Survive & Sustain sebagai Desainer

Ini adalah bagian kedua dari dua tulisan. Bagian pertama: Desain Grafis di Indonesia dalam Revolusi Industri 4.0.

Di penghujung tahun 2017 lalu saya menghadiri acara Jakarta Creator’s Meet-up 2017 di salah satu resto di Jakarta Selatan. Yang datang adalah orang-orang dari komunitas para pembuat template dan mock-up, pembuat icon dan clip-art, para peserta kontes desain, komunitas pembuat stiker Line, pembuat stok foto, dan lain-lain. Dari pemula yang diajak teman, baru mau mencoba keberuntungannya, hingga yang sudah berkecimpung puluhan tahun dan kini memiliki tim dengan penghasilan ratusan juta perbulan.

Isi acaranyapun menarik. Jauh dari perbincangan desain, metode, maupun Design Thinking, materi yang dibawakan adalah tips mengelola Microsite (situs promosi karya pribadi yang berada di dalam situs portal besar), supaya karya kita laku di Market Place seperti Graphicriver, 99designs, Envato, Creativemarket, Shutterstock, dan lain-lain.

Dari sini, muncul pertanyaan-pertanyaan: mereka desainer atau bukan? Yang dikerjakan itu desain bukan? Siapakah yang berhak disebut desainer? Apa itu desain? Yang pasti, populasi para “Creator” ini sangat banyak. Salah satu komunitas saja mempunyai jumlah anggota lebih dari 33.000 orang, tersebar di seluruh Indonesia. Itu baru dari satu komunitas, belum dari komunitas lainnya yang semakin banyak bermunculan di berbagai daerah. Belum lagi yang tidak tergabung dalam komunitas.

Saya jadi berpikir, 513 Miliar Rupiah PDB (Produk Domestik Bruto) dari sub-sektor Desain Grafis tahun 2015, mungkin lebih banyak dihasilkan oleh para “Creator” ini, dibandingkan agensi-agensi desain besar nan gemuk yang lebih rentan terhempas Revolusi Industri 4.0.

Desain telah berubah sejalan dunia yang berubah. Desain grafis sekarang jadi Sub-dominan, bukan Dominan lagi seperti dulu. Di luar sektor hulu seperti Brand Identity, desain makin melebur sebagai supporter bisnis, teknologi, dan disiplin lainnya. Eksistensinya makin tidak kentara. Mindset baru ini sebetulnya yang perlu dimiliki oleh seluruh stakeholder: pihak pemerintah penyusun regulasi, pihak asosiasi yang mengatur, penyedia jasa pendidikan, pengguna jasa desain, dan desainernya sendiri.

“Lulusan DKV mendirikan agensi desain grafis”. Pernyataan ini bisa berlaku umum di tahun 1980-an, tapi apakah masih berlaku umum sekarang ini? Apakah sebagian besar lulusan DKV bisa survive mendirikan agensi desain grafis? Mungkin jawabannya ya, tapi apakah sustain? Sampai berapa lama agensi bisa survive dengan menjual jasa desain grafis saja? 5 tahun? 10 tahun?

Melihat seluruh fenomena ini saya jadi berpikir, mungkin yang bisa survive dan sustain justru para Creator pembuat aset-aset desain, yang menjawab kecenderungan jaman secara lebih realistis. Juga para desainer produk, karena produk bisa diraba, dilihat, dicium, dibandingkan riset dan strategi yang dianggap mengada-ada (di luar sektor hulu desain: Brand Identity).

Lagipula, berapa banyak orang yang berprofesi desainer grafis di Indonesia? Seratus ribu orang? Sejuta? Sepuluh juta? Secara de facto mungkin banyak, tapi secara de jure? Berapa orang yang memiliki sertifikat profesi sebagai desainer grafis?
Ini semua adalah persoalan internal yang kita hadapi sejak dulu kala dan belum juga selesai hingga sekarang.

Jadi tidak cukup dihantam dahsyatnya tsunami Revolusi Industri 4.0, persoalan internal keprofesian, belum lagi masalah mutu pendidikan DKV di Indonesia. Endapan masalah ini seperti efek domino terhadap hal-hal yang kita temui sekarang: siapapun bebas menjadi desainer, bebas menafsirkan desain, bebas meniru, bebas memberi harga, bebas menawar harga, bebas menggratiskan, dll
__________

Ditulis oleh Surianto Rustan. Ini adalah bagian kedua dari dua tulisan. Bagian pertama: Desain Grafis di Indonesia dalam Revolusi Industri 4.0.

