Tentang Usia, Menulis, dan Menciptakan Arus

Joseph Reinaldo May 2 at 5:29pm Report
Halo Pak Rustan, maaf mengganggu.
Sebelumnya perkenalkan nama saya – seperti yang bisa bapak lihat – Joseph Reinaldo.
Saya bisa dipanggil Joe. saya anak DKV Cinematography 2008, satu angkatan
dengan anak-anak DG yang pernah bapak ajari Typography.

Maaf harus menghubungi bapak dengan cara seperti ini. Saya sudah mencoba bertanya
ke sejumlah anak DG tapi herannya tak satupun dari mereka yang punya kontak bapak
(atau sampai saat ini anggaplah saya tidak cukup banyak menginterogasi mereka).
Saya sebetulnya lebih memilih berkomunikasi lewat email, tetapi saat ini Facebook-lah
yang paling efisien.

Saya menguhubungi bapak dalam kapasitas sebagai Head Journalist MORPH Magazine, majalah
DKV UMN. Kebetulan kita akan launching edisi pertama (kalau tidak molor) tanggal 16 Mei ini.
Kita punya satu rubrik judulnya: Dialoge; yang berisi pendapat para praktisi dunia kreatif
antara lain desainer, animator, film-maker dan bidang terkait.

Saya ingin meminta pendapat singkat bapak sebagai penulis buku dan tipografer – tanpa maksud
menjilat atau sejenisnya – karena saya rasa bapak sudah kompeten di bidang yang bapak tekuni.
“Mosi” kita kali ini adalah:

“Do Designers Design Their Future?”

Maksudnya, apakah seseorang – katakanlah mahasiswa desain – sudah bisa mengambil ancang-ancang
tentang pekerjaan yang nanti dia tekuni? Pekerjaan yang dimaksud disini adalah yang sifatnya
menghidupi dan dapat memberikan dampak positif bagi si employer itu sendiri. Mengapa kami
mengambil tema ini; kami mencoba berangkat dari kenyataan (menyedihkan) bahwa banyak mahasiswa
(dan para calon) DKV yang enggan masuk jurusan ini karena dianggap tidak layak, tidak menghasilkan,
kurang berguna (kasarnya: nyampah). Lagi, banyak mahasiswa DKV yang masih bingung hendak
jadi apa mereka setelah lulus, apakah mereka cukup kompeten untuk dunia kerja dan apakah mereka
bisa mendapatkan pekerjaan yang baik.

Akan sangat baik sekali jika bapak memberikan opini berdasarkan pengalaman bapak; apakah
bapak menjadi seorang penulis buku dan typografer seperti ini karena memang sudah bapak rencanakan,
atau terjadi begitu saja. Apakah penting seorang desainer – layaknya saat mereka hendak membuat
suatu artworks – memikirkan dengan baik segala sesuatunya sebelum membuat keputusan? Dan yang terakhir
(saya tahu pertanyaan ini konyol) Apakah dengan menjadi seorang desainer,
mereka bisa memiliki masa depan yang cerah dan menjanjikan – sama seperti artworks2 yang mereka ciptakan?

Selain meminta opini bapak, saya juga punya permintaan kurang ajar lainnya. Saya tahu seharusnya
saya (nekat) menghubungi bapak lebih awal, tetapi saya akan sangat menghargai jika bapak bisa
membalas pertanyaan ini dalam waktu satu dua hari – setidaknya sebelum lewat hari Kamis 5 Mei 2011. Tidak
perlu panjang seperti essay, satu paragraf singkat saja sudah cukup.

Jika bapak bersedia, saya atas nama redaksi MORPH Magazine akan sangat bersukacita dan berterima kasih.
____________________

“Tentang usia, menulis, dan menciptakan arus”
oleh: Surianto Rustan – writer, speaker, teacher, graphic designer

Panjang umur itu relatif

Dulu, sebelum mulai menulis buku, saya berpikir, apa yang saya lakukan selama ini? Untuk apa saya hidup? Apa hidup hanya lahir, pacaran, menikah, punya anak, lalu mati?
Sayang sekali kalau cuma begitu.

Kebetulan saya mengukur waktu pakai standar bumi, jadi terasa lama dan sempat bermalas-malasan.
Coba saja hitung usia pakai ukuran bintang di angkasa, berapa lama saya hidup? sepersejuta detik?
Bukankah kesannya hidup jadi sekadar “numpang lewat”?
Sungguh menyedihkan.

Hal inilah yang membuat saya berpikir perlu berbuat sesuatu, meninggalkan kenang-kenangan yang berguna buat generasi mendatang, sekaligus mengukir kalimat “Surianto Rustan was here”.

Siapa yang tahu Desain Grafis itu apa?

Kebetulan saya desainer grafis, dan di sini profesi tersebut perlu banyak didukung. Miskinnya literatur tentang hal ini menyebabkan siapapun bertanya-tanya: apa itu desain grafis? siapa itu desainer grafis?

Ketidak-jelasan ini berlangsung lama, diperparah dengan pesatnya teknologi software desain yang makin mempermudah pekerjaan desain menciptakan pengaruh buruk: banyak pihak desainer (atau menyebut dirinya desainer) yang seenaknya mempermainkan harga, masyarakat yang tahunya desain itu = software komputer makin yakin kalau desain dan desainer itu komoditi dan murah harganya.

(untuk mengetahui sebenarnya apa itu desain grafis dan siapa itu desainer grafis secara singkat, silahkan membaca artikel-artikel saya di: DGI-Indonesia.com/bukamata, tiap artikelnya bisa didownload dan disebarluaskan lagi).

Untuk itulah saya menulis, supaya makin banyak orang bisa mengapresiasi bidang ini secara lebih berimbang.

Agent of Changes

Banyak di antara kita yang tidak menyadari hal ini: bahwa kita dapat mengubah dunia.

Polanya sudah umum terjadi di mana-mana: seorang visioner diejek dan diolok-olok oleh orang-orang sekitarnya, dianggap tidak akan bisa mengubah nasib malangnya. Pada suatu hari ia membuktikan ucapannya dan terbukti telah mengubah – bukan hanya nasibnya sendiri, bahkan meningkatkan harkat hidup orang-orang yang dulu mengejeknya.

Hidup seseorang dilalui dengan tahapan-tahapan, masing-masing orang berbeda satu dengan lainnya. Namun pada suatu titik dalam hdupnya, ia harus memilih di antara dua ini:
1. Mau menyerah terbawa arus, atau:
2. Mau menciptakan arus

Mungkin tidak se-ekstrim hitam / putih, tapi lebih tepatnya: mau didominasi oleh yang mana.

Ini berlaku untuk semua orang, apapun profesinya. Tidak hanya desainer, tapi juga akuntan, dokter, arsitek, hakim, pedagang, pengusaha, dan siapapun.

Untuk hidup yang layak, semua orang bisa, syaratnya harus kerja keras. Tapi untuk menciptakan arus, tidak hanya kerja keras yang diperlukan, juga kreatif, pendirian teguh, perencanaan & target yang matang, dan yang paling penting: iman.

Pernah dengar kata-kata bijak ini? “Ubahlah dirimu sendiri, maka engkau mengubah dunia”. Bercerminlah dulu sebelum yakin bahwa engkau adalah agent of changes, si pencipta arus itu. Apakah saya menghargai diri saya dan orang lain? Rajin belajar? tidak malas? jujur? suka membantu orang lain? rendah hati?

Selamat berjuang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *