Apa saja faktor yang menentukan harga desain? profesionalisme? lamanya pengerjaan? banyaknya permintaan klien? Bagaimana dengan maraknya jasa desain online yang murah?

Augusty Katherina
Selamat Sore Pak Rustan..

Ngobrol lg ya pak..
Saya masih dibingungkan dengan bagaimana untuk mematok harga desain. Apa saja yg mendasari penentuan harga desain. apakah profesionalisme /lamanya pengerjaan /banyaknya permintaan klien /…..

Saya masih mengerjakan proyek sebelumnya, pertama klien minta desain kemasan kopi kemudian nambah lagi (stiker, banner, spanduk, seragam, table menu, tshirt utk gift) utk keperluan kafenya.
dan saya blm menentukan harga, terus terang pak saya masih bingung soal harga desain. saya takut kerendahan /ketinggian ngasi harga. Tp saya jg pengen desain saya dihargai. krn saya jg kerjakan melalui proses berpikir.

Saya pernah searching ttg harga desain, kmdian saya ceritakan kpd teman saya dan dia blg “itu yg sdh profesional kali”. Memang bs diblg saya blm ckp berpengalaman, tp setiap mendesain saya selalu kerjakan dgn dedikasi. dan menjlnkan proses desain (riset, analisis, brainstorming, desain). Saya tdk ingin disamakan dgn “tukang desain” (desain tanpa berpikir).
Sblm klien saya mempercayakan saya utk mendesain, dia pernah memperlihatkan desain yg tlh dibuat sblmnya oleh desainer lain(yg sdh bekerja diperusahaan desain), namun desainnya sgt mengecewakan klien, saat saya lht jg desainnya terlihat tdk “baik”.
Dlm menentukan harga saya jg tdk mau dilemahkan dgn kata ‘blm profesionalisme’. Dan bagaimana bila klien sgt puas dgn desainnya.
Lalu mnrt pak Rustan bagaimana?

Ada rumus harga desain ga pak? 🙂

Sebelumnya terimakasih pak sudah mau berbagi.
God Bless.

surianto rustan
Halo Katherina,
mohon maaf baru bisa balas sekarang,
Mengenai harga desain, ini saya paste cuplikan2 hsl saya diwawancara oleh teman2 lain ttg topik yg sama mudah2an bisa membantu:

8. Saya kan seorang calon desainer, dan dalam perjalanan desain saya cukup banyak order yang masuk. Sampai sekarang saya masih bingung
bagaimana saya memberikan tarif harga. Saya bimbang, apakah saya harus memberikan tarif harga pada umumnya, atau pasrah saya jika penawaran rendah (setidaknya lumayan dapat pengalaman dan portfolio)? Dulu pengalaman bapak bagaimana?

Dulu saya juga dibayar rendah koq. Maklumlah, masih kuliah atau baru lulus kuliah, punya pengalaman kerja apa? Paling2 portfolio yg kita
tunjukkan pada klien adalah tugas2 kuliah, bukan real project. Nah yg perlu diingat adalah: profit seorang desainer tidak hanya berupa uang, tapi sangat penting juga: pengalaman (pengalaman mendesain agar makin mahir, pengalaman menghadapi klien, dll), portfolio, link / relasi (mendapat channel / relasi2 bisnis yang baru), promosi (apabila karya kita bagus dan klien senang, mungkin dia akan umumkan ke teman2nya mouth to mouth, ini jadi promosi gratis buat kita), berkah & doa (apabila klien senang dan merasa terbantu, maka ia akan berterima kasih pada kita dan mungkin mendoakan kita), bukankah semua ini profit yang luar biasa?

Untuk seorang pemula, cara menghitung harga desain bisa berdasarkan man-hours atau man-days. perkirakan berapa lama waktu yg dibutuhkan utk mengerjakan desain tersebut, kalikan dengan harga perjam atau perharinya. sedangkan harga perjam atau perharinya dihitung dari ongkos2 yang dikeluarkan untuk mengerjakannya (listrik, internet, komputer, uang kost, makan, minum, transport ke kantor klien, dll)
dalam sehari / sejam. maka nanti akan ketemu perkiraan harganya.

Apabila kamu sudah 5 tahun kerja, portfolio dan link sudah banyak, barulah silahkan tambahkan harga personal-mu, berdasarkan seberapa
besar personal brandingmu.

10. Dan dalam penentuan masalah tarif harga, bagaimana perubahan patokan tarif harga dari seorang desainer pemula sampai menjadi
seorang desainer yang terkenal seperti bapak ini?

