Pertanyaan teman kantor: “berapa harga logo, kalo bisa jangan mahal2 ya, usaha saya kan masih kecil”

Fri, Jan 17, 2014 at 12:58 AM

Dear Pak Rustan, Salam Sejahtera untk bapak.

Hmm..saya mulai saja ya pak..maaf kalau saya ngirimnya malam2…habis saya kepikiran terus. Begini pak, sekarang saya bekerja sbagai tenaga in-house desain grafis di sebuah perusahaan di surabaya. Saya sadar bahwa faktanya, In-house itu tidak lebih sebagai tukang, karena kita di gaji. Perusahaan tidak menggaji kita karena analisa berpikir kita, melainkan ‘hasil’ dari kerja kita (hasil desain = komoditas). Jelas secara hati nurani sangat kontradiksi dengan peran sebagai seorang desainer. Namun saya yakin, ini hanya soal waktu saja bahwa suatu saat saya bisa mendesain dengan sebenar-benarnya artinya ada riset, ideation, kolaborasi, dan proses yang lain dalam menghasilkan sebuah karya desain.

Dan sekarang ada beberapa teman kantor saya yang ingin membuat logo dan identitas usahanya. Saya pikir inilah kesempatan saya untuk menunjukkan, dan mengarahkan mereka pada bagaimana desain yang berkualitas itu. Masalahnya adalah pertanyaan awal mereka selalu “berapa harga untuk membuat sebuah logo, kalo bisa jangan mahal2 ya, usaha saya kan masih kecil”. Jawaban saya selalu mengalihkan perhatian mereka dengan berkata “Anda isi dahulu pedoman kreatif saya dengan selengkap2nya”. Nah sekarang setelah mereka mengisi pedoman kreatif saya malah bingung, berapa ya harga yang harus mereka bayar untuk jasa saya??? Jujur saya sangat sulit pak untuk bicara harga desain, karena saya sering berpikir bahwa desain itu sebenarnya sangat sukar dinilai dengan uang. Namun kalau saya tidak bisa mengatakan harga nominalnya, saya kuatir lama-kelamaan malah menjadikan dibenak mereka dan semua orang bahwa desain itu gratis!. Apa saya harus bilang”berapa budget anda, untuk ini diluar biaya cetak”

Tue, Mar 28, 2017 at 11:44 PM

Pasar/industri Desain grafis sudah tidak seperti dulu lagi Mas, sudah tidak seksi. Makin murah dan makin tidak dihargai. Semua itu disebabkan oleh berbagai macam hal, terutama: TEKNOLOGI. Pesatnya perkembangan teknologi software/apps & web, menyebabkan semua orang bisa jadi ‘desainer instan’. ‘Mendesain’ cukup pakai smartphone, pakai puluhan apps gratis, yang isinya template & clipart siap pakai, dalam sekejap ‘desain’nya jadi. Teknologi itu menjadi awal timbulnya fenomena2 negatif lainnya, seperti: kontes desain, desain murah & desain graTis, dan timbulnya mindset & mitos2 salah tentang desain grafis yang bisa dibaca di: http://www.suriantorustan.com/bukamata-3-mitos-fakta-desain-grafis

Di tengah arus besar mindset masyarakat seperti di atas, bagaimana saya bisa meyakinkan orang soal value? Soal kualitas? Soal proses? Soal harga?

Sudah sejak tahun lalu saya susun presentasi mengenai fenomena desain grafis yang menyedihkan ini. Rencananya akan saya tulis secara lebih lengkap, nanti kalau sudah selesai akan saya publish di medsos. Jadi maksud saya, nanti jawaban saya soal harga/tarif, dll., mengacu pada tulisan tersebut. Jadi akan didapat gambaran yang jelas & menyeluruh soal fenomena desain grafis ini.

Apa saja faktor yang menentukan harga desain? profesionalisme? lamanya pengerjaan? banyaknya permintaan klien? Bagaimana dengan maraknya jasa desain online yang murah?

Augusty Katherina
Selamat Sore Pak Rustan..

Ngobrol lg ya pak..
Saya masih dibingungkan dengan bagaimana untuk mematok harga desain. Apa saja yg mendasari penentuan harga desain. apakah profesionalisme /lamanya pengerjaan /banyaknya permintaan klien /…..

