Ambient media dan guerilla marketing

Tue, Mar 4, 2014 at 12:07 AM

Selamat malam Pak, salam kenal. Saya mahasiswi FIKOM Untar 2010.
Saya dapat kontak Bapak dari teman saya – DKV 2010.
Semester ini saya mengambil skripsi dan yang akan saya angkat yaitu mengenai ambient media. Tepatnya yaitu bagaimana sebuah ambient media diproduksi. Saya menggunakan metode kualitatif.
Karena keterbatasan literatur, sehingga saya meminta bantuan referensi buku dari Bapak.
Dan saya juga cukup mengalami kebingungan membedakan iklan apakah sudah masuk dalam golongan ambient media atau hanya iklan kreatif biasa.

Terima kasih kiranya jika Bapak berkenan membantu saya 🙂

Fri, Mar 7, 2014 at 9:47 AM

Halo, mohon maaf nih baru balas,

tidak ada 1 kesamaan persepsi tentang istilah ambient media, namun kalau beranjak dari istilah ‘ambient’ sendiri yg artinya surround area = area sekeliling / lingkungan sekitar, maka bisa dikatakan: ambient media itu tidak menggunakan media tradisional yg biasa (iklan majalah, brosur, dll) tapi memanfaatkan media alternatif lain di sekitarnya yang tidak biasa. contoh: trolley supermarket, tembok sisi gedung, pegangan tangan di MRT / trans jakarta, dll.

ada lagi yg namanya guerilla marketing. ini juga sama dengan ambient media, cuma perbedaan utamanya: budget kecil.

jd perbedaan ambient media dengan iklan biasa terletak pada penggunaan ‘medianya’, bukan pada ‘kreativitas’ nya. ambient media menggunakan media alternatif yang tidak biasa / tidak konvensional.

tapi pastinya tetap ada area abu2, dimana sebuah iklan bisa dikatakan termasuk iklan biasa dan termasuk juga ambient media.

ini beberapa sumber yg baik utk dibaca:

– http://advertising.about.com/od/advertisingprojects/a/Different-Types-Of-Advertising-Methods.htm
– http://en.wikipedia.org/wiki/Ambient_media
– http://en.wikipedia.org/wiki/Guerrilla_Marketing

buku:
– Nontraditional Media in Marketing and Advertising by Robyn L. Blakeman
– Guerilla Marketing: Easy and Inexpensive Strategies for Making Big Profits from Your Small Business by Jay Conrad Levinson

ebook:
Media in the Ubiquitous Era: Ambient, Social and Gaming Media by Artur Lugmayr

ini 1 sumber lagi bagus bgt utk dibaca2 (dan tentunya bisa dicantumkan dlm daftar pustaka), soalnya ada membahas segi ekonomis (profit $ yg dihasilkan oleh ambient media), dan segi hukum (krn ambient media kadang memakai fasilitas publik), dll.
http://www.mediaweek.co.uk/article/509646/ambient-media

Sekian dulu, mdh2an bermanfaat.

Sun, Mar 9, 2014 at 2:02 AM

Oke Pak. Terima kasih banyak atas referensinya nanti sekalian saya cari yang bukunya. Memang agak susah ya ambient media semuanya referensi luar rata-rata. Saya belum menemukan buku versi Indonesianya.

Apa perbedaan brand identity, corporate identity, identitas visual?

Mon, Mar 3, 2014 at 7:32 PM

Kpd Pak Rustan,

Salam Desain !

Malam pak, saya mahasiswa universitas Tarumanagara.. saya sedang mengerjakan tugas yang berhubungan corporate identity , saya mau bertanya apakah perbedaan antara brand identity, corporate identity , serta identitas visual? karena saya sendiri bingung untuk membedakannya , mirip” soalnya pak ketiga2 ny pak .. trima kasih

Tue, Mar 4, 2014 at 7:54 AM

Halo, maaf baru balas,
sebelumnya perlu diketahui bahwa tidak ada 1 pengertian yang fix dari istilah2 yang kamu tanyakan itu. maklum saja karena bidang ini sudah cukup lama dan sudah diteliti oleh jutaan orang di dunia, dan mereka masing2 memiliki pengertian yg berbeda2 thd istilah tsb.