Aduh, saya masih amatiran gini koq. mengenai tarif, ya itu tadi, setahun bekerja, 5 tahun bekerja, 10 tahun, 20 tahun, pasti seharusnya
tambah mahal, kan portfolio & list klien sudah panjang. Nah kalo saya harga saya naikkan begitu saya mengajar jadi dosen, pas buku-buku saya terbit, bergabung dalam komunitas desainer grafis, dan sejak menjadi pembicara, dll. karena semua itu menjadi bargaining power kita / jd punya kekuatan atas harga. cara lain adalah: memenangkan kompetisi desain, punya klien perusahaan besar, menjadi juri lomba desain, dll.

12. Bagaimana saran bapak dalam menangani customer yang banyak maunya, tapi menaruh harga patokan yang sangat rendah? saya masih sangat bingung dalam menego harga, tapi tetap ingin memberikan kesan baik pada customer.

Nah untuk itulah kita sebagai desainer harus kenal apa itu desain grafis, apa bedanya dengan hiasan / dekorasi semata, kenapa harganya tidak murah, mengapa harus riset, bagaimana tahapan kerja mendesain, dll. Desainer itu kalau mau dihargai (termasuk dihargai karyanya) pertama-tama harus menghargai dirinya dulu, dengan apa? dengan baca, mempelajari, cari tau siapa dirinya sendiri, apa kekuatan saya, di
mana kelemahan saya, dll. Jadi pertama2 sebelum minta dihargai, tolong hargai diri sendiri dulu.

Kedua, harus tau mengapa klien dan masyarakat bisa berpikiran begitu terhadap desain, mengapa mereka menawar serendah2nya, apa sebabnya? apakah cara komunikasi saya yang kurang baik? apa penampilan saya kurang meyakinkan? apa saya sudah berbicara dengan cara pandang si klien? atau saya masih menganggap klien juga tau desain? apakah saya dapat menerangkan apa itu desain grafis kepadanya? dll.

Utk klien yg cerewet, saya memandangnya sebagai sasaran edukasi saya, ini dia org yg tepat utk di edukasi mengenai desain grafis, tentunya
dengan cara2 yg sopan & tidak menggurui. Bila ia tetap tidak mau mengerti ya sudah terima saja perlakuannya tapi dengan tanpa
menurunkan harga saya, tinggal dia mau terima atau tidak. apabila tidak, ya mungkin ia cukup dengan desain yg kualitasnya yg lebih
rendah, kan memang ada kelas2 desainer dan target grupnya sendiri. Toh jodoh & rejeki di tangan Tuhan. Daripada saya menurunkan harga (nanti desainer lain marah / yg paling buruk: profesi desainer grafis jadi mati), lebih baik saya bertahan. Biasanya sih kalau 1 klien ga jadi, 3
klien gol.

8. bagaimana cara bapak untuk menghargai (memberi harga) karya yang sudah bapak ciptakan?

Tentunya saya menghitung dulu basic resource yang saya pakai untuk membuat proyek tsb, yaitu waktu, uang, tenaga, tenaga lain yang saya
kontrak, + biaya produksi (kalau termasuk dalam kontrak), setelah itu saya tambahkan presentasi tertentu sesuai dengan brand value saya saat
ini. Tapi tidak tertutup kemungkinan hal-hal lain juga masuk dalam perhitungan, misalnya: tingkat kesulitan pekerjaan yang sangat tinggi,
besar-kecilnya perusahaan / banyak-sedikitnya produk, jauh-dekatnya klien (transportasi), dll.

Saya juga menyarankan kamu untuk membaca2 website saya di bagian learning, karena semua wawancara dan tanya jawab dengan teman2 lain ada di situ, untuk melengkapi pertanyaanmu soal tarif desain.
http://www.suriantorustan.com/en/learning/

atau bisa juga ke klinikonsultasi di blog saya:
http://surianto.wordpress.com/category/klinikonsultasi-2/

Nah, seandainya setelah baca2 masih bingung dan ada yg mau ditanyakan soal tarif, jangan sungkan2 tanya lagi ya.

Suxeselalu!

Augusty Katherina
Terimakasih pak Rustan..
Saya pelajari dulu pencerahan dr pak Rus, sambil ngitung2 hehe…

Skrg saya mo nanya tentang maraknya jasa desain yg ditawarkan dengan harga murah bahkan yg nerima online jg semakin banyak. Menurut pak Rus gimana ttg hal ini?

