jadi kalau dia mau syukur (saya masukkan dalam biaya sakit hati saya), kalau dia tidak mau ya sudah, masih banyak klien lain koq, tenang saja [:)]

Ircuz Pastrana
January 23
haha.. iya pak sabar ada batasnya.. kita harus tegas.
tapi bgini pak . bagaimana kalau aku tahu aku mendapat klien yg bagus kedepannya.. dari segi karakteristiknya mau tau tentang desain dan desainer grafis, dan juga kepengen dibuatin karya desain yang bener2 ” berat/berbobot ”. apakah aku akan memberikan semuanya langsung pada saat itu juga , atau aku aku putus” supaya aku masih bisa berhubungan lama dengannya ? kalo misal aku berikan semuanya langsung setelah itu apa. ya sudah habis.. ini lebih ke corporate identity pak ,, mungkin bisa memberi penjelasannya ?

Surianto Rustan
January 23
yg diberikan semuanya itu apa ya maxudnya? desainnya? ide2nya?

Ircuz Pastrana
January 23
iya.. ya mulai dari desainnya idenya semuanya ..apa juga perlu di beri step” nya .. yg padahal itu bisa saja diberi pada saat itu juga. supaya bisa berhubungan terus karna mendapat klien yg cocok.

Surianto Rustan
January 23
utk mendapat kepercayaan klien, kita harus tulus. itu kuncinya. tapi juga kita harus pintar, jgn sampai dimanfaatkan, krn itu saya tidak pernah mengirimkan desain hi-res pada klien, semua lo-res, sedangkan ide, sketsa, dll tidak pernah tertulis, tapi lisan atau dipresentasikan lewat powerpoint.
ide2 brilian kita harus dipresentasikan, supaya klien yakin & berpikir: “saya tidak cuma2 membayar orang ini”. begitu kita sudah dapat kepercayaannya, juga jangan lalu bermalas2an, ketulusan hati harus tetap dijaga sampai akhir kerjasama, harapannya utk dapat projek2 selanjutnya. berpikirlah jangka panjang.

Ircuz Pastrana
January 23
oo.. begitu ya,, wah aku belajar banyak sekali hari ini sama pak surianto rustan. terima kasih banyak pak. mungkin lain waktu aku bisa sharing” lagi sama bapak. jangan kapok ya pak .. hehe [:)]
seorang junior butuh banget belajar dari senior, supaya kelak bisa seperti seniornya. tq pak.

Surianto Rustan
January 23
hahaha saya sendiri juga masih belajar koq, baik kalau kita sama2 belajar, nanti kalau saya ada yg tidak tahu, saya tanya kamu juga ya

Surianto Rustan
January 23
Mas Praz, apa boleh percakapan kita ini saya upload ke blog, spy byk teman2 yg lain bisa belajar juga dari sini?

Ircuz Pastrana
January 23
hahaha, sama2 belajar pak, siap2.. sebisa mungkin saya bantu jawab.
oh, silakan pak dengan senang hati.