Desain Grafis di Indonesia dalam Revolusi Industri 4.0

Ini adalah bagian pertama dari dua tulisan. Bagian kedua: Survive & Sustain sebagai Desainer.

Dinamika desain grafis/komunikasi visual selalu terkait erat dengan perkembangan teknologi. Apabila kita menengok ke belakang, ketika teknologi informasi mulai menguasai dunia di pertengahan 90-an, di Indonesia terjadi ‘penggusuran’ besar-besaran terhadap desainer manual. Profesi seperti paste-up artist, tukang setting, tukang stensil, digantikan oleh desainer pengguna komputer. Saat itulah masuknya arus besar Revolusi Industri 3.0.

Sekitar tahun 2010-an, aktivitas desain grafis instan makin marak. Penggunaan desain siap pakai, seperti template, mock-up, clipart menggantikan desain yang dimulai dari nol dan riset yang dianggap mahal dan bertele-tele. Akibatnya desain makin tidak dipandang sebagai proses mencari solusi, melainkan hanya sekedar make-up/dekorasi.

Dengan cara berpikir semacam itu, mulailah bermunculan kelompok-kelompok desainer di kampung. Para petani, buruh pabrik, kuli bangunan kini beralih profesi menjadi desainer kontes-kontes desain di internet. Bagaimana tidak alih profesi? Upah buruh yang sebelumnya Rp.450.000,- perbulan, setelah menjadi desainer kontes bisa naik menjadi Rp.20.000.000,- perbulan, apabila sering menang kontes.

Fenomena di atas merupakan beberapa manifestasi dari Revolusi Industri 4.0 di bidang desain grafis di Indonesia. Dalam konteks desain yang telah bergeser ini, siapapun bisa menjadi desainer. Bahkan teknologi perangkat genggam dan aplikasinya sekarang sangat memungkinkan kita untuk mendesain kapanpun dan di manapun melalui puluhan apps desain instan yang siap diunduh dan digunakan secara gratis!

Dalam surat kabar Kompas 3 Mei 2017 mengenai dampak Revolusi Industri 4.0 terhadap bidang-bidang profesi, diprediksi pekerjaan desainer grafis/komunikasi visual akan tetap ada. Prediksi tersebut mungkin benar, namun substansi desain dan pelakunya di masa depan makin berubah. Berikut ini adalah beberapa prakiraan para ahli mengenai pengaruh Revolusi Industri 4.0 terhadap bidang Desain Grafis/Desain Komunikasi Visual:

– Semua peralatan kerja akan saling terhubung di internet (IoT/Internet of Things), dan kecerdasan buatan (AI/Artificial Intelligence) ditanamkan di dalamnya. Rob Girling (konsultan desain Artefact) memperkirakan: software/apps desain grafis akan membuatkan ratusan alternatif layout/logo dalam seketika, pengguna tinggal menyediakan teks dan gambarnya saja.

– Karena pekerjaan mendesain makin dipermudah, maka bisa dilakukan oleh siapapun. Imbasnya, menurut Duane Bray dari Ideo: kelak posisi desainer tidak harus dipegang oleh yang berlatar belakang desain, yang penting berpikiran terbuka dan punya niat belajar tinggi.

– pencetakan tiga dimensi (3D printing), robotik, VR/Virtual Reality, AR/Augmented Reality akan menjadi hal yang umum. Menurut John Maeda (desainer dan teknolog): desainer akan terbagi menjadi dua jenis, yaitu Desainer Klasik, contohnya Desainer Grafis, Desainer Interior, dan Desainer Komputasional (computational designer), yaitu mereka yang berkecimpung dengan kode dan program. Desainer komputasional ini bersifat hybrid (kombinasi), bisa mengerjakan desain klasik, juga akrab dengan teknologi. Kepala jurusan Integrated Design Universitas Texas, Doreen Lorenzo bahkan memperkirakan peran Desainer Klasik akan segera mati dan digantikan oleh kecerdasan buatan, di masa depan semua desainer akan menjadi hybrid.

– Lama-kelamaan desain bukan lagi sebuah bidang yang berdiri sendiri, keberadaannya makin lama makin tidak kentara karena ia melebur dengan bisnis, teknologi, pendidikan, dan disiplin lainnya. Batasan antara area desain dan yang lainnya akan semakin kabur. Menurut Cees de Bont (Dekan School of Design, Universitas Politeknik Hong Kong): ditengah kondisi seperti itu desainer perlu memperluas pengetahuan akan bidang-bidang di luar desain, serta keterampilannya dalam hal teknologi, komunikasi dan bisnis.
_____

Ditulis oleh Surianto Rustan sejak Mei 2017 atas keresahan yang telah dirasakan sejak 3 tahun sebelumnya. Ini adalah bagian pertama dari dua tulisan. Bagian kedua: Survive & Sustain sebagai Desainer.