Jadi istilah2 ini bukan eksklusif milik bidang desain grafis!

ini beberapa pengertian sejauh yg saya ketahui, ini juga diambil dari berbagai sumber, selayaknya kamu menggali lagi dari sumber2 lain lagi utk mengambil intisari maknanya:

brand identity
setau saya minimal ada 2 pengertian:
1. perangkat brand yang bersifat mengidentifikasikan, spt logo, name, tagline, color, typography, dll. mungkin sound branding juga termasuk di dalamnya (sound branding juga disebut: audio branding, music branding, sonic branding, acoustic branding, sonic mnemonics)
2. brand identity lawannya brand image. brand identitiy dibangun oleh si entitas (bisa perusahaan, produk, tokoh, partai, dll), untuk disampaikan / ditanamkan dalam benak masyarakat sehingga menimbulkan brand image. jadi brand identity adalah identitas yang dibangun oleh si entitas, brand image adalah persepsi mental di benak masyarakat mengenai brand identity tersebut.

corporate identity
istilah ini banyak berbaur dengan istilah brand identity. berbagai pihak menyatakan bahwa corporate identity adalah segala atribut fisik perusahaan seperti color, desain, tulisan, dll.
banyak sumber menyatakan bahwa corporate identity terdiri dari 3 bagian:
– visual / design (logo, seragam, colour)
– communication (advertising, public relations, dll)
– behavior (nilai2 perusahaan, budaya perusahaan, dll)
tentang hal ini saya juga bahas di buku saya ‘mendesain Logo’.

identitas visual / visual identity
pengertian yg ini agak lebih seragam: yaitu disamakan dengan brand identity, cuma yang visual saja: elemen2 visual sebagai identitas perusahaan.

utk lebih jelasnya, ini ada beberapa ebook & links yg bisa kamu pelajari supaya lebih ngerti, dan tentu saja memperkaya daftar pustaka di papernya 🙂

ebook ttg logo:
– designing brand identity – alina wheeler
– brand identity essentials – kevin budelmann, yang kim, curt wozniak
– logo design workbook – adams moroika
– logo design love – david airey
– Landor brand strategy (ini tentang Landor, konsultan branding terbesar di dunia dan karya2nya)
– the brand glossary – publisher: palgrave macmillan (kamus brand, bagus bgt)

ebook ttg brand:
– creating powerful brands – Leslie de Chernatony, Malcolm McDonald, Elaine Wallace
– building strong brands – Aavid A. Aaker (bapak brand dunia)
– ingredient branding – Philip Kotler (bapak marketing dunia)

website:
www.interbrand.com (di sini banyak artikel pdf gratis yang bisa dipelajari)

sementara demikian, mudah2an bisa membantu.
Terima kasih.

Tentang logo BEM, dan latar belakang IT tapi ingin menjadi desainer profesional

Tue, Feb 25, 2014 at 7:05 AM

selamat pagi pak Surianto rustan,pak, kalau ingin menggambar logo Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) atau Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) apakah kita harus memasukkan  logo Universitasnya apa tidak ? dan apakah untuk membuat logo nya, apakah harus dilihat juga dari Visi misi Organisasinya ?
Terima kasih 😊

Tue, Feb 25, 2014 at 7:38 AM

Halo Mas,
Tergantung aturan dari Univnya.
Tp kl ga ada aturannya, silahkan bebas saja tanpa mencantumkan logo Univnya. (Soalnya biasanya logo Univ jadul2 hehe).
Dalam logo ya visi misinya tentu harus tercerminkan, tdk usah gamblang, minimal menggambarkan sifatnya secara simbolis, lewat garis / bentuk / warnanya. Misal: “sifat kokoh”, maka garisnya tegas & agak tebal, atau tulisan tegak yg bold.

Demikian Mas,
Salam suxes!

Fri, Mar 7, 2014 at 8:20 PM

Selamat malam Pak rustan
saya boleh nanya lagi ga nih

terkadang saya bingung pak, saya anak IT, tapi saya tertarik dengan DKV, apakah untuk belajar DKV itu saya bisa belajar sendiri  atau  apakah saya harus dibimbing. ? dan impian saya juga ingin menjadi seorang desainer professional, apakah menurut bapak saya yang dari Jurusan IT ini bisa menjadi seorang desainer Professional ?

Maaf ya pak banyak nanya kayak dora hehe 😃 peace

Sun, Mar 9, 2014 at 11:57 PM

Halo Mas,
memang membingungkan kalau seseorang multi-talented. tapi daripada bingungnya, sebaiknya dibanyakin rasa syukurnya 🙂 tidak banyak orang yang seperti Anda, dimana otak kiri (rasional > IT), dan kanan (estetis > desain) kedua2nya aktif.

nah, pertanyaannya apakah belajar DKV itu bisa dipelajari sendiri atau harus dibimbing?

dulu saya sebaliknya, basic saya desain, menyenangi segala bentuk seni, lalu ketika internet mulai marak sekitar tahun 1995-an saya belajar web, HTML, Java script, CSS, flash, dll. tidak ada yg membimbing, tidak punya buku tentang webdesign satupun, semua dipelajari di web, buka web orang, lihat html & CSS-nya, donlot java, donlot flash, kulik cara coding-nya, dll.