Saya masih mengerjakan proyek sebelumnya, pertama klien minta desain kemasan kopi kemudian nambah lagi (stiker, banner, spanduk, seragam, table menu, tshirt utk gift) utk keperluan kafenya.
dan saya blm menentukan harga, terus terang pak saya masih bingung soal harga desain. saya takut kerendahan /ketinggian ngasi harga. Tp saya jg pengen desain saya dihargai. krn saya jg kerjakan melalui proses berpikir.

Saya pernah searching ttg harga desain, kmdian saya ceritakan kpd teman saya dan dia blg “itu yg sdh profesional kali”. Memang bs diblg saya blm ckp berpengalaman, tp setiap mendesain saya selalu kerjakan dgn dedikasi. dan menjlnkan proses desain (riset, analisis, brainstorming, desain). Saya tdk ingin disamakan dgn “tukang desain” (desain tanpa berpikir).
Sblm klien saya mempercayakan saya utk mendesain, dia pernah memperlihatkan desain yg tlh dibuat sblmnya oleh desainer lain(yg sdh bekerja diperusahaan desain), namun desainnya sgt mengecewakan klien, saat saya lht jg desainnya terlihat tdk “baik”.
Dlm menentukan harga saya jg tdk mau dilemahkan dgn kata ‘blm profesionalisme’. Dan bagaimana bila klien sgt puas dgn desainnya.
Lalu mnrt pak Rustan bagaimana?

Ada rumus harga desain ga pak? 🙂

Sebelumnya terimakasih pak sudah mau berbagi.
God Bless.

surianto rustan
Halo Katherina,
mohon maaf baru bisa balas sekarang,
Mengenai harga desain, ini saya paste cuplikan2 hsl saya diwawancara oleh teman2 lain ttg topik yg sama mudah2an bisa membantu:

8. Saya kan seorang calon desainer, dan dalam perjalanan desain saya cukup banyak order yang masuk. Sampai sekarang saya masih bingung
bagaimana saya memberikan tarif harga. Saya bimbang, apakah saya harus memberikan tarif harga pada umumnya, atau pasrah saya jika penawaran rendah (setidaknya lumayan dapat pengalaman dan portfolio)? Dulu pengalaman bapak bagaimana?

Dulu saya juga dibayar rendah koq. Maklumlah, masih kuliah atau baru lulus kuliah, punya pengalaman kerja apa? Paling2 portfolio yg kita
tunjukkan pada klien adalah tugas2 kuliah, bukan real project. Nah yg perlu diingat adalah: profit seorang desainer tidak hanya berupa uang, tapi sangat penting juga: pengalaman (pengalaman mendesain agar makin mahir, pengalaman menghadapi klien, dll), portfolio, link / relasi (mendapat channel / relasi2 bisnis yang baru), promosi (apabila karya kita bagus dan klien senang, mungkin dia akan umumkan ke teman2nya mouth to mouth, ini jadi promosi gratis buat kita), berkah & doa (apabila klien senang dan merasa terbantu, maka ia akan berterima kasih pada kita dan mungkin mendoakan kita), bukankah semua ini profit yang luar biasa?

Untuk seorang pemula, cara menghitung harga desain bisa berdasarkan man-hours atau man-days. perkirakan berapa lama waktu yg dibutuhkan utk mengerjakan desain tersebut, kalikan dengan harga perjam atau perharinya. sedangkan harga perjam atau perharinya dihitung dari ongkos2 yang dikeluarkan untuk mengerjakannya (listrik, internet, komputer, uang kost, makan, minum, transport ke kantor klien, dll)
dalam sehari / sejam. maka nanti akan ketemu perkiraan harganya.

Apabila kamu sudah 5 tahun kerja, portfolio dan link sudah banyak, barulah silahkan tambahkan harga personal-mu, berdasarkan seberapa
besar personal brandingmu.

10. Dan dalam penentuan masalah tarif harga, bagaimana perubahan patokan tarif harga dari seorang desainer pemula sampai menjadi
seorang desainer yang terkenal seperti bapak ini?