Usulan judul skripsi, dan ukuran huruf untuk indoor & outdoor

Wed, Apr 9, 2014 at 3:39 PM

Saya mahasiswa akhir Mediakom Trisakti, sedang Skripsi pak saya mau Analisa Desain Iklan Outdoor Pada Rangkaian Kereta Api Commuterline Bogor – Jakarta Dalam Perspektif DKV dan sebagai Judul Skripsi saya Mohon Saran.

Thu, Apr 10, 2014 at 1:05 PM

Mungkin judulnya: Kajian Desain Iklan Outdoor Pada Rangkaian Kereta Api Commuterline Bogor – Jakarta

Begitu Mas.
Tapi sesungguhnya mengenai struktur kalimat pd judul skripsi sebaiknya ditanyakan pd pembimbing masing2, krn setau sy beda perguruan tinggi, beda caranya.

Sat, Apr 12, 2014 at 11:53 AM

Siap bang terimakasih….
oh iya ada gak buku tentang berapa besaran huruf yang baik pada indoor atau indoor dalam pengaplikasiannya, juga layout yang baik pada outdoor, saya sudah cari-cari gak ada mungkin abang punya referensi, soalnya dibuku abang mengenai layout dan huruffont itu gak ada juga, terimakasih sebelumnya
sukses bang

Mon, Apr 14, 2014 at 8:22 AM

Halo Mas, silahkan donlot artikel dari CRC, judulnya:
Wayfindingdesignguidelines.pdf
di: http://eprints.qut.edu.au/27556/
nah di buku acuan itu ada bagian mengenai ukuran huruf yang tepat untuk jarak pandang tertentu dalam wayfinding.
Mdh2an berguna.

Kalau mau berkarier di DKV perlu kuliah atau tidak?

Thu, Apr 3, 2014 at 9:34 AM

Selamat Pagi Pak Surianto.

Pertama, saya senang sekali dengan isi web anda pak, saya banyak mendapat pengetahuan. saya ingin bertanya pada bapak untuk

1. Saya menemukan passion terhadap Desain, tapi saya tidak memiliki dasar pendidikan desain. Saya sudah S1 jurusan SI, saya memang salah jurusan, tapi ingin berkarya dan berkarir di dunia desain apa yang harus saya lakukan? karena kalau saya mengambil lagi kuliah jurusan DKV itu kurang memungkinkan?

2. berhubungan dengan pertanyaan sebelumnya, saya sudah memahami beberapa konsep dan teori DKV (dari buku dan artikel). tapi saya tidak punya validasi pendidikaan untuk meyakinkan saya berkarir di dunia desain. apakah berpengaruh besar terhadap kualifikasi perusahaan??

Terimakasih atas waktu bapak jika berkesempatan menjawab pertanyaan saya.

Thu, Apr 10, 2014 at 10:28 AM

Halo Mas,
ini mohon maaf baru bisa balas sekarang.
1. mungkin sebaiknya ambil kursus saja, karena kalau S1 makan waktu terlalu lama dan terlalu banyak tetek-bengek mata kuliah yang tidak terlalu kontekstual denga bidang desain. tapi kalau ditanya kursus desain mana yg baik, saya tidak bisa menjawabnya, karena tidak mendalami hal ini. baik bila Mas googling dulu, lalu survey ke tempat kursus bersangkutan, tanya harga, programnya, dll.
Di luar pendidikan formal, sebetulnya banyak teman2 desainer, terutama di daerah, otodidak belajar sendiri lewat internet, banyak baca, banyak tanya, ikutan lomba2 desain, jadilah percaya dirinya terbangun lewat aktivitas itu, dan akhirnya berani memutuskan utk buka agensi desain sendiri. jaman sekarang kan sumber ilmu hampir semuanya bsia diakses secara gratis di internet Mas, jadi kesempatan bagi kita utk belajar & bisnis desain sangat terbuka lebar. toh keberhasilan masing2 orang bukan ditangan siapa2 (juga bukan karena lembaga pendidikannya) tapi ada pada diri pribadi.

2. memang kalau sasarannya bekerja sebagai karyawan di perusahaan / agensi desain, tentunya hrs punya background pendidikan desain, karena itu sebagai syarat mereka dalam memilih karyawannya. tapi kalau bekerja sebagai wiraswastawan di bidang desain, siapapun bisa melakukannya. ga usah jauh2, banyak sekali contohnya, misalnya yg low level: digital printing sangat menjamur, di setiap perusahaan digital printing pasti ada operator software desainnya, walaupun mereka bukan desainer yg mengenyam pendidikan, tapi minimal bisa hidup. nah apalagi yang berusaha belajar menggali ilmu seperti Mas Arya, seharusnya sih bisa jauh lebih berhasil daripada mereka.