perpaduan pengetahuan & sense tentang desain + kemampuan coding tentunya jadi aset yg sgt berharga sekali. terlebih di jaman sekarang, di mana akses serba mudah, cepat & terjangkau. smartphone & gadget lainnya, apps, augmented technology, dll. yang kesemuanya bersama2 membuka kesempatan yg sgt luas utk dieksplorasi oleh org2 kreatif & multi-talented seperti Anda Mas Zaki.

kita tau bahwa DKV itu ga cuma urusan cetak-mencetak di atas kertas. relasi DKV dengan teknologi di jaman sekarang ini sudah sulit dipisahkan. user interface di gadget, website, games & apps, dll, semua perlu didesain, supaya mudah & menarik utk digunakan. Apalagi ditambah dengan latar belakang IT, tentulah Anda sudah sangat familiar dengan pola pikir & bahasa mesin 🙂 ini menjadi aset yg sangat istimewa.

Namun bila yang Anda sasar adalah area dlm DKV yang cukup jauh, misalnya periklanan, ataupun packaging, maka kelihatannya sekolah / kursus menjadi penting, minimal perlu pendidikan dasar untuk memahami konsep2nya.

Berikut ini Anda bisa baca2 beberapa artikel tanya jawab saya di blog:

http://www.suriantorustan.com/category/klinikonsultasi terutama yang berkaitan dengan yang ditanyakan:

Menjadi desainer grafis harus kuliah dulu? Riset, analisa, strategi, tidak dimiliki orang awam?

http://www.suriantorustan.com/penghargaan-thd-desain-yg-rendah-lulusan-sma-apa-bs-krj-di-studio-desain-apa-yg-hrs-disiapkan-bila-mau-membuat-srudio-desain-grafis/

Saya kira sekian dulu Mas Zaki, mudah2an bermanfaat 🙂

Bagaimana agar gambar untuk billboard ukuran besar tidak pecah?

Tue, Feb 18, 2014 at 11:14 PM

Yth. Pa Surianto Rustan

Ada yang sdg coba saya cari tahu, mungkin Pa Surianto dpt ksh masukan atau jawaban. Apabila saya mau membuat iklan cetak untuk ukuran Billboard. Proses agar design saya terlihat tidak pecah dan cukup tajam dengan ukuran format yg kecil/ tidak terlalu besar hrs saya lalui dengan proses design yg bagaimana ?. terima kasih

Wed, Feb 19, 2014 at 4:00 AM

Halo Mas,
Sebetulnya utk diterapkan pada media ukuran besar spt banner/spanduk/billboard, penanganan sebuah image tdk sama dg utk diterapkan dlm media cetak ukuran regular.
Bila utk dicetak di mjlh/buku/poster dll, image minimal hrs 240-300dpi, utk diterapkan di banner/spanduk bisa sekitar 72-150dpi. Dan utk billboar bisa sekitar 72dpi saja. Ingat bhw memang ukurannya jauh lebih besar, tapi jarak pandang dari mata pengamat ke media tsb juga lebih jauh, shg org tdk akan menangkap jelas pixel2/detilnya.

Apabila pixel / detil low res-nya terlalu jelas terlihat, di photoshop, mage tsb bisa dihaluskan dengan filter ‘smart blur’. Tp hrs dicoba2 setting-nya agar pas betul. Btw bukan cuma ‘smart blur’, tp ada bbrp cara lain yg bisa dicoba, silahkan googling cari tutorial photoshop byk sekali di web dg keywords: photoshop remove (atau reduce, atau fix) pixelation.

Ini bbrp diantaranya:

– www.inkling.com/read/photoshop-cs6-missing-manual-lesa-snider-1st/chapter-6/resizing-images
– smallbusiness.chron.com/reduce-pixelization-photoshop-54634.html

Smg lancar pekerjaannya, suxeselalu 🙂

Adakah pakem buku sehingga layak dibaca orang?

Tue, Feb 18, 2014 at 5:09 PM

Selamat sore pak,

Semoga masih ingat dengan saya pak.
Saya mau bertanya seputar dengan masalah penyampaian informasi dari sebuah buku. Dalam buku layout, di katakan bahwa ada beberapa Hal yang perlu di perhatikan saat membuat buku yaitu, desain cover, desain navigasi, kejelasan informasi, kenyamanan membaca, dll.

