Apa bedanya pekerjaan desain kontes logo VS proyek dari klien betulan?

A.C.
masih sibuk ya, pak? [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
sok sibuk tepatnya, sy belum komen ya?

A.C.
September 30, 2011
hehe.. belum.. [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
bntr ya
wah karyanya sudah banyak sekali, ini mah saya aja kalah ni

A.C.
September 30, 2011
sy korban kontes soalnya, pak
msh susah klo nyari real client [:(]

Surianto Rustan
September 30, 2011
gpp, yah semuanya pasti ada kelebihannya ada kekurangannya. dg real klien emang sih cape bgt tp kita sgt didewasakan secara pribadi

A.C.
September 30, 2011
mohon wejangannya, pak [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
wejangan apa nih?

A.C.
September 30, 2011
buat karya dan karir sy.. [:D]
klo dibandingin karya orang2 yg punya jalur akademis pasti punya sy msh jauh banget ya, pak?
gmn caranya biar bisa ngejar?

Surianto Rustan
September 30, 2011
hmm.. menurut pengalaman saya sih guru yg paling baik itu adalah pengalaman. coba perbanyak pengalaman dengan real client (bisa tanpa perlu meninggalkan pekerjaan yg ini – kompetisi), jadinya diri kita lebih kaya nantinya, bukan soal uang, tapi perkembangan kepribadian. sekolah ga terlalu menentukan koq, banyak juga yg sekolah formal tapi kalau memang malas atau ga ada keinginan belajar, ya sama saja. keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa kuat keinginan kita itu utk berhasil

Surianto Rustan
September 30, 2011
sekolah, latar belakang keluarga, teman, dll ga lagi mempengaruhi. cuma diri kita sendiri.
dinding penghalang kemajuan kita ya diri kita sendiri juga

A.C.
September 30, 2011
klo dinilai, kira2 karya sy dpt nilai apa, pak?
apa yg perlu ditingkatkan?
*kadang pengen juga dpt studi kasus layaknya mahasiswa, trus dinilai sm dosennya [:D]

Surianto Rustan
September 30, 2011
masalahnya desain grafis ga cuma sekadar hiasan / visual, yg dinilai dari penampilannya saja, tapi desain grafis itu satu paket dengan segala konsep di belakang karya tersebut. ini juga mungkin bedanya real klien dengan yg tidak, kalo ada real klien, kita berhadapan dengan real problem, kudu tau target audience-nya siapa, tau persis siapa perusahaannya, dia punya anak perusahaan ga, apa produknya, siapa pesaingnya, dll. dari situ semua baru menyusun strategi komunikasi (belum visual), terakhir baru visualnya. jadi penilaiannya ga cuma: bagus, jelek, ato secara visual saja, dan membuatnya / pendekatan visualnya tidak cuma disesuaikan dengan sektor industrinya / bidang pekerjaannya saja, tapi bisa juga dari spirit / jiwa si perusahaan, ato kecenderungan si target audience, atau bahkan ke hal2 yang spontan sifatnya seperti bentuk bangunannya yg unik, atau karyawannya yg semua orang muda, dll. itu yg setahu saya

A.C.
September 30, 2011
sy catat bener2, pak [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
desain grafis itu pemecahan masalah, memang hasil akhirnya berbentuk visual, tapi sebetulnya itu hrs bisa memecahkan masalah si klien, apakah itu meningkatkan penjualan (misal iklan produk, packaging, sign di rak toko), meningkatkan awareness thd produk tsb (iklan branding), mengajak target audience datang ke tempat tsb (display toko / pameran, iklan event), mengidentifikasi (logo perusahaan, produk & identitas visual lainnya), dll. kalau desain itu tidak bisa memecahkan masalah si klien itu desain yg tidak efektif – dianggap gagal.