Nah, ada 1 lagi tips yg mungkin berguna Mas: di jaman yg lagi trend wiraswasta ini, bagi desainer, yg dibutuhkan tidak hanya ilmu desainnya, tapi ada 2 keterampilan lain yg saya rasa sangat krusial:
– ketrampilan komunikasi: berbicara, mendengarkan, bertanya, diskusi, presentasi, negosiasi, dll
– ketrampilan bisnis: merencanakan bisnis, mengatur keuangan, mengatur tenaga kerja, mengatur jadwal pekerjaan, surat-menyurat (utk keperluan penawaran desain, kerjasama, dll)

Dan sumbernya semua banyak sekali di web, gratis. banyak ebook dan website yg memberikan tips2 yg sangat baik utk berwiraswasta (apabila tertarik, saya bisa membantu merekomendasikan judul / link-nya). walaupun itu bikinan luar, namun tentunya juga bisa diterapkan di sini. kendala bahasa tidak perlu dikhawatirkan, kan ada google translate, walaupun tidak sempurna, namun kita bisa mengerti intisari yg dibicarakan.

sementara sekian dulu Mas.

Thu, Apr 10, 2014 at 3:27 PM

Hi, Pak Surianto

terimakasih atas waktunya untuk menjawab pertanyaan saya, sangat membantu. saya akan coba terapkan pak kucuran ilmu nya.

salam hormat

Perbedaan istilah Sign System dan Signage

Mon, Mar 31, 2014 at 5:11 PM

Selamat sore Pak Rustan,

Saya yang waktu itu minta referensi teori mengenai wayfinding dari Pak Rustan. Saya menemukan satu teori yang ada di buku Pak Sumbo Tinarbuko yang berjudul “Semiotika Komunikasi Visual” nih Pak..

Apakah Pak Rustan punya/tau siapa yang punya buku tersebut? Sebab saya mencari di Gramedia tidak ada, di toko buku online pun stok sdh habis katanya.. Di perpustakaan UI, UNTAR, DIKNAS juga tidak ada..

Mohon infonya yah Pak kalau2 Bapak tau..
Terima kasih banyak Pak Rustan 🙂

Mon, Mar 31, 2014 at 5:41 PM

Wah sy ga punya bukunya. Btw teorinya apa? Nanti sy bs cariin dr sumber lain di web, kan sama aja.

Tue, Apr 1, 2014 at 1:55 AM

Oh oke Pak, gak apa2 nanti saya coba cari2 lagi hehe.
Hmm teorinya ttg definisi sign system sih..
Saya jg ada bingung nih Pak, apakah sign system dan signage itu berbeda? Sebab saya tdk menemukan teori atau pendapat ahli mengenai hal ini Pak..

Kalau menurut Bapak bgmn?
Dan kalau saya mau buat sistem wayfinding di Stasiun Jakarta Kota, apakah lbh cocok sign system / signage (kalau pun berbeda) ?

Sebelumnya terima kasih banyak yaa Pak.. Saya tau Bapak pasti sibuk, jd saya terima kasih sekali Bapak mau bantu saya dari kmrn inii.. :”)

Terima kasih Pak..

Tue, Apr 1, 2014 at 9:08 PM

jadi memang kita harus hati2 terhadap istilah. yg kamu maksud ‘sign system’ itu sebenarnya istilahnya: environmental graphic design (EGD) – yg berkaitan dengan wayfindings, signage (penunjuk arah, dll).

masalahnya istilah ‘sign system’ itu bukan istilah eksklusif hanya milik desain grafis / dkv. malahan istilah tersebut sudah sejak lama akrab duluan di kalangan para peneliti semiotik. singkatnya silahkan baca yg ditulis oleh wikipedia:
http://en.wikipedia.org/wiki/Sign_system

nah saya yakin teori yg kamu temui di buku Sumbo tsb adalah ‘sign system’-nya semiotik, bukan miliknya EGD. jadi kalau mau tau mengenai EGD silahkan ke wikipedia lagi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Environmental_graphic_design

kalau tema TA mu adalah EGD, ya berarti salah arah kalo nyarinya di semiotik 🙂

gitu. smg lancar TA-nya

Tue, Apr 1, 2014 at 11:28 PM

Oh begitu Pak..
Oke deh makasih banyak yaaa Pak Rustan 😀
Sip akan saya gali lagi dari EGD.