Nah yang saya mau tanya kan adalah, apakah ada pakem khusus atau aturan khusus atau nilai-nilai standard dalam membuat sebuah buku sampai buku tersebut layak di sebut sebagai sebuah buku? Atau sebagai sebuah buku yang layak untuk di baca oleh banyak orang? Atau kah mungkin ada kelayakan lainnya yang lebih tepat pak?
Atau kah karena desain ini bersifat relatif, jadi Hal tentang pakem atau aturan atau kelayakan ini berhubungan langsung dengan selera dari target pembacanya?

Begitu pak pertanyaan saya, saya mohon sharing-an nya dari bapak. Terima kasih pak.

Tue, Feb 18, 2014 at 5:56 PM

apakabar 🙂
mengenai desain buku, selayaknya sebuah karya desain, ia memiliki berbagai fungsi selain hanya sekedar estetis / indah / bagus.
lebih lengkapnya silahkan membaca2 artikel yg saya tulis tentang apa itu desain grafis:
www.dgi-indonesia.com/bukamata

nah, ada karya2 yang didesain lebih banyak menonjolkan fungsi2nya (misalnya tulisan yang jelas, layout yang teratur, dll > untuk mengakomodir fungsi menjual, fungsi navigasi, dll), tapi ada juga yang lebih diperlukan segi kreativitasnya (utk topik2 tertentu, misalnya seni kontemporer, ekspresi personal, dll). penanganan keduanya sangat berbeda, yg satu sangat teratur, terbaca dengan jelas, rapi, dll, yg satu lagi abstrak, emosional, tp tidak jelas terbaca.
kita tidak bisa bilang yang jelas terbaca & teratur rapi itu lebih baik daripada yg sgt kreatif dan hampir tidak terbaca. semua sangat tergantung pada konsep desain tsb dibuat, antara lain 5W 1H:
– What: untuk apa desain itu dibuat
– Who: ditujukan utk siapa desain tsb
– When: kapan
– Where: dimana
– Why: mengapa diperlukan
– How: mengapa pakai strategi tsb

Jadi kelayakan sebuah buku didesain spt apa itu sgt tergantung dari konsep & fungsi2 yg diemban buku tsb. Ia disebut layak bila konsep2 & fungsi2 tsb bisa terjawab dalam desainnya. misalnya cocok dan diminati oleh target audiens ybs, dll.

Desain tidak melulu intuitif, tapi juga rasional. kalau melulu intuitif itu kemungkinan seni rupa murni, bukan desain. masalah relatif dan masalah selera tidak menduduki tempat teratas dalam desain. tempat teratas adalah apakah desain itu bisa memenuhi fungsi2 yg diembannya.
silahkan baca di http://www.suriantorustan.com/bukamata-3-mitos-fakta-desain-grafis, mudah2an bisa menjelaskan soal selera ini.

mungkin sementara itu, Ingrid, apabila setelah membaca2 artikel tersebut masih bingung juga, silahkan tanya2 lagi ya.

Suxeselalu!

Bagaimana hukumnya menggunakan gambar dari internet?

Fri, Feb 14, 2014 at 11:44 AM

haloooo pak..
lama tak tanya hihi, sya mau nanya pak.. gmna hukum nya ngambil gambar di internet, google khusus nya utk keperluan design kita, ex : ilustrasi, backgroun, texture, photo, dll
mohon penjelasannya pak..

Fri, Feb 14, 2014 at 12:46 PM

Tujuannya utk digunakan sbg apa Mas? Krn tergantung penggunaannya, kl utk edukasi biasanya ada pengecualian / kemudahan. Kl utk komersial ada syarat2 tertentu yg hrs dipenuhi. Dll.

Fri, Feb 14, 2014 at 12:52 PM

Lebih Sering nya Komersil Pak, sebagai Contoh saat saya mendesain brosur nahh harus ada photo yg mewakili, trus saya cari di google image, gmna hukum nya pak..
apa persyaratannya?

Fri, Feb 14, 2014 at 1:25 PM

Kalo sekedar utk diperlihatkan, dan tdk dipergunakan utk klien (mslnya utk keperluan presentasi saja) mgkn msh oke Mas, tp kl utk didesain dan dipergunakan oleh klien (dicetak / disebarluaskan utk tujuan komersil) sebaiknya image tsb dibeli saja dan biayanya dicharge saja kliennya. Kan byk CD image bank yg bisa dibeli dg berbagai tema. Kl cari di google silakan cari ke website penjual img tsb, misal: www.corbis.com, www.123RF.com, dll. Jgn cari ke deviant art atau karya2 personal

Fri, Feb 14, 2014 at 2:27 PM

kalau search random di google image yg highres gmna pak ? misal saya search ttg background atau foto gedung gtu pak..
semisal di all-free-download.com

Fri, Feb 14, 2014 at 2:50 PM

Yg penting baca term & condition-nya, aturan penggunaan foto tsb, krn beda produser, beda aturan.