Aduh, saya masih amatiran gini koq. mengenai tarif, ya itu tadi, setahun bekerja, 5 tahun bekerja, 10 tahun, 20 tahun, pasti seharusnya
tambah mahal, kan portfolio & list klien sudah panjang. Nah kalo saya harga saya naikkan begitu saya mengajar jadi dosen, pas buku-buku saya terbit, bergabung dalam komunitas desainer grafis, dan sejak menjadi pembicara, dll. karena semua itu menjadi bargaining power kita / jd punya kekuatan atas harga. cara lain adalah: memenangkan kompetisi desain, punya klien perusahaan besar, menjadi juri lomba desain, dll.

12. Bagaimana saran bapak dalam menangani customer yang banyak maunya, tapi menaruh harga patokan yang sangat rendah? saya masih sangat bingung dalam menego harga, tapi tetap ingin memberikan kesan baik pada customer.

Nah untuk itulah kita sebagai desainer harus kenal apa itu desain grafis, apa bedanya dengan hiasan / dekorasi semata, kenapa harganya tidak murah, mengapa harus riset, bagaimana tahapan kerja mendesain, dll. Desainer itu kalau mau dihargai (termasuk dihargai karyanya) pertama-tama harus menghargai dirinya dulu, dengan apa? dengan baca, mempelajari, cari tau siapa dirinya sendiri, apa kekuatan saya, di
mana kelemahan saya, dll. Jadi pertama2 sebelum minta dihargai, tolong hargai diri sendiri dulu.

Kedua, harus tau mengapa klien dan masyarakat bisa berpikiran begitu terhadap desain, mengapa mereka menawar serendah2nya, apa sebabnya? apakah cara komunikasi saya yang kurang baik? apa penampilan saya kurang meyakinkan? apa saya sudah berbicara dengan cara pandang si klien? atau saya masih menganggap klien juga tau desain? apakah saya dapat menerangkan apa itu desain grafis kepadanya? dll.

Utk klien yg cerewet, saya memandangnya sebagai sasaran edukasi saya, ini dia org yg tepat utk di edukasi mengenai desain grafis, tentunya
dengan cara2 yg sopan & tidak menggurui. Bila ia tetap tidak mau mengerti ya sudah terima saja perlakuannya tapi dengan tanpa
menurunkan harga saya, tinggal dia mau terima atau tidak. apabila tidak, ya mungkin ia cukup dengan desain yg kualitasnya yg lebih
rendah, kan memang ada kelas2 desainer dan target grupnya sendiri. Toh jodoh & rejeki di tangan Tuhan. Daripada saya menurunkan harga (nanti desainer lain marah / yg paling buruk: profesi desainer grafis jadi mati), lebih baik saya bertahan. Biasanya sih kalau 1 klien ga jadi, 3
klien gol.

8. bagaimana cara bapak untuk menghargai (memberi harga) karya yang sudah bapak ciptakan?

Tentunya saya menghitung dulu basic resource yang saya pakai untuk membuat proyek tsb, yaitu waktu, uang, tenaga, tenaga lain yang saya
kontrak, + biaya produksi (kalau termasuk dalam kontrak), setelah itu saya tambahkan presentasi tertentu sesuai dengan brand value saya saat
ini. Tapi tidak tertutup kemungkinan hal-hal lain juga masuk dalam perhitungan, misalnya: tingkat kesulitan pekerjaan yang sangat tinggi,
besar-kecilnya perusahaan / banyak-sedikitnya produk, jauh-dekatnya klien (transportasi), dll.

Saya juga menyarankan kamu untuk membaca2 website saya di bagian learning, karena semua wawancara dan tanya jawab dengan teman2 lain ada di situ, untuk melengkapi pertanyaanmu soal tarif desain.
http://www.suriantorustan.com/en/learning/

atau bisa juga ke klinikonsultasi di blog saya:
http://surianto.wordpress.com/category/klinikonsultasi-2/

Nah, seandainya setelah baca2 masih bingung dan ada yg mau ditanyakan soal tarif, jangan sungkan2 tanya lagi ya.

Suxeselalu!

Augusty Katherina
Terimakasih pak Rustan..
Saya pelajari dulu pencerahan dr pak Rus, sambil ngitung2 hehe…

Skrg saya mo nanya tentang maraknya jasa desain yg ditawarkan dengan harga murah bahkan yg nerima online jg semakin banyak. Menurut pak Rus gimana ttg hal ini?

