Tentang Trend Desain dan Pesan di dalam Desain

Ibad Baharudin
bang terimaksih udah di acc

Surianto Rustan
January 7
oh, sip Mas Ibad, silahkan kalau mau ngobrol2, kalau kebetulan online pasti saya balas, tapi harap maklum, biasanya nyambi kerja, jd tidak seketika

Ibad Baharudin
January 7
iyah bang
saya kan kebetulan ngambil dkv
menurut abang gimana prospeknya buat nanti soalnya orang tua selalu bertanya saya belum bisa jawab

Surianto Rustan
January 7
oh, DKV memang lagi booming, karena booming jadinya peminatnya membludak. karena membludak, lulusannya juga sangat banyak, memang pada akhirnya tidak semuanya tetap berprofesi sbg desainer, namun tetap saja tingkat persaingan saat ini sangat tinggi. jadi memang dibutuhkan kesungguhan hati, harus haus ilmu, dan yang pati: kerja keras. kalau mau jadi desainer yg berhasil

Ibad Baharudin
January 7
iyah bang saya hobi design tapi belum bisa di terima di masarakat
designya masih egois bang

Surianto Rustan
January 7
oh gitu
sip2

Ibad Baharudin
January 7
bang saya mau tanya lagi nih bang
kalau dalam masalah design ada musim musim nya ga ?

Surianto Rustan
January 7
maxudnya trend desain gitu?

Ibad Baharudin
January 7
iyah bang trend design ?

Surianto Rustan
January 7
pertama2 saya mau jelasin dulu nih, bhw desain itu punya sub2 area, walaupun ini ga formal, namun perlu diketahui supaya tambah paham.

Ibad Baharudin
January 7
apa ajah tuh bang ?

Surianto Rustan
January 7
yang dimaksud area ini adalah penekanan pada sebuah fungsi. misalnya ada area identitas (logo, branding, dll), ada area komunikasi (iklan, campaign, dll), ada area informasi (wayfindings, signage, dll), ada area yang ketergantungannya pada teknologi besar (webdesign, user interface design, dll), dll.

Surianto Rustan
January 7
nah, mengenai trend, tentu saja desain grafis terpengaruh juga, cuma mungkin pengaruhnya besar di area2 tertentu, dan di area lain tidka begitu besar.
selingan: ingat loh, desain grafis tidak hanya sekadar penampilan visual. kalau hanya sekadar kulit itu namanya hiasan / dekorasi, tapi kalau desain itu sangat dipengaruhi oleh tujuannya, target audiencenya, kliennya, produknya, pesaingnya, pesan yg mau disampaikan, dan setumpuk fungsi2 lainnya. beda dengan hiasan yg sekadar kulit.

Surianto Rustan
January 7
nah saya lanjutkan: kalau dipunggung desain grafis hrs menopang beban fungsi2 yg banyak tsb, tentu ia hrs sgt bijaksana kalau mau mengikuti trend, krn biasanya trend itu sekadar penampilan visual. lain kalau dia hanya berupa hiasan / dekorasi, maka kita bisa lihat contohnya logo2 yg marak di web 2.0 penampilannya hampir serupa semua.

Surianto Rustan
January 7
jadi pertama ita kudu ngerti dulu bedanya desain grafis dengan hiasan / dekorasi.

Ibad Baharudin
January 7
wah saya baru nyadar itu bang
terus cara menampilkan pesan di design terkadang itu sulit bang ada tips atau trik buat bisa menampilkan pesan dalam design ?

Surianto Rustan
January 7
jadi setelah riset & mendapat data2nya, lalu buat kesimpulannya dalam sebuah creative brief. nah kita baru mendesain berdasarkan creative brief, tapi itupun belum menggambar apalagi komputer, sebaiknya brainstorming kata2 kunci dulu, lalu sketsa, nah baru membuat alternatif desain yg banyak, dan rapikan di komputer, baru sodorkan ke klien.

Surianto Rustan
January 7
kalau dari sejak awal sudah pakai komputer ya bisa runyam, nanti jadinya hanya sekadar visual permukaan saja > hiasan / dekorasi.