Apa kriteria untuk sekolah S2 Desain? Ada referensi Univ-nya?

Wed, Jan 22, 2014 at 10:21 AM

Pagi pak, berlanjut dr postingan fb ttg S2 DKV, klo blh tau kriteria yg bgmana baik secara personal maupun akademis agr bs lanjutin S2 DKV meskipun berasal dr S1 bukan DKV(sya lulusan S1 Farmasi), dan ad gk referensi universitas yg bs menerima lulusan dr S1 yg bukan dr DKV

Wed, Jan 22, 2014 at 12:09 PM

Halo Mas,
pertama2, Mas perlu ketahui dulu intisari yg dipelajari di S2, spy
bisa lebih bijak mengambil keputusan. Untuk itu sebaiknya baca dulu artikel tanya jawab saya mengenai S2 ini di:
http://www.suriantorustan.com/apa-perlu-desainer-studi-s2-gmn-prospek-studi-desain-di-luar-negeri-gmn-lulusan-luar-negeri-yg-krj-di-indonesia/
Itu mungkin bisa menjawab persyaratan personal yg ditanyakan.

nah selanjutnya saya teruskan:
ada bbrp sekolah yg menawarkan pendidikan S2 desain, bbrp ada yg nuansanya seni & budaya, ada yg nuansanya bisnis. ini sebaiknya dilihat2 dulu, supaya ada gambaran:

Trisakti:
http://www.pasca.trisakti.ac.id/mds_kurikulum.php

ITB:
http://www.sps.itb.ac.id/ind/program-studi-magister/
contoh2 abstrak / sekilas karya thesisnya bisa dilihat di sini:
http://www.s2desain.fsrd.itb.ac.id/?page_id=37

ISI Jogja: (cenderung ke arah seni)

Pascasarjana

IKJ: (cenderung ke arah seni, tp lebih ke sisi industri & bisnisnya)
http://pascasarjanaikj.ac.id/

dari beberapa sumber tsb sbnrnya sudah bisa menjawab persyaratan akademis yg umumnya disyaratkan oleh sekolah S2 desain.  umumnya bisa menerima dari jurusan S1 manapun yg bukan DKV. kalau di trisakti, ada semacam ‘program pengenalan’ singkat, bagi yg asalnya bukan dari S1 DKV.

sementara itu Mas sejauh pengetahuan sy yg terbatas, apabila msh ada yg mau ditanyakan, silahkan.

Ingin membuat studio desain grafis, tapi penghargaan masyarakat terhadap desain sangat rendah. Apa yang harus dipersiapkan? Bagaimana belajar menggambar?

ridho midanto
Tue, Jan 7, 2014 at 10:32 AM

Halooo Pak… Lama tidak berjumpa,,
saya ada beberapa pertanyaan pak, mohon dijawab dan saya diajari dengan sabar hehe
1. Dikota saya pekalongan,,, belum ada Studio Design Grafis,, saya ingin membuat studio design grafis,, tapi takut gak ada yang berani masuk pak, karena penghargaan masyarakat pekalongan terhadap design sangatlah rendah.. mayoritas penghargaan design di sebuah percetakan hanya Rp. 10,000 per desain, jujur saya ngerasa kurang dihargai pak..
>> Apa yang harus saya lakukan pak  ??
2. Saya hanya lulusan SMA, bisa kah saya bekerja di sebuah studio desain grafis pak, selama ini saya hanya menjadi designer di sebuah percetakan..
3. Jika saya ingin membuat studio desain grafis apa yg harus saya siapkan pak
4. Saya lampirkan Portofolio Saya , mohon dinilai dengan sejujur-jujurnya pak, kurang nya apa, terima kasih 🙂

Surianto Rustan
Wed, Jan 8, 2014 at 12:19 AM

Halo Mas Ridho,
mohon maaf baru balas emailnya, tdk bisa seketika.
1. menurut saya ada 3 segi yg dituntut dr seorg desainer bila dia mau eksis & survive di jaman ini, di mana desain kurang dihargai, yaitu:
ketrampilan mendesain, ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan berbisnis.