Suxes jg pak 🙂

surianto rustan
yah itu tidak dapat dielakkan, pada akhirnya memang ada kelas2 desainer, ada yang kelas 50rb, ada yg kelas 500rb, ada yg kelas 1 juta, 5 juta, 10 juta, 100 juta, 1 M, dll.

desainer tidak bisa hanya menguntungkan dirinya sendiri dan keluarganya saja, tapi berkaitan dengan seluruh desainer lain. satu orang mematikan harga maka terjadilah perang harga murah2an sampai gratis.

Desainer sepantasnya meningkatkan kualitas pribadi dan kualitas karyanya, tidak hanya cari uang cepat. kalau kualitas dirinya baik, belajar terus, belajar komunikasi yang baik, cara bicara dengan klien, cara bisnis yang baik, belajar marketing, belajar bahasa asing, memperdalam pengetahuan tentang desain, bergaul dengan desainer lain sampai ke luar negeri, maka kita tidak perlu berebut sepotong kue lokal, tapi bisa bikin sendiri kue sebesar yang kita mau yang lingkupnya internasional. pasar tidak cuma di Indonesia, tapi juga di luar negeri. mengapa tidak
berani? karena minder, tidak bisa bahasa inggris, mengapa pengetahuan desainnya sedikit? karena tidak bisa bahasa inggris, sedangkan buku2
desain (wong asal ilmunya dari Eropa) rata2 berbahasa Inggris. tidak pede? minder? itu karena tidak mau belajar, bukan karena kemampuan
otaknya yang terbatas. orang yang tidak begitu cerdas bisa jadi mahir sekali karena rajin belajar.

jadi perdebatan yang selama ini kita dengar tentang adu murah harga di dalam negeri, itu sikut2an sendiri antara pihak2 yang mungkin minder karena tidak meningkatkan kualitas dirinya sendiri dan karyanya. kemajuan desain grafis negara ini semua ada di tangan para pelakunya sendiri.

lebih jauh lagi silahkan baca artikel tanya jawab yg ada di website & blog saya, sudah sering sekali hal ini dibicarakan & didiskusikan,
jangan sampai ketinggalan berita, jadi silahkan disharekan ke sebanyak2nya teman agar makin banyak orang mengerti.

Daaaaaa..

Adakah majalah desain grafis di Indonesia saat ini? Bagaimana mendesain dengan deadline super singkat? Bagaimana supaya dapat ide cepat? Desain gratis atau dicharge?

Raden Andi Setiawan
pak
manggil bapk atw mas ni

10:47pm
Surianto Rustan
halo

10:48pm
Raden Andi Setiawan
sibuk pak
kayaknya banyak jadwal ni
tuk jd pmbicara

10:55pm
Raden Andi Setiawan
pak
ada recomendasi majalah design ga
dah lama ni ga di supply trend2 design

11:00pm
Surianto Rustan
halo, majalah desain sekarang cuma diproduksi oleh kampus, tp semuanya recomended, soalnya digarap dgn serius:
Masterpiece -UMN
ArtMax – Untar
TitikDua – Binus

11:03pm
Raden Andi Setiawan
di jual publik ga pak
dimedan ga ada tu ketiga tianya

11:05pm
Surianto Rustan
ga dijual umum, hanya kalau ada event seperti Design Cooking ini. Atau coba kontak redaksinya, harusnya sih bisa dipesan & dikirim lewat Tiki.
Coba hub Fb: Triden Tan (Masterpiece)

11:05pm
Raden Andi Setiawan
y dua lagi ada kontak personnya pak
concept dah ga ada lagi ya

11:07pm
Surianto Rustan
sbntr sy carikan
ini page-nya ArtMax, coba tulis komen sj / message: http://www.facebook.com/groups/55096127881/?fref=ts
Titikdua: http://www.facebook.com/TitikDuaTidu

11:11pm
Raden Andi Setiawan
bapak aktif di y mana

11:11pm
Surianto Rustan
semuanya saya support, semua teman-teman saya

11:12pm
Raden Andi Setiawan
ooo bapak aktif di ke tiga nya
kirain bapak cuman di masterpiece

11:12pm
Surianto Rustan
tidak, saya tidak aktif juga, hanya mengamati, kadang2 memberi input & artikel

11:13pm
Raden Andi Setiawan
bapak tau ga kemana concept sekarang

11:13pm
Surianto Rustan
sudah bubar Mas

11:14pm
Raden Andi Setiawan
pindah atau bubar total pak
pak boleh tanya2 gak
mengenai job design

11:23pm
Raden Andi Setiawan
gini pak
saya biasa ngerjain design
tapi y deadlinenya super pendek
kadang2 ditunggu malah

11:24pm
Surianto Rustan
trs?