Surianto Rustan
September 30, 2011
logo nantinya digunakan oleh si klien utk memperkenalkan diri, dipakai di segala produknya, di billboard, di koran, di tv, dll. akan digunakan utk identifikasi & jualan & mewakili brand / citrasi si klien, mungkin hal itu akan berlangsung selama 10 tahun sebelum logo itu diganti lagi. klien akan keluar uang sangat banyak utk itu semua. sayang kalau logonya hanya sekedar visual & dibuat lewat pendekatan yg hanya dari 1 sudut saja. not fair.

A.C.
September 30, 2011
kliatannya perlu baca ulang buku ‘mendesain logo’nya pak rustan nih..
sy baca lagi

Surianto Rustan
September 30, 2011
hehe yah saya sendiri masih belajar koq Mas, bukan cuma spy tambah pinter tapi spy tambah bijak [:)]
btw mohon maaf sekiranya ada kata2 yg kurang berkenan, namanya juga manusia jd suka salah bicara, harap maklum [:)]

A.C.
September 30, 2011
kata2 pak rustan tu halus banget+wise kok, pak
sy dpt ilmu banyak

A.C.
September 30, 2011
kira2 ada contoh brief dr real client+real case yg bisa sy lihat gak ya, pak? mungkin juga hasil desain dr brief itu
biar sy bisa belajar dr contoh riil..

Surianto Rustan
September 30, 2011
di buku logo saya da Mas Abi, halaman 37-38, itu klien saya beneran

A.C.
September 30, 2011
contohn brief yg di halaman itu brarti apa memang gk ada brief tertulis dr klien..
jd pak rustan yg riset & wawancara sendiri gitu?
lalu,rumus semiotika untuk menentukan visualisasi dr tiap keyword yg didapet dr brief tu gmn biar bisa pas?
*maaf ya, pak klo banyak nanya & pertanyaannya belibet
maklum,orang awam…

Surianto Rustan
September 30, 2011
sori barusan aku ke bawah bentar.
desainer sebaiknya selalu menganggap dirinya adalah pemberi solusi, klien itu tidak tau apa2 tentang desain krn itu mereka datang pada kita, mereka butuh solusi. utk mencapai solusi tsb kita yang guide mereka tahap2nya, krn kita yg tau seluk beluk desain.
setelah mengetahui klien itu siapa & apa problemnya, saya beri mereka kuesioner yg hrs mereka isi, selain itu juga saya interview. nah yg di buku logo tsb adalah hasil kuisioner & interview.
begitu sampai tahap brainstorming desain mah sudah lebih banyak feeling & membangkitkan perbendaharaan hubungan verbal – visual. sedangkan rumus2 semiotika sebaiknya sudah diluar kepala, krn itu kit hrs byk2 belajar, baca, melihat, menonton, dll, spy byk perbendaharaan datanya.

A.C.
September 30, 2011
buku yg recomended untuk belajar semiotika apa ya pak?

Surianto Rustan
September 30, 2011
saya belum menemukan buku semiotika berbahasa indonesia yg bagus di sini. tp resource yg bagus dari luar & berbahasa inggris ada:
http://www.aber.ac.uk/media/Documents/S4B/semiotic.html

A.C.
September 30, 2011
maturnuwun… [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
sama2 Mas Abi, suxeselalu!

A.C.
September 30, 2011
suxeselalu [:D]

Apakah kalau desain cover simetris, isi dalamnya juga harus simetris?

Desainer Dee
Bang Rustan, sy sudah membaca buku anda yg “Layout”..
yg ingin sy tanyakan,
tentang desain yg menggunakan elemen simetris,
untuk covernya sudah tersusun scr simetris, namun apakah halaman selanjutnya(bila itu dua muka) harus simetris juga???
atau ada ketentuan yg laen???
terimakasih bang..atas jawaban yg menginspirasi…

Surianto Rustan
December 22, 2011
Halo Mas Desainer Dee, setahu saya sih tidak ada aturannya dimana cover simetris lalu dalamnya harus simetris juga. Yang penting secara keseluruhannya tetap terlihat kesatuannya, dan unsusr penyatu itu tidak hanya balance, namun setiap elemen layout bisa jadi unsur penyatu, misalnya jenis huruf, warna, dan elemen2 lainnya. demikian setahu saya, salam suxes!