ketrampilan mendesain tentu Anda sdh mengerti, kita bahas ketrampilan berbisnis dulu:
– pelajari pasar, siapa saja pesaing kita, apa sj yg mrk lakukan, bgmn mengalahkan mrk, apa saja mslh dihadapi di pasar yg nanti kemungkinan akan dihadapi (misalnya desain yg krg dihargai, dll), siapa klien utama yg disasar? (ukm? perorangan? level tinggi / rendah?) bgmn mendekati klien? (gimana cara nyari klien? melalui siapa? org dalam? rekrut teman sbg tenaga marketing?). berapa tarif saya? berapa tarif pesaing?
– pelajari apa saja modal2 yg sudah dimiliki (misalnya: peralatan, tenaga kerja, waktu yg tersedia, network, dll), apa yg belum dimiliki (misalnya: network, pengalaman, dll)
– rencanakan masa depan bisnis, misalnya bikin target2 yg hrs dicapai dlm 1 th kedepan, 2 th kedepan, dst. lalu susun langkah2 apa yg hrs dilakukan utk mencapai target tsb.

itu sekilas mengenai ketrampilan bisnisnya, sbnrnya byk sekali tips2 membangun bisnis yg diberikan org scr gratis di web, bisa dipelajari, misalnya:
http://www.score.org/resources/business-planning-financial-statements-template-gallery
link di atas sarankan juga bagi mhsw saya, walopun bhs inggris, tp mudah dimengerti & mudah digunakan, itu sdh sgt komprehensif, cocok utk membangun bisnis dari nol.

di bawah ini adlh tips2 yg sifatnya soft skill:

Bagaimana Cara Membangun Bisnis?


selain artikel itu, byk artikel arketing lain yg berguna di situ.
nah link berikut ini ga usah beli produknya, tp artikelnya menarik utk membangun bisnis:

Order TCS

nah, ttg ketrampilan komunikasi:
– pelajari bgmn komunikasi dg klien scr tulisan, lisan, maupun gestur / sikap tubuh.
tulisan: bgmn menulis email pd klien yg baik & benar, bgmn menulis pesan singkat utk klien, dll
lisan: bgmn mendengarkan & menangkap dg tepat apa yg klien maksud (sy butuh waktu bertahun2 utk menguasai ketrampilan ini), bgmn cara bertanya yg baik, bgmn cara mengadakan pertemuan & berdiskusi, cara negosiasi & tawar-menawar harga, proyek, dll., cara mengatur pekerjaan & komunikasi dengan anggota tim, dll.

intinya bagi si klien itu: hrs jelas keuntungan apa saja yg dia dapatkan bila pakai jasa desain kita. misalnya dg mengatakan spt ini:
“Nanti kan Bapak akan mencetak ini dlm jmlh banyak, biaya yg dikeluarkan juga tidak main2, nah, amat disayangkan apabila desainnya justru tidak menjual, semua jadi sia2.” jadi bila kita menetapkan harga 1 juta misalnya, si Klien jgn dibiarkan kebingungan knp hrgnya mahal begitu, tp kita beri penjelasan yg mudah dimengerti & masuk akal, knp harganya segitu. biasanya apabila penjelasannya masuk akal, dengan membandingkan dg kualitas karya yg bagus, maka klien akan setuju. mereka bukannya tidak punya uang, dan mereka juga tau bhw: ada harga > ada kualitas, tp mrk hanya perlu diberi pengertian.

kesalahan desainer biasanya tidak menganggap klien itu sahabat, tp pihak lain yg hny diperlukan duitnya. desainer sebaiknya menganggap  klien itu seperti rekan kerjanya, hrs ditemani. tujuan utama komunikasi bisnis: membuat klien percaya pada saya. kalau ini sudah tercapai maka akan jauh lebih mudah, krn kita sdh mjd org kepercayaan klien.

sekian dulu Mas, mdh2an bermanfaat.

o iya, karya2nya lumayan koq, apalagi mengetahui bhw Anda tdk mengenyam pendidikan desain secara khusus, karya2 tsb jd spesial 🙂

ridho midanto
Wed, Jan 8, 2014 at 8:19 AM

waahh istimewa sekali pak.. sungguh sangat bermanfaat..
lalu apa hanya lulusan sma bsa berkerja disebuah studio desain pak ?
saya ingin kuliah dkv, tpi kendala biaya dan skill gambar sangat buruk, solusi nya bagaimana pak ?
apa yg harus diperbaiki dri design saya pak (walau saya sadar banyak bgt yg hrs diperbaiki )

Surianto Rustan
Wed, Jan 8, 2014 at 9:49 AM

Tmpt krj dsgnr kan ga cm di studio desain, sy 8 thn bkrj (beda2 tmpt) ga prnh 1 pun di studio dsgn ato advertising, tp seluruhnya di perusahaan umum spt di bank, penerbitan, IT, dll. Cb deh baca artikel yg sy tls di www.dgi-indonesia.com/bukamata ttg lapangan krj dsgnr grfs.