11:24pm
Raden Andi Setiawan
sering sih merasa ga puas dengan y dibuat
tapi user ga pernah nolak apa y saya buat
menurut bapak saya y kurang expert tuk cairkan ide atau memang org2 y jadi client saya cuek thd design

11:26pm
Surianto Rustan
wah, mnrt sy sdh baik apabila kita tdk pernah puas thd desain sendiri, artinya selalu ada dorongan utk belajar. tdk peduli apakah org suka dgn desain yg kita buat, tp kita terus mengembangkannya. sy rasa itu baik sekali
berkarya itu tidak sebatas membuat klien senang
tapi ya kita ini hidup utk berbuat sebaik2nya

11:28pm
Raden Andi Setiawan
biasa bapak klo ada deadline pendek, tuk dapat ide biasanya gmn sih
gmn tuh pak

11:43pm
Surianto Rustan
cara paling mudah, hrs sering2 baca buku2 desain / browsing melihat desain2 para desainer2 ahli, banyak nonton film yg sifatnya fantasi / science fiction, kalo ada pameran / seminar, dll rajin datang utk mendapat byk inspirasi, bergaul dg para pakar2 desain, dan terus berkarya sambil belajar

11:43pm
Surianto Rustan
kalau itu semua sering dilakukan, biasanya jd mudah keluar ide

11:44pm
Raden Andi Setiawan
kayaknya cuman browsing sama nonton aja y sering
dimedan ga pernah ada seminar desain
jarang kali
terakhir kali BiNus center y ngadakan
tapi itu pun pembicaranya kawan sendiri

11:46pm
Surianto Rustan
o begitu.

11:46pm
Raden Andi Setiawan
majalah dlu sering beli
waktu concept masih ada
trus pak
saya tanya lagi ya
biasanya job y saya terima bukan sekedar desain
tapi sampai produksi jg
nah, biasanya saya include kan biaya desain ke prduksinya
terkadang malah desain sy ga kelihatan fee nya
ada kiat2 ga biar angkat itu ke permukaan biar jd ada row tersendiri di penawaran tuk biaya desain

11:51pm
Surianto Rustan
wah sebaiknya ada biaya desain tersediri, ini mendidik Klien bahwa desain itu tidak cuma templok, melainkan butuh usaha & waktu utk membuatnya, makanya di-charge.
bilang pada klien: kalau mau gratis saya juga bisa, caranya: pakai template, tapi ga tanggung kalau dituntut orang kelak, apabila desainnya mirip sekali dengan desain lain yg sudah ada, krn pernah dipakai oleh org lain juga.

11:54pm
Raden Andi Setiawan
tapi dimedan khususnya,banyak percetakan y dah include gitu dagangnya

11:54pm
Surianto Rustan
nah supaya tdk mirip dengan desain manapun, maka saya bikin sendiri dengan ide sendiri, dan utk itu ada proses yg tidak mudah, yaitu riset, walaupun riset kecil2an, namun itu perlu, lalu saya hrs cocokkan dengan audiens-nya dan dengan perusahaannya / produknya, lalu setelah itu menentukan layout, style, huruf / teks, warna, dll, byk sekali yg hrs dilakukan

11:54pm
Surianto Rustan
itu pilihan mau ikut arus atau bikin arus sendiri
karena saya sudah mengalami sendiri, ternyata bisa tanpa harus merendahkan harga / ikut2an arus
Kawan2 saya di Bandung & Semarang juga telah mengalami hal yg sama, sehingga kami yakin ini bisa, asal punya iman & sadar tanggung jawab moral bhw kita memang hrs mengedukasi masyarakat yg belum tau apa itu desain
hmm.. supaya kita dihargai, yg penting kita sendiri hrs menghargai diri sendiri, yaitu dengan:
tau apa itu desain grafis, dan tau siapa itu desainer grafis.
apa sudah baca artikel BUKAMATA di dgi-indonesia.com/bukamata
silahkan pelajari dulu, bahkan silahkan dishare kemana2 sbg edukasi bagi masyarakat

11:58pm
Raden Andi Setiawan
bener juga ya
klo diluar sana bisa seharusnya di medan juga bisa
saya check ni pak linknya
belum ngantuk kan pak
biasanya bapak kalau ada client minta desain mematok berapa hari pengerjaan pak?