Desainer Dee
December 23, 2011
baik..baik.. bang… semoga semakin meng-inspirasi!!! makasih bang..

Bagaimana cara membuat desain yang catchy?

Aditya Fauzi
makasih bang udah di acc…
moga saya bisa belajar tentang design dari abang, dan karya karya abang…

Surianto Rustan
sam2.. silahkan kalau mau tanya2, saya akan jawab sebisa saya

Aditya Fauzi
bang cara bikin design yang bisa catchy dan berkesan ke orang gimana ya?
soalnya saya sering buat design, dan sering juga di tolak design nya…

Surianto Rustan
tergantung. mao bikin desain apa sekadar dekorasi / hiasan? kalo desain itu pemecahan masalah. kalo hiasan itu sekadar tampak bagus secara penampilan visual.
kalo pemecahan masalah berarti ada proses: 1. liat dulu apa masalahnya, 2. cari pemecahannya.
lihat permasalahannya antara lain: siapa target audience-nya? siapa kliennya? siapa pesaingnya? apa produknya? apa yg klien ingin sampaikan ke audience? dll
setelah permasalahannya, baru cari pemecahannya: bikin kesimpulan permasalahan dlm bentuk creative brief, brainstorming kata2 kunci, baru sketching, terakhir baru rapihin di komputer.
nah, kalo belom apa2 sdh mulai di komputer, biasanya sih alamat ditolak.

Aditya Fauzi
aaa….
bener banget bang, saya biasanya langsung buat aja di komputer…
karena belum tau, seharusnya dalam design ada survey dulu “pasar”-nya….
biasanya kalau dalam design untuk suatu instansi, yang saya harus cek itu instansi- nya secara umum, atau nurut dengan apa yang client inginkan?

Surianto Rustan
segala pengetahuan tentang ‘masalah’nya itu hrs didapat dari data2 yg valid, interview ke si kliennya tentu tetap hrs dilakukan tapi itu dipakai sebagai referensi saja, bukan yg utama, informasi lainnya didapat dari interview target audience, staf & karyawan perusahaan itu, polling ke masyarakat umum, dll. jadi nantinya didapat data2 yg jujur, bukan pemikiran klien yg biasanya dilebih2kan (terutama soal kehebatan perusahaan / produknya)

Aditya Fauzi
oh iya bener bener bang, biasanya gitu perusahaan memberikan “bumbu” yang berlebihan untuk pencitraan perusahaan nya…
untuk sekarang si saya bingung mau nanya apa lagi, tapi nanti boleh saya bertanya, ato apalagi gitu bang..
tentang design, dan hal yang lain..
boleh saya hubungi via pesan fb lagi?

Surianto Rustan
silahkan Mas, lewat fb message memang paling enak, atau boleh juga ke email saya: rustangrafis@gmail.com
btw apa boleh obrolan kita saya upload ke blog? supaya teman2 yg lain bisa belajar juga

Aditya Fauzi
boleh boleh bang…
dengan senang hati, oh iya bang..
bisa minta alamat blog nya juga?

Surianto Rustan
surianto.wordpress.com, silahkan lihat2, di situ sudah banyak obrolan yg saya upload, mudah2an berguna

Aditya Fauzi
okay… makasih bang obrolan nya…
obrolan nya berguna nih..

Surianto Rustan
sam2
smg sxs sll

Layout, Selera, Style

Selamat sore Pak Rustan berikut pertanyaan mengenai Layout :

1. Apa itu layout menurut bapak ?

Layout di dalam desain grafis itu: tataletak elemen-elemen desain terhadap suatu bidang dalam media tertentu untuk mendukung konsep / pesan yang dibawanya.

2. Seberapa pentingnya melayout dalam desain menurut bapak ?

Sangat penting, bahkan pada level tertentu bisa berperan sebagai identitas.