Suxes jg pak 🙂

surianto rustan
yah itu tidak dapat dielakkan, pada akhirnya memang ada kelas2 desainer, ada yang kelas 50rb, ada yg kelas 500rb, ada yg kelas 1 juta, 5 juta, 10 juta, 100 juta, 1 M, dll.

desainer tidak bisa hanya menguntungkan dirinya sendiri dan keluarganya saja, tapi berkaitan dengan seluruh desainer lain. satu orang mematikan harga maka terjadilah perang harga murah2an sampai gratis.

Desainer sepantasnya meningkatkan kualitas pribadi dan kualitas karyanya, tidak hanya cari uang cepat. kalau kualitas dirinya baik, belajar terus, belajar komunikasi yang baik, cara bicara dengan klien, cara bisnis yang baik, belajar marketing, belajar bahasa asing, memperdalam pengetahuan tentang desain, bergaul dengan desainer lain sampai ke luar negeri, maka kita tidak perlu berebut sepotong kue lokal, tapi bisa bikin sendiri kue sebesar yang kita mau yang lingkupnya internasional. pasar tidak cuma di Indonesia, tapi juga di luar negeri. mengapa tidak
berani? karena minder, tidak bisa bahasa inggris, mengapa pengetahuan desainnya sedikit? karena tidak bisa bahasa inggris, sedangkan buku2
desain (wong asal ilmunya dari Eropa) rata2 berbahasa Inggris. tidak pede? minder? itu karena tidak mau belajar, bukan karena kemampuan
otaknya yang terbatas. orang yang tidak begitu cerdas bisa jadi mahir sekali karena rajin belajar.

jadi perdebatan yang selama ini kita dengar tentang adu murah harga di dalam negeri, itu sikut2an sendiri antara pihak2 yang mungkin minder karena tidak meningkatkan kualitas dirinya sendiri dan karyanya. kemajuan desain grafis negara ini semua ada di tangan para pelakunya sendiri.

lebih jauh lagi silahkan baca artikel tanya jawab yg ada di website & blog saya, sudah sering sekali hal ini dibicarakan & didiskusikan,
jangan sampai ketinggalan berita, jadi silahkan disharekan ke sebanyak2nya teman agar makin banyak orang mengerti.

Daaaaaa..

Apa bedanya pekerjaan desain kontes logo VS proyek dari klien betulan?

A.C.
masih sibuk ya, pak? [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
sok sibuk tepatnya, sy belum komen ya?

A.C.
September 30, 2011
hehe.. belum.. [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
bntr ya
wah karyanya sudah banyak sekali, ini mah saya aja kalah ni

A.C.
September 30, 2011
sy korban kontes soalnya, pak
msh susah klo nyari real client [:(]

Surianto Rustan
September 30, 2011
gpp, yah semuanya pasti ada kelebihannya ada kekurangannya. dg real klien emang sih cape bgt tp kita sgt didewasakan secara pribadi

A.C.
September 30, 2011
mohon wejangannya, pak [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
wejangan apa nih?

A.C.
September 30, 2011
buat karya dan karir sy.. [:D]
klo dibandingin karya orang2 yg punya jalur akademis pasti punya sy msh jauh banget ya, pak?
gmn caranya biar bisa ngejar?

Surianto Rustan
September 30, 2011
hmm.. menurut pengalaman saya sih guru yg paling baik itu adalah pengalaman. coba perbanyak pengalaman dengan real client (bisa tanpa perlu meninggalkan pekerjaan yg ini – kompetisi), jadinya diri kita lebih kaya nantinya, bukan soal uang, tapi perkembangan kepribadian. sekolah ga terlalu menentukan koq, banyak juga yg sekolah formal tapi kalau memang malas atau ga ada keinginan belajar, ya sama saja. keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa kuat keinginan kita itu utk berhasil

Surianto Rustan
September 30, 2011
sekolah, latar belakang keluarga, teman, dll ga lagi mempengaruhi. cuma diri kita sendiri.
dinding penghalang kemajuan kita ya diri kita sendiri juga

A.C.
September 30, 2011
klo dinilai, kira2 karya sy dpt nilai apa, pak?
apa yg perlu ditingkatkan?
*kadang pengen juga dpt studi kasus layaknya mahasiswa, trus dinilai sm dosennya [:D]