Lagipula tdk smua perusahaan cari dsgnr bdsrkan pendidikannya, ada yg bdsrkan portfolionya / kualitas karyanya. Dan yg penting jg adlh ketrampilan komunikasi lisan & gestur pas wawancara kerja dan komunikasi tulisan pas bikin surat lamaran & CV.

kl seseorg mengalami kekurangan cacad fisik, mk usahanya hrs 2x lipat org normal. Sy tdk menyamakan org yg tdk sekolah formal dg cacad fisik, tp usahanya memang hrs 2x lbh giat drpd org normal.

Ingat, kualitas diri seseorg tdk berdasarkan pendidikannya / pihak lain, melainkan kekuatan niat dirinya sendiri.
Jd kl merasa kurang di bidang A, ya hajar di bidang A sampai mahir, kurang di B, hajar di bidang B sampai mahir. Baru bs bersaing sejajar dg yg lain. Jgn hny terima nasib, tp rancang nasib kita msg2, sambil minta restu Tuhan.

Apalagi soal ketrampilan menggambar, itu sgt penting, toh tdk perlu mahir sekali. Semua ketrampilan bs dilatih & dipelajari oleh semua org. Bohong kl ada yg blg hny org2 yg berbakat yg bisa. Kl org lain bisa, sy pst bisa.

Yg jg sgt krusial dilakukan adlh: hrs byk lihat2 hsl desain para ahli, jgn cm yg dlm negri, tp luar negri jg. Di situs dgi-indonesia yg link di atas itu byk karya2 dsgn org sini, utk liat2 karya2 luar negri tinggal ke google, tulis: best graphic design, top graphic design, dll.

Manfaatkanlah akses internet dg optimal utk liat2 karya2 org lain. Dulu sy pny hobi jd ‘pemulung karya’, sy seneng donlotin karya2 org dlm & luar negri sampe 3-4 CD, trs tiap ari dibuka2 lg utk mempelajarinya. Ternyata karya2 itu mengendap di bwh sadar sy & di kemudian hr kl diperlukan tinggal dimunculkan dlm bentuk ide2. Itu bkn meniru melainkan memberi ide2. Jd makin sedikit liat = makin sdkt ide, makin byk liat = makin byk ide. Otomatis mempengaruhi karya dsgn kita.

Gitu Mas

ridho midanto
Thu, Jan 16, 2014 at 7:49 PM

kmrn bpk menyarankan sya utk berlatih menggambar.. nah saya harus mulai dri mana pak.. mohon bimbingannya…

Surianto Rustan
Wed, Mar 29, 2017 at 9:33 AM

Urutan belajar menggambar umumnya sbb:
– dimulai dari melenturkan tangan, yaitu dengan belajar menarik garis,
lurus & lengkung,
– menggambar bentuk2 dasar yang berbidang datar seperti lingkaran, kotak, dll,
– menggambar bentuk2 dasar 3 dimensi, seperti kubus, kotak, dll.,
– belajar mencontoh bentuk nyata yang geometris seperti gelas, kendi,
pensil, dll,
– mencontoh bentuk nyata yang organik seperti  bunga, tanaman, batu, dll
– perspektif/ruang
– menggambar hewan
– menggambar manusia

Di internet banyak sekali tutorial gratis untuk yang mau belajar
gambar Mas, berikut ini beberapa diantaranya:
– http://www.artistdaily.com/free-ebooks#drawing
– https://www.smashingmagazine.com/2009/09/50-clever-tutorials-and-techniques-on-traditional-drawing/
– http://www.dragoart.com/
yang ini juga banyak bgt tutorialnya Mas, silahkan dipelajari:
– http://www.onlypencil.com/blog/
saya sarankan 1 hari menyelesaikan 1 proyek saja dulu, dimulai dari yg
paling disenangi dan paling mudah dulu. besok ganti proyek yg lain.
tidak dapat dipungkiri, dalam sebulan pasti sudah banyak kemajuan,
asal latihannya tiap hari.

Dan ini ada beberapa buku bahasa Inggris yang bagus untuk belajar menggambar:
– Drawing for the Absolute Beginner: A Clear & Easy Guide to
Successful Drawing, by Mark Willenbrink, Mary Willenbrink
– How to Draw What You See Paperback, by Rudy De Reyna

Sementara itu Mas, selamat belajar.
Salam suxes.

Pertanyaan teman kantor: “berapa harga logo, kalo bisa jangan mahal2 ya, usaha saya kan masih kecil”

Fri, Jan 17, 2014 at 12:58 AM

Dear Pak Rustan, Salam Sejahtera untk bapak.