3. Sebagai desainer senior tentu bapak sudah menerima banyak klien dari berbagai golongan di Indonesia,
– Bagaimana selera masyarakat Indonesia secara umum ?
– lalu bagaimanakah tuntutan klien yang lebih pekat dengan faktor selera mereka dibandingkan unsur desain yang baik dan benar ?

Ah, di atas saya masih byk yg lebih senior, dan klien saya tidak sebanyak itu koq.

– Pertama-tama saya ingin meluruskan soal selera. Desain itu bukan sekedar selera, desain itu ilmiah, ada prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, ada metode / tahapan kerja, ada riset, tujuan, ada target audience, dll (silahkan baca tulisan saya di: dgi-indonesia.com/7-mitos-fakta-desain-grafis, sebagai bagian dari 3 tulisan singkat: dgi-indonesia.com/bukamata/ artikel tsb bisa didownload PDFnya & silahkan disebarluaskan lagi seluas2nya agar makin banyak orang mengerti apa itu desain grafis). Saya lanjutkan, jumlah desainer grafis di sini kan sangat sedikit dibandingkan jumlah masyarakat yang awam desain, pun demikian tidak semua desainer menguasai betul ilmunya dan tidak semua desainer punya sense desain yang baik, selain itu banyak pula yang menyatakan dirinya desainer tapi sebetulnya bukan, nah hasilnya makin sedikitlah desainer yang betul-betul paham desain.
Selain itu, masyarakat Indonesia ini sebagian besar miskin dan tidak berpendidikan, persoalan primer seperti sandang, pangan, papan, masih banyak yang belum terpenuhi oleh sebagian besar dari kita, desain menjadi kebutuhan kesekian. Jadi yang penting perut dulu, desain? Apa itu?

– Mengenai tuntutan klien: klien (masyarakat) masih berpendapat desain itu soal selera saja, hanya dekorasi / penghias, jadi mitos itu sudah sangat menyebar luas oleh karena itu perlu diluruskan dengan pendidikan (salah satu caranya adalah dengan menyebarluaskan PDF di BUKAMATA tadi). Masyarakat sama sekali buta tentang apa itu desain dan siapa itu desainer grafis, yang mereka tahu Cuma: desain itu murah! Jadi ini adalah PR kita bersama sebagai desainer, jangan cuma bisanya cari uang untuk kepentingan pribadi saja, tapi harus berpikir jauh ke depan: bagaimana nasib kita kelak. Tiap desainer harus paham bahwa kita punya tanggung jawab moral mendidik masyarakat soal ini, klien adalah bagian dari masyarakat yang terdekat dengan desainer. Menggerutu itu percuma, lebih baik kita belajar berkomunikasi yang baik, agar bisa menundukkan ketidak pedulian mereka terhadap desain grafis.

4. Apa yang menjadi alasan bapak sebagai desainer memilih inspirasi desain dari luar negeri khususnya Eropa ?

Sebetulnya saya pribadi menyerap gaya desain dari mana saja, tidak khusus Eropa. Ini masalah personal taste. Secara pribadi saya senang segala sesuatu yang simple tapi sarat makna, to-the-point, tanpa banyak hiasan2 yang tidak perlu. Desain2 Eropa kebanyakan begitu, berbeda dengan desain Amerika yang berkesan bombastis dan popular, atau desain Jepang yang terlalu sarat simbol lokalnya.

5. Seperti yang sudah kita ketahui, desain luar negeri khususnya Eropa simple namun indah, menurut bapak apakah desain seperti ini sudah memenuhi kriteria standar layout yang dianjurkan ? Mengapa ?

Harap membedakan antara ‘style’ dan ‘design’.
‘Design’ itu problem-solution, mencari pemecahan dari suatu masalah. Layout dalam area editorial, demikian pula area2 identity, advertising, environmental design, dll. semua itu masuk dalam disiplin desain grafis – memecahkan masalah visual (kebanyakan di bidang datar / 2D).
‘Style’ itu cuma salah satu cara / metode pemecahan masalah. Contohnya: karena target audience saya western minded (berkiblat ke Barat), maka saya pakai typeface dengan ‘style’ negara-negara Barat.
Apapun stylenya (apakah Eropa, Amerika, Jepang, dll), desain (termasuk layout) yang baik adalah yang bisa menyampaikan pesan secara efektif ke target audience.

