Gimana kalo ga ada perjanjian tertulis soal keterlambatan? Partner kerja telat terus? Klien yg ga teratur?

Malem pak,

Udah saya baca. Ternyata begitu toh pak?
Tapi gimana kalo ga ada perjanjian tertulis atopun tidak ada perjanjian apapun dalam hal keterlambatan??
Kayak udah salah dari awal ya pak? Maklum pak, belom pernah terima2 proyek, eh tiba2 diminta dan dikasih kepercayaan sepenuhnya.
Sayanya yang jadi merasa bersalah gitu. Soalnya klien udah nagih terus, tapi sayanya yang ga selesai2. Ada partner kerja juga, nah saya hrs nunggu partner saya itu slese dulu baru saya bisa kerja. Nah partner saya telat terus juga soalnya sibuk.
Kliennya juga tidak teratur gitu (menurut saya), soalny ga semuanya dipersiapkan dengan baik. Kayak ‘Kata Pengantar’ aja saya harus minta dulu. Trus logo yang dari dia diubah n baru dikasih akhir2, plus ada tambahan2 gitu juga diminta pas akhir2.
gimana ya pak?? Saya juga bingung sendiri. 🙁
Terima kasih pak.
Salam.
Inez A. Rusli

____________________

Hmm.. seperti yg saya bilang Nez, surat tertulis itu adalah senjata super ampuh apabila terjadi hal2 yang tidak diinginkan, karena kedua pihak menandatanganinya (paling manjur di atas meterai), berarti keduanya setuju dan komit dengan apa yg telah dijanjikan. Yah hitung2 ini pelajaran, kan baru pertama kali, maklum saja lah. Apabila kamu juga menggunakan tenaga pihak ketiga, dlm hal ini temanmu, misalnya dia yg ngerjain ilustrasinya atau fotografinya, dll, maka bikin juga surat perjanjian ke pihak ketiga itu. jadi ga ada pihak manapun yang out-of-track dari project tersebut, sehingga memperlancar proses seluruh pekerjaan. Dengan surat perjanjian itu, temanmu tidak bisa telat, apabila telat kena ‘hukuman’ yg sdh tertera aturannya di surat perjanjian tsb. Jd surat perjanjian itulah senjata desainer, termasuk utk kasus2 spt klien yg ga teratur / selalu terlambat ngasih materi, logo yang kita bikin diubah2 oleh klien, penambahan2 fitur yg diminta menjelang dekat2 deadline, dll.

Untuk kali ini saya sarankan pake senjata lainnya, yaitu: komunikasi dan relasi yg baik dengan klien dan partner kerja / pihak ketiga. Desainer juga perlu belajar bagaimana bernegosiasi dengan pihak2 yang bekerja sama dengannya, siapapun itu, karena boleh dibilang tidak ada pekerjaan desain yang ditangani sendirian oleh desainer, semua butuh kerjasama dengan org lain, semua butuh komunikasi dan relasi.

Coba kamu bicara baik2 dengan kliennya mengenai deadline, mengenai tambahan2 yg dekat2 deadline, mengenai besarnya effort yg hrs
dilakukan kalo hal itu terjadi, mengenai repotnya kalo materi dikasihnya belakangan, krn semua jadwal jadi mundur juga, dan paling penting adalah: jelaskan bahwa yang rugi bukan kamu saja, tapi si klien sendiri. dia baru bisa terima desain jadinya jauh dari tanggal yg sebelumnya ditetapkan, jd dia lom bisa jualan kl desainnya belom ada, dll. Klien juga manusia, punya rasa punya hati, ough.. kayak lagu neh 🙂 umumnya mereka mau diajak negosiasi, apalagi kalau alasan kita sangat kuat dan tidak dibuat2, klien yang rasional pastinya mau terima koq, lagipula mereka sudah dapat harga murah kan dari kamu (kan belum pake harga desainer profesional), jadi kemungkinan besar mereka mau terima apa yg kamu katakan.

Gitu Nez, semoga berkenan atas jawaban yg super telat ini.

Salam suxes & belajar terusss. yakin pasti berhasil!

Leave a Reply

Your email address will not be published.