Hmm..saya mulai saja ya pak..maaf kalau saya ngirimnya malam2…habis saya kepikiran terus. Begini pak, sekarang saya bekerja sbagai tenaga in-house desain grafis di sebuah perusahaan di surabaya. Saya sadar bahwa faktanya, In-house itu tidak lebih sebagai tukang, karena kita di gaji. Perusahaan tidak menggaji kita karena analisa berpikir kita, melainkan ‘hasil’ dari kerja kita (hasil desain = komoditas). Jelas secara hati nurani sangat kontradiksi dengan peran sebagai seorang desainer. Namun saya yakin, ini hanya soal waktu saja bahwa suatu saat saya bisa mendesain dengan sebenar-benarnya artinya ada riset, ideation, kolaborasi, dan proses yang lain dalam menghasilkan sebuah karya desain.

Dan sekarang ada beberapa teman kantor saya yang ingin membuat logo dan identitas usahanya. Saya pikir inilah kesempatan saya untuk menunjukkan, dan mengarahkan mereka pada bagaimana desain yang berkualitas itu. Masalahnya adalah pertanyaan awal mereka selalu “berapa harga untuk membuat sebuah logo, kalo bisa jangan mahal2 ya, usaha saya kan masih kecil”. Jawaban saya selalu mengalihkan perhatian mereka dengan berkata “Anda isi dahulu pedoman kreatif saya dengan selengkap2nya”. Nah sekarang setelah mereka mengisi pedoman kreatif saya malah bingung, berapa ya harga yang harus mereka bayar untuk jasa saya??? Jujur saya sangat sulit pak untuk bicara harga desain, karena saya sering berpikir bahwa desain itu sebenarnya sangat sukar dinilai dengan uang. Namun kalau saya tidak bisa mengatakan harga nominalnya, saya kuatir lama-kelamaan malah menjadikan dibenak mereka dan semua orang bahwa desain itu gratis!. Apa saya harus bilang”berapa budget anda, untuk ini diluar biaya cetak”

Tue, Mar 28, 2017 at 11:44 PM

Pasar/industri Desain grafis sudah tidak seperti dulu lagi Mas, sudah tidak seksi. Makin murah dan makin tidak dihargai. Semua itu disebabkan oleh berbagai macam hal, terutama: TEKNOLOGI. Pesatnya perkembangan teknologi software/apps & web, menyebabkan semua orang bisa jadi ‘desainer instan’. ‘Mendesain’ cukup pakai smartphone, pakai puluhan apps gratis, yang isinya template & clipart siap pakai, dalam sekejap ‘desain’nya jadi. Teknologi itu menjadi awal timbulnya fenomena2 negatif lainnya, seperti: kontes desain, desain murah & desain graTis, dan timbulnya mindset & mitos2 salah tentang desain grafis yang bisa dibaca di: http://www.suriantorustan.com/bukamata-3-mitos-fakta-desain-grafis

Di tengah arus besar mindset masyarakat seperti di atas, bagaimana saya bisa meyakinkan orang soal value? Soal kualitas? Soal proses? Soal harga?

Sudah sejak tahun lalu saya susun presentasi mengenai fenomena desain grafis yang menyedihkan ini. Rencananya akan saya tulis secara lebih lengkap, nanti kalau sudah selesai akan saya publish di medsos. Jadi maksud saya, nanti jawaban saya soal harga/tarif, dll., mengacu pada tulisan tersebut. Jadi akan didapat gambaran yang jelas & menyeluruh soal fenomena desain grafis ini.

Ada ga website yang menyediakan jasa kontes2 desain, tapi yang tidak ada tipu menipunya?

Mon, Dec 16, 2013 at 1:47 PM
Pak Rustan, maaf ganggu.
Di indonesia ini, ada ga website yang menyediakan jasa kontes2 desain seperti di http://www.crowdspring.com tapi yang tidak ada tipu menipunya.
mohon bimbingannya 🙂

Mon, Dec 16, 2013 at 6:46 PM
Halo Mas, kita tdk bs menjamin kontes2 macam itu tidak ada tipu-menipunya. Kl sy perhatikan, kontes desain ada 2 macam, yg 1 itu semacam crowdspring, 99design, dll.
Jenis yg kedua, biasanya istilahnya bukan kontes, tp awarding, peserta dipersilahkan mengirimkan portfolio yg prnh dikerjakan utk kliennya. Lalu karya tsb akan dinilai keunggulan kualitasnya.
Menurut sy yg kedua itu lbh baik drpd yg pertama.
Utk memperdalam pengertian ttg kontes2 logo tsb dan akibat2nya, silahkan baca2:
www.nospec.com
www.Aiga.org/position-spec-work
Sekian dulu Mas, smg bermanfaat 🙂