Ibad Baharudin
January 7
wah iyah bang itu bener . . wah jadi banyak ilmu nih

Surianto Rustan
January 7
desain itu: PEMECAHAN MASALAH, nah biasanya orang salah kaprah langsung cari pemecahannya, padahal masalahnya apa dia lom tau. ibarat saya kasih nasihat ke anda, tapi anda lom cerita masalahnya apa = berarti saya so tau bener ya [:)]

Ibad Baharudin
January 7
iyah bang saya percaya abang karna lebih banyak jam terbangnya di banding saya he he he

Surianto Rustan
January 7
ah, saya kebetulan saja lahir duluan [:)]
pada dasarnya kita kan sama2 pembelajar

Ibad Baharudin
January 7
iyah masih banyak ilmu yang belum saya pelajari nih
oh yah bang saya mau tanya lagi nih soal pemilahn warna sama font itu ngaruh sama pesan design ?

Surianto Rustan
January 7
iya, perumpamaannya kalau kita mau menggambar atau menulis di sebuah kertas kosong, elemen apapun, baik titik, garis, gambar, huruf, dll semua hrs diperhitungkan matang2 krn nantinya sangat mempengaruhi pesan yg ingin disampaikan.

Ibad Baharudin
January 7
wah saya berarti banyak salah nih dalam ngedesign cuman bikin hiasan doang ga ada pesen nya aduh [-_-]
sebelum nya makasih bang udah ngasih tau
mungkin saya bakal banyak tanya
lagi maaf nih kalau ngerepotin

Surianto Rustan
January 7
sam2
silahkan, kalau saya sempat pasti saya jawab
btw saya minta ijin upload obrolan kita ini ke blog saya surianto.wordpress.com, spy yk teman2 lain yg belajar juga

Ibad Baharudin
January 7
iyah bang silahkan dengan seneng hati
boleh sebelum nya terimakasih [:)] he he h

Tentang Usia, Menulis, dan Menciptakan Arus

Joseph Reinaldo May 2 at 5:29pm Report
Halo Pak Rustan, maaf mengganggu.
Sebelumnya perkenalkan nama saya – seperti yang bisa bapak lihat – Joseph Reinaldo.
Saya bisa dipanggil Joe. saya anak DKV Cinematography 2008, satu angkatan
dengan anak-anak DG yang pernah bapak ajari Typography.

Maaf harus menghubungi bapak dengan cara seperti ini. Saya sudah mencoba bertanya
ke sejumlah anak DG tapi herannya tak satupun dari mereka yang punya kontak bapak
(atau sampai saat ini anggaplah saya tidak cukup banyak menginterogasi mereka).
Saya sebetulnya lebih memilih berkomunikasi lewat email, tetapi saat ini Facebook-lah
yang paling efisien.

Saya menguhubungi bapak dalam kapasitas sebagai Head Journalist MORPH Magazine, majalah
DKV UMN. Kebetulan kita akan launching edisi pertama (kalau tidak molor) tanggal 16 Mei ini.
Kita punya satu rubrik judulnya: Dialoge; yang berisi pendapat para praktisi dunia kreatif
antara lain desainer, animator, film-maker dan bidang terkait.

Saya ingin meminta pendapat singkat bapak sebagai penulis buku dan tipografer – tanpa maksud
menjilat atau sejenisnya – karena saya rasa bapak sudah kompeten di bidang yang bapak tekuni.
“Mosi” kita kali ini adalah:

“Do Designers Design Their Future?”

Maksudnya, apakah seseorang – katakanlah mahasiswa desain – sudah bisa mengambil ancang-ancang
tentang pekerjaan yang nanti dia tekuni? Pekerjaan yang dimaksud disini adalah yang sifatnya
menghidupi dan dapat memberikan dampak positif bagi si employer itu sendiri. Mengapa kami
mengambil tema ini; kami mencoba berangkat dari kenyataan (menyedihkan) bahwa banyak mahasiswa
(dan para calon) DKV yang enggan masuk jurusan ini karena dianggap tidak layak, tidak menghasilkan,
kurang berguna (kasarnya: nyampah). Lagi, banyak mahasiswa DKV yang masih bingung hendak
jadi apa mereka setelah lulus, apakah mereka cukup kompeten untuk dunia kerja dan apakah mereka
bisa mendapatkan pekerjaan yang baik.

Akan sangat baik sekali jika bapak memberikan opini berdasarkan pengalaman bapak; apakah
bapak menjadi seorang penulis buku dan typografer seperti ini karena memang sudah bapak rencanakan,
atau terjadi begitu saja. Apakah penting seorang desainer – layaknya saat mereka hendak membuat
suatu artworks – memikirkan dengan baik segala sesuatunya sebelum membuat keputusan? Dan yang terakhir
(saya tahu pertanyaan ini konyol) Apakah dengan menjadi seorang desainer,
mereka bisa memiliki masa depan yang cerah dan menjanjikan – sama seperti artworks2 yang mereka ciptakan?