12:10am
Surianto Rustan
tergantung pekerjaannya Mas

12:12am
Raden Andi Setiawan
saya paling banyak terima deadline pendek itu kegiatan gathering
pengadaan material gathering
merchandise dan lainnya
kayak backdrop,spanduk,hadiah
biasanya bapak klo buat begituan minta waktu berpa lama

12:15am
Surianto Rustan
wah sy malah belum prnh dpt order desain event

12:16am
Raden Andi Setiawan
kalau y lainnya pak
normally berapa lama

12:21am
Surianto Rustan
tergantung Mas, kalau pekerjaan bikin brosur dkk paling2 1 minggu, tp biasanya sy tdk mau kalau pekerjaannya cuma 1, misalnya brosur saja, krn itu sy tawarkan lainnya yg bermanfaat bagi si klien, krn itu biasanya 1 paket: brosur, folder, flyer, dll. paling lama pernah sampai 1 tahun, krn nambah2 terus, tp semuanya dibayar. itu pekerjaan identity / logo

12:22am
Surianto Rustan
btw saya mohon diri dulu ya Mas, krn sudah larut, besok2 silahkan sapa saya, kita ngobrol lagi. selamat malam, senang bercakap2 dengan Anda

12:22am
Raden Andi Setiawan
thanks pak

12:22am
Surianto Rustan
btw apa boleh percakapan kita ini saya upload ke blog surianto.wordpress.com ? supaya makin byk teman2 yg juga mengerti

12:23am
Raden Andi Setiawan
boleh sangat pak

12:23am
Surianto Rustan
baik, terima kasih banyak selamat malam..

12:23am
Raden Andi Setiawan
malam pak

Konsep dalam desain & bagaimana menjelaskan ke klien soal harga desain?

    Riza Arfian Bahasuan
        siang pak… grin

    Surianto Rustan
    11 hours ago
        halo Mas Riza

    Riza Arfian Bahasuan
    11 hours ago
        lagi sibuk pak? mau ngobrol ngobrol seputar desain nih… (nyolong ilmu) hehe

    Surianto Rustan
    11 hours ago
        silahkan, tapi saya nyambi ya

    Riza Arfian Bahasuan
    10 hours ago
        yang dimaksud dengan konsep desain itu seperti apa ya pak? apakah seperti makalah, coret sketsa awal desain atau apa ya?

    Surianto Rustan
    10 hours ago
        istilah konsep sgt luas, tapi umumnya mengarah pada: segala proses yang dilakukan sebelum mendesain dan produksi.
        pada intinya ada 3 tahap mendesain: 1. riset, 2. strategi, 3. mendesain (kalo di desain grafis: mendesain visual)
        nah konsep itu adalah poin 1 dan 2.

    Riza Arfian Bahasuan
    10 hours ago
        ooo, paham paham… grin

    Surianto Rustan
    10 hours ago
        tp ada juga pada tahap desain visual hrs dibuat lagi konsep visualnya, nah jd intinya konsep ini adalah pra-desain

    Riza Arfian Bahasuan
    10 hours ago
        misalnih, ada klien, ketika brief sudah diisi, kemudian, kita (desainer & tim) melakukan riset, menyusun strategi (konsep), dan kemudian riset dan strategi itu yang dipresentasikan ke klien sebagai konsep ya pak?
        konsep visual itu sperti sketsa awal ya?

    Surianto Rustan
    10 hours ago
        iya, bisa dikatakan begitu. kl saya sih tidak suka pakai kata konsep, krn sifatnya umum sekali, tidak spesifik. kalo saya akan bilangnya: “Pak ini hasil riset yang sdh kami analisa, lalu kami jadikan landasan strategi yg kami ambil sebelum mendesain”. jadinya spesifik.

    Riza Arfian Bahasuan
    10 hours ago
        iya juga ya, kalau konsep visual itu seperti sketsa diatas kertas ya?