Surianto Rustan
September 30, 2011
masalahnya desain grafis ga cuma sekadar hiasan / visual, yg dinilai dari penampilannya saja, tapi desain grafis itu satu paket dengan segala konsep di belakang karya tersebut. ini juga mungkin bedanya real klien dengan yg tidak, kalo ada real klien, kita berhadapan dengan real problem, kudu tau target audience-nya siapa, tau persis siapa perusahaannya, dia punya anak perusahaan ga, apa produknya, siapa pesaingnya, dll. dari situ semua baru menyusun strategi komunikasi (belum visual), terakhir baru visualnya. jadi penilaiannya ga cuma: bagus, jelek, ato secara visual saja, dan membuatnya / pendekatan visualnya tidak cuma disesuaikan dengan sektor industrinya / bidang pekerjaannya saja, tapi bisa juga dari spirit / jiwa si perusahaan, ato kecenderungan si target audience, atau bahkan ke hal2 yang spontan sifatnya seperti bentuk bangunannya yg unik, atau karyawannya yg semua orang muda, dll. itu yg setahu saya

A.C.
September 30, 2011
sy catat bener2, pak [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
desain grafis itu pemecahan masalah, memang hasil akhirnya berbentuk visual, tapi sebetulnya itu hrs bisa memecahkan masalah si klien, apakah itu meningkatkan penjualan (misal iklan produk, packaging, sign di rak toko), meningkatkan awareness thd produk tsb (iklan branding), mengajak target audience datang ke tempat tsb (display toko / pameran, iklan event), mengidentifikasi (logo perusahaan, produk & identitas visual lainnya), dll. kalau desain itu tidak bisa memecahkan masalah si klien itu desain yg tidak efektif – dianggap gagal.

Surianto Rustan
September 30, 2011
logo nantinya digunakan oleh si klien utk memperkenalkan diri, dipakai di segala produknya, di billboard, di koran, di tv, dll. akan digunakan utk identifikasi & jualan & mewakili brand / citrasi si klien, mungkin hal itu akan berlangsung selama 10 tahun sebelum logo itu diganti lagi. klien akan keluar uang sangat banyak utk itu semua. sayang kalau logonya hanya sekedar visual & dibuat lewat pendekatan yg hanya dari 1 sudut saja. not fair.

A.C.
September 30, 2011
kliatannya perlu baca ulang buku ‘mendesain logo’nya pak rustan nih..
sy baca lagi

Surianto Rustan
September 30, 2011
hehe yah saya sendiri masih belajar koq Mas, bukan cuma spy tambah pinter tapi spy tambah bijak [:)]
btw mohon maaf sekiranya ada kata2 yg kurang berkenan, namanya juga manusia jd suka salah bicara, harap maklum [:)]

A.C.
September 30, 2011
kata2 pak rustan tu halus banget+wise kok, pak
sy dpt ilmu banyak

A.C.
September 30, 2011
kira2 ada contoh brief dr real client+real case yg bisa sy lihat gak ya, pak? mungkin juga hasil desain dr brief itu
biar sy bisa belajar dr contoh riil..

Surianto Rustan
September 30, 2011
di buku logo saya da Mas Abi, halaman 37-38, itu klien saya beneran

A.C.
September 30, 2011
contohn brief yg di halaman itu brarti apa memang gk ada brief tertulis dr klien..
jd pak rustan yg riset & wawancara sendiri gitu?
lalu,rumus semiotika untuk menentukan visualisasi dr tiap keyword yg didapet dr brief tu gmn biar bisa pas?
*maaf ya, pak klo banyak nanya & pertanyaannya belibet
maklum,orang awam…

Surianto Rustan
September 30, 2011
sori barusan aku ke bawah bentar.
desainer sebaiknya selalu menganggap dirinya adalah pemberi solusi, klien itu tidak tau apa2 tentang desain krn itu mereka datang pada kita, mereka butuh solusi. utk mencapai solusi tsb kita yang guide mereka tahap2nya, krn kita yg tau seluk beluk desain.
setelah mengetahui klien itu siapa & apa problemnya, saya beri mereka kuesioner yg hrs mereka isi, selain itu juga saya interview. nah yg di buku logo tsb adalah hasil kuisioner & interview.
begitu sampai tahap brainstorming desain mah sudah lebih banyak feeling & membangkitkan perbendaharaan hubungan verbal – visual. sedangkan rumus2 semiotika sebaiknya sudah diluar kepala, krn itu kit hrs byk2 belajar, baca, melihat, menonton, dll, spy byk perbendaharaan datanya.

A.C.
September 30, 2011
buku yg recomended untuk belajar semiotika apa ya pak?

Surianto Rustan
September 30, 2011
saya belum menemukan buku semiotika berbahasa indonesia yg bagus di sini. tp resource yg bagus dari luar & berbahasa inggris ada:
http://www.aber.ac.uk/media/Documents/S4B/semiotic.html

A.C.
September 30, 2011
maturnuwun… [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
sama2 Mas Abi, suxeselalu!

A.C.
September 30, 2011
suxeselalu [:D]