6. Bagaimana pendapat bapak tentang perkembangan desain luar negeri dan dalam negeri pada perkembangan zaman sekarang ini ?

Disiplin desain grafis itu lahirnya di Eropa. Metode pendidikan desain grafis di Indonesia itu setahu saya dulunya diadopsi dari Eropa (Bauhaus). Umur desain grafis di Indonesia belum lama, kita lebih banyak mengadopsi gaya dari luar. Berbeda dengan seni murni yang sudah meraja di negeri sendiri, karena umurnya juga jauh lebih tua.
Karena lahir di Eropa, maka apresiasi masyarakat di sana juga jauh lebih dewasa terhadap desain grafis, selain mereka adalah negara maju di mana kebutuhan primer sudah terpenuhi, karena itu sudah bisa memberi perhatian kepada kebutuhan lain seperti estetika dan desain. Kemajuan desain grafis dan apresiasi terhadapnya juga cukup tinggi di Amerika dan negara2 maju lainnya, tapi di Indonesia kita lebih banyak mengadopsi gaya luar dan ya itu tadi: di jawaban no. 3.

7. Bagaimana pengaruh desain luar negeri terhadap desain layout dalam negeri yang sebagian besar terbilang penuh dan belum sesuai dengan prinsip-prinsip desain ?

Jawabannya sebagian adalah kumulasi dari jawaban2 sebelumnya:
– karena mitos ‘desain = dekorasi’, ‘desain = style’, ‘desain = selera’ masih menguasai masyarakat kita
– karena perut dulu, desain belakangan
– prinsip2 desain hanyalah tuntunan, yang lebih penting adalah paham bahwa: apakah desain tersebut bisa efektif menyampaikan pesan kepada target audience.
– camkan bahwa: tiap problem desain punya pemecahannya sendiri-sendiri. Problem A pemecahannya A, problem B pemecahannya B. Kalau berpikir ‘desain = style’ ini bahaya. Tidak semua layout dengan ‘style’ Amerika cocok untuk semua iklan rokok, atau International Typographic Style (Swiss Style) tidak selalu cocok untuk semua layout poster. Semua tergantung dari problemnya, risetnya, target audience-nya, tujuannya, dll.

Wawancara seputar Desain Grafis dan Permasalahannya

1. Apa itu desain GRAFIS?

Bila pertanyaan ini diajukan pada tahun 1900an awal, jawabannya akan jauh lebih sederhana dibandingkan tahun 2011 (sekarang). Menjawab pertanyaan itu pada saat ini harus dilihat dari berbagai dimensi dan sifatnya conditional (tergantung dari siapa, kapan, di mana, dll):
1. Umum, 2. Personal, 3. Orang di level tertentu, di tempat tertentu, di waktu tertentu.

Umum: ini saya ambil dari tulisan saya di www.dgi-indonesia.com/bukamata, di situ ada 3 artikel, silahkan download PDF-nya dan menyebarluaskannya kepada siapapun, agar makin banyak orang mengenal apa itu desain grafis.
Wujud-wujud desain grafis dapat dengan mudah ditemui di mana-mana. Brosur, surat kabar, surat-surat tagihan, kartu kredit, tagihan listrik, uang, halaman Facebook, twitter, di BB, di iPad, iklan majalah, billboard, rambu lalu lintas, logo, pada papan nama restoran, pada bungkus permen, pada kartu nama, dan lain-lain, semua itu adalah wujud desain grafis yang sering dijumpai. Kalau diperhatikan, rata-rata diterapkan dalam bidang datar (dua dimensi).
Semua benda itu fungsinya untuk berkomunikasi,
menyampaikan identitas dan pesan dari suatu pihak ke pihak lainnya.
Contohnya sebuah billboard berisi Iklan sepeda motor, bertujuan untuk:
menyampaikan identitas dan pesan ajakan dari si produsen kepada masyarakat: “ayo beli motor ini, gesit, irit”.
Supaya dapat ditangkap lebih cepat dan tepat oleh target audience, maka pesan-pesan yang berupa teks, gambar, foto, maupun elemen lainnya itu diberi identitas, ditata letaknya, diberi warna dan atribut lain yang menarik perhatian.
Itulah desain grafis.