Diajak ikut lomba poster

Tue, Mar 25, 2014 at 6:42 PM

Pak kebetulan sy diajak untuk mengikuti lomba menggambar poster tapi sy binggung pak karena baru pertama ikut.
Apakah bapak bisa memberi tau apa saja yg harus diperhatikan jika kita mengikuti lomba menggambar poster??
Terimakasih

Tue, Mar 25, 2014 at 7:03 PM

Halo,
yang paling penting, pertama kita harus bisa menjawab dulu: 5w:
what (apa): poster apa yang akan dibuat? misal: poster acara sekolah
why (mengapa): apa latar belakang poster tersebut harus dibuat? misal: utk mengajak murid2 berpartisipasi mengikuti acara tersebut
who (siapa): ditujukan pada siapa yang akan membaca poster tersebut? misal: anak2 SMP
where (di mana): di mana acara akan diadakan?
when (kapan): kapan akan diadakan acara tersebut?

nah kalau ini sudah dijawab semua, maka silahkan mulai membuat sketsa dengan beberapa alternatif yang berbeda, misal 5 alternatif pilihan, sehingga nanti tinggal dipilih yang paling baik.

Ini beberapa tambahan dari saya:
silahkan dibaca2 dulu mengenai riset. walaupun topiknya bukan poster, namun ini berlaku untuk semua bentuk desain:

Metode mendesain maskot


baca juga yg ini:
http://www.suriantorustan.com/tag/riset/

Ruang kosong pada desain, Nirmana, dan susah cari buku desain

Mon, Mar 10, 2014 at 3:36 PM

Sore pak…… apakabar ??
pakk saya kasih teknik dan tips dong untuk mengisi ruang kosong pada design …
terima kasihhhhh

Mon, Mar 10, 2014 at 8:01 PM

halo Mas,
lho, mengapa ruang kosong harus diisi?
justru ruang kosong (white space) diperlukan utk:
– memberi jedah supaya mata pengamat bisa beristirahat
– menjadi pemicu agar mata pengamat tertuju pada objek yang kita inginkan untuk dilihat.
– sebagai ‘frame’ objek.
– sebagai penyeimbang komposisi layut.
jadi white space itu tidak selalu harus diisi, justru yg harus dilakukan adalah membuat komposisi seimbang dengan menggunakan elemen2 seadanya, tidak perlu diada-adakan.

bahkan ada ebooknya lho:
whitespace is not your enemy – kim golombisky

baca juga wikipedia:
http://en.wikipedia.org/wiki/White_space_%28visual_arts%29

Tue, Mar 11, 2014 at 12:53 PM

oke pak paham..
oiyaaa berulang kali saya dengar istilah nirmana udah saya pelajari secara teori tpi g paham penerapan langsung nya dalam desain itu gmna pak (maklum otodidak) mohon dijelaskan yaa pakk

Thu, Mar 13, 2014 at 9:43 PM

Setelah mengalami diajari dan mengajar nirmana juga, maka kesimpulan saya nirmana itu lebih bersifat ‘training’, semacam latihan dalam hal kepekaan terhadap elemen-elemen desain dan penataannya, serta pengaruhnya terhadap persepsi.

jadi nirmana ini semacam latihan ‘soft skill’, bukan ‘ilmu siap pakai’, butuh pengolahan lebih lanjut oleh si desainer sehingga ia bisa menerapkannya di proyek desain real. jadi sifatnya tidak bisa langsung diterapkan seperti ilmu layout, atau packaging.

Demikian Mas.

Thu, Mar 13, 2014 at 10:20 PM

terima kasih pak penjelasannya..
oiya pak ngomong2 soal buku, susah bener ya cari buku design ditoko buku, alih2 cri buki design yg ada malah, “tips corel draw” “cara membuat font” manipulasi foto dll.. tpi yg lebih ke anatomi design susah cari nya..
knapa bsa gtu pak ? dan beli nya dmna ya pak ?

Fri, Mar 14, 2014 at 4:12 PM

halo Mas,
itulah cerminan kondisi masyarakat kita yg ga tau tentang desain itu apa. mereka taunya bhw desain itu software saja, kosmetik, dll. btw apa sudah baca artikel saya di:
http://www.suriantorustan.com/bukamata-3-mitos-fakta-desain-grafis/
di situ ada artikel mitos & fakta desain grafis, ya seperti itulah kira2 yg terjadi di masyarakat kita. mau beli buku desain (yg bukan cuma software) memang sulit, lah wong bukunya juga cuma bisa dihitung jari saja 🙂

inilah salah satu alasan saya mengapa menulis buku2 desain, supaya masyarakat melek desain 🙂