Selain meminta opini bapak, saya juga punya permintaan kurang ajar lainnya. Saya tahu seharusnya
saya (nekat) menghubungi bapak lebih awal, tetapi saya akan sangat menghargai jika bapak bisa
membalas pertanyaan ini dalam waktu satu dua hari – setidaknya sebelum lewat hari Kamis 5 Mei 2011. Tidak
perlu panjang seperti essay, satu paragraf singkat saja sudah cukup.

Jika bapak bersedia, saya atas nama redaksi MORPH Magazine akan sangat bersukacita dan berterima kasih.
____________________

“Tentang usia, menulis, dan menciptakan arus”
oleh: Surianto Rustan – writer, speaker, teacher, graphic designer

Panjang umur itu relatif

Dulu, sebelum mulai menulis buku, saya berpikir, apa yang saya lakukan selama ini? Untuk apa saya hidup? Apa hidup hanya lahir, pacaran, menikah, punya anak, lalu mati?
Sayang sekali kalau cuma begitu.

Kebetulan saya mengukur waktu pakai standar bumi, jadi terasa lama dan sempat bermalas-malasan.
Coba saja hitung usia pakai ukuran bintang di angkasa, berapa lama saya hidup? sepersejuta detik?
Bukankah kesannya hidup jadi sekadar “numpang lewat”?
Sungguh menyedihkan.

Hal inilah yang membuat saya berpikir perlu berbuat sesuatu, meninggalkan kenang-kenangan yang berguna buat generasi mendatang, sekaligus mengukir kalimat “Surianto Rustan was here”.

Siapa yang tahu Desain Grafis itu apa?

Kebetulan saya desainer grafis, dan di sini profesi tersebut perlu banyak didukung. Miskinnya literatur tentang hal ini menyebabkan siapapun bertanya-tanya: apa itu desain grafis? siapa itu desainer grafis?

Ketidak-jelasan ini berlangsung lama, diperparah dengan pesatnya teknologi software desain yang makin mempermudah pekerjaan desain menciptakan pengaruh buruk: banyak pihak desainer (atau menyebut dirinya desainer) yang seenaknya mempermainkan harga, masyarakat yang tahunya desain itu = software komputer makin yakin kalau desain dan desainer itu komoditi dan murah harganya.

(untuk mengetahui sebenarnya apa itu desain grafis dan siapa itu desainer grafis secara singkat, silahkan membaca artikel-artikel saya di: DGI-Indonesia.com/bukamata, tiap artikelnya bisa didownload dan disebarluaskan lagi).

Untuk itulah saya menulis, supaya makin banyak orang bisa mengapresiasi bidang ini secara lebih berimbang.

Agent of Changes

Banyak di antara kita yang tidak menyadari hal ini: bahwa kita dapat mengubah dunia.

Polanya sudah umum terjadi di mana-mana: seorang visioner diejek dan diolok-olok oleh orang-orang sekitarnya, dianggap tidak akan bisa mengubah nasib malangnya. Pada suatu hari ia membuktikan ucapannya dan terbukti telah mengubah – bukan hanya nasibnya sendiri, bahkan meningkatkan harkat hidup orang-orang yang dulu mengejeknya.

Hidup seseorang dilalui dengan tahapan-tahapan, masing-masing orang berbeda satu dengan lainnya. Namun pada suatu titik dalam hdupnya, ia harus memilih di antara dua ini:
1. Mau menyerah terbawa arus, atau:
2. Mau menciptakan arus

Mungkin tidak se-ekstrim hitam / putih, tapi lebih tepatnya: mau didominasi oleh yang mana.

Ini berlaku untuk semua orang, apapun profesinya. Tidak hanya desainer, tapi juga akuntan, dokter, arsitek, hakim, pedagang, pengusaha, dan siapapun.

Untuk hidup yang layak, semua orang bisa, syaratnya harus kerja keras. Tapi untuk menciptakan arus, tidak hanya kerja keras yang diperlukan, juga kreatif, pendirian teguh, perencanaan & target yang matang, dan yang paling penting: iman.

Pernah dengar kata-kata bijak ini? “Ubahlah dirimu sendiri, maka engkau mengubah dunia”. Bercerminlah dulu sebelum yakin bahwa engkau adalah agent of changes, si pencipta arus itu. Apakah saya menghargai diri saya dan orang lain? Rajin belajar? tidak malas? jujur? suka membantu orang lain? rendah hati?

Selamat berjuang!