Personal: ini istilah desain secara pribadi dari orang-orang yang telah berkecimpung dalam dunia desain. Beberapa contoh:
“Desain menciptakan kebudayaan, kebudayaan menciptakan nilai, nilai menentukan masa depan. Oleh karena itu desain bertanggung jawab atas dunia yang akan ditempati anak cucu kita” – Robert L. Peters. “Design is directed toward human beings. To design is to solve human problems by identifying them and executing the best solution.” – Ivan Chermayeff.
Dan banyak sekali desainer yang mendefinisikan desain berdasarkan opini dan pengalaman pribadi mereka.

Orang di level tertentu, di tempat tertentu, di waktu tertentu: jawaban tentang ‘apa itu desain grafis’ untuk seorang awam (lihat jawaban Umum di atas), seorang mahasiswa, seorang desainer profesional, seorang di Jakarta, seorang di Papua, seorang di tahun 1970, seorang di tahun 2050, semua memerlukan jawaban yang berbeda.

2. Menurut bapak / ibu desain GRAFIS yang baik itu seperti apa? Mengapa?

Desain grafis yang baik itu: memenuhi persyaratan sbb:
– persyaratan marketing & ekonomis: menjawab kebutuhan klien dan masyarakat
– persyaratan desain grafis itu sendiri: ada riset, kedalaman konsep, menggunakan cara kerja yang benar, ada eksplorasi, estetis & harmony, kreatif, unity
– persyaratan sustainability: tidak membohongi orang, tidak merusak masyarakat serta lingkungan, ada pendidikan bagi klien & masyarakat.
Mengapa? Karena desain grafis itu tidak sekedar jualan lewat visual, harus dipahami bahwa desain grafis adalah media komunikasi yang sangat powerful untuk mempengaruhi massa (lihat branding Barrack Obama), otomatis desainernya -sebagai orang yang sangat powerful – punya tanggung jawab besar terhadap masyarakat dan lingkungan alamnya. Ingat quotation dari film Spiderman? “With great power, comes great responsibility”.

3. Bapak / ibu menilai desain GRAFIS dari segiapa? Dan kenapa?

Ya itu tadi di atas.

4. Menurut bapak / ibu desain GRAFIS yang buruk seperti apa? Mengapa?

Yang tidak memenuhi persyaratan pada jawaban nomor 1 di atas

5. Apakah desain GRAFIS yang disukai masyarakat merupakan desain yang baik? Mengapa?

Belum tentu. Mungkin ia memenuhi persyaratan marketing & ekonomis, tapi bagaimana dengan persyaratan desain grafis itu sendiri, dan persyaratan sustainability?
Pilih mana:
– ikut maunya masyarakat, atau:
– masyarakat yang ikut kita
Saya berpikir, penjajahan di negeri ini sebetulnya terus berlangsung sampai sekarang, oleh siapa? Oleh bangsa sendiri, oleh para pemilik & pengelola media massa: stasiun TV, perusahaan film, dll. karena tujuannya hanya uang saja sehingga pilih ikut maunya masyarakat, contohnya banyaknya film bertema pocong. Coba kalau orang2 yang punya power tsb (para pemilik media) mau kompak memenuhi syarat sustainability, saya yakin secara berangsur-angsur penyakit2 di masyarakat akan sembuh.
Tidak jauh berbeda dengan para desainer grafis yang turut andil dalam penjajahan tsb, meng-iya-kan saja maunya klien untuk berbohong, lewat iklan yang suka meniru, desain yang murahan, menjerumuskan dan tidak mendidik, dll.

6. Apakah mungkin hasil desain GRAFIS orang awam bisa lebih baik dibanding profesional? Jika iya, apakah itu berarti tingkat pendidikan tidak mempengaruhi hasil desain GRAFIS?

Lebih baik dalam hal apa? Kalau hanya tampak indah secara visual (fisik) saja dan jago dalam penggunaan tools (softwares) mungkin orang awam bisa, tapi masalahnya yang seperti itu bukan desain grafis tapi dekorasi (make-up), (saya sarankan baca: www.dgi-indonesia.com/7-mitos-fakta-desain-grafis/Desain grafis, supaya lebih paham perbedaan antara: apa itu desain grafis dan apa itu dekorasi). Sedangkan desain grafis itu selain memperindah juga punya fungsi: menyampaikan pesan dan identitas. Tujuannya untuk menjual, memberi informasi, menanamkan citra ke benak konsumen, dan lain-lain. Nah yang seperti ini pastinya butuh riset, analisa, cari strategi, dll. Nah keahlian riset, analisa, strategi, dll ini yang mungkin tidak dimiliki oleh awam. Jadi jelas tingkat pendidikan pastinya mempengaruhi hasil desain grafis.

7. Apakah pendapat masyarakat awam tentang suatu desain GRAFIS dapat mengubah nilai desain GRAFIS tersebut?

Maaf tapi saya tidak mengerti maxud pertanyaan ini. Mohon dijelaskan lebih detil dulu.

8. Bagaimana standar desain GRAFIS di Indonesia menurut bapak / ibu?

Bukan maksud saya untuk merendahkan orang lain, tetapi faktanya di Indonesia banyak orang yang menyebut dirinya ‘desainer grafis’, entah apa pekerjaan maupun latar belakangnya. Nah kaum awam yang menyebut dirinya ‘desainer grafis’ ini mungkin minim pengetahuannya tentang ilmu desain grafis dan value seorang desainer grafis. Boro-boro bicara tentang sustainability, rakyat kita masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan, maka pikiran pertama mereka adalah perut dulu, kualitas desain belakangan. Hasilnya: tercipta banyak kelas2 desainer grafis di sini, mau yang harga serba 20ribuan ada, yang serba 500ribuan ada, yang medium dan high class juga ada.

9. Apakah selera masyarakat mempengaruhi hasil dan nilai desain GRAFIS di Indonesia?

Sangat tergantung para desainernya. Kalau pribadi kita masing2 menilai diri kita sendiri sebagai murahan dan berprinsip ‘ikut kemauan masyarakat’ (lihat jawaban nomor 5), sangat besar kemungkinan jawabannya Ya. Tapi kalau kita mau kompak dan terus berjuang mendidik masyarakat tentang apa itu desain grafis & siapa itu desainer grafis (diri kita) dan mematok diri kita dengan standar yang tinggi (bukan cuma harga, tapi: cara kerja, kecerdasan, wawasan, keilmuan, taste, sense, dll), maka kita bisa mengubah keadaan tsb menjadi: masyarakat yang ikut kita > standar desain grafis di Indonesia menjadi tinggi dan memiliki martabat yang layak.

10. Apa pendapat tentang desain GRAFIS yang menurut bapak / ibu buruk tapi disukai masyarakat?

Buruk dari segi apa? Visual semata? Unity? Kedalaman konsep? Maaf, belum jelas pertanyaannya

11. Apakah desain GRAFIS yang baik harus memenuhi prinsip-prinsip desain GRAFIS? Jika iya, desain GRAFIS macam apa yang lebih diprioritaskan?
a. Desain GRAFIS yang diterima masyarakat
atau
b. Desain GRAFIS yang memenuhi prinsip-prinsip desain GRAFIS?

Anda harus mengerti dulu bahwa penilaian terhadap desain tidak hanya pemenuhan persyaratan desain grafis itu sendiri (lihat jawaban no.2) tapi lebih dari itu, ada persyaratan ekonomis, dan persyaratan sustainability. Desain grafis yang baik tentunya yang mencapai persyaratan sustainability, selain ekonomis dan persyaratan desain grafis itu sendiri.