    Surianto Rustan
    10 hours ago
        iya, betul Mas

    Riza Arfian Bahasuan
    10 hours ago
        mmm, berarti selama ini saya baru menggunakan konsep visual saja…

    Riza Arfian Bahasuan
    9 hours ago
        mau tanya lagi, tapi bingung mau tanya apa, hehe, btw, trimakasih pak atas kucuran ilmunya…
        ^.^

    Riza Arfian Bahasuan
    9 hours ago
        semangat siang! grin

    Surianto Rustan
    about an hour ago
        silakan tanya saja Mas, pasti saya jawab kalo pas online

    Riza Arfian Bahasuan
    51 minutes ago
        oia, pak, gmana ya jelasin ke klien knp desain itu harganya puluhan ribu…
        soalnya saya udah berusaha jelasin, ujung ujungnya kalau ga’ ditawar jaauuuuh sekali, ya sya good bye…
        (bahkan ada yang bilang “lho mas, biasanya saya ga’ pakai harga desain”) itu yang bikin gimana gitu…

    Surianto Rustan
    44 minutes ago
        kalo saya selalu mengusahakan harus temu muka dengan klien. biasanya miting ke kantornya. saya bersikap sbg konsultan, saya yg tau desain itu apa, siapa itu desain grafis, bagaimana itu proses desain. tapi semua itu tidak dipaksakan ke klien kalau mereka tidak mau tahu. yang pasti dlm miting awal tsb saya hrs tau siapa si klien itu, dengan menanyakan secara rinci siapa mereka, apa produknya, servicenya, siapa pesaingnya, siapa konsumennya, sejarah perusahaan, manajemen, cabang, agen, distributor, dll, setelah kira2 ckp lengkap, saya minta ijin memperkenalkan diri

    Surianto Rustan
    44 minutes ago
        ini bagian yg penting: memperkenalkan diri.
        di sini saya memperkenalkan siapa saya, visi misis saya, apa yg saya kerjakan, siapa klien yg pernah saya servis, produk dan jasa saya, metode kerja saya, parter kalau ada, kantor, dll
        dan protfolio, hasil kasya yg pernah dibuat.

    Riza Arfian Bahasuan
    37 minutes ago
        waw, seperti itu yaa…
        siap pak! akan saya praktikan segera…
        (^.^)7

    Surianto Rustan
    28 minutes ago
        O iya, perkenalan diri saya ini dalam bentuk powerpoint, jadi terlihat secara visual, boleh juga kalau ada karya jadinya. dengan melihat dengan visual dan penjelasan lisan, maka klien ada gambaran siapa diri saya, “ooo ini orang ternyata bukan desainer di tempat fotokopi / digital printing”, “ooo ini orang kerja pake konsep”, ooo desain ada langkah2 kerjanya ya, ternyata pake riset ya, ternyata ga cuma visual semata, ternyata ga cuma masalah selera ya”

    Surianto Rustan
    27 minutes ago
        nah, masalahnya apa desainer itu tau desain grafis itu apa? bagaimana mau menjelaskan ke klien kalau desainernya sendiri tdk tau? jadi supaya dianggap ahli, saya sendiri harus tau siapa saya dan apa yg saya kerjakan ini.
        untuk itu apa mungkin sudah baca ini: http://dgi-indonesia.com/bukamata/
        setelah mengetahui siapa klien dan apa kebutuhannya, serta memperkenalkan diri, barulah boleh bicara harga

    Riza Arfian Bahasuan
    9 minutes ago
        wah, selama ini belum sejauh dan sedalam itu informasi yang saya berikan ke klien, ga’ heran klu banyak yang gimana gitu ya…

    Surianto Rustan
    7 minutes ago
        iya, krn mereka belum kenal siapa kita, terutama kitanya sendiri belum terlalu kenal diri kita
        maklum saja kalau mereka beraninya harga murah
        btw apakah saya boleh upload percakapan ini ke blog saya surianto.wordpress.com? supaya makin byk org yg turut paham

    Riza Arfian Bahasuan
    5 minutes ago
        sangat boleh sekali pak… grin
        sangat menginspirasi…

    Surianto Rustan
    5 minutes ago
        baik kl bgt, terima kasih Mas Riza atas kesediaannya smile

    Riza Arfian Bahasuan
    4 minutes ago
        btw saya jadi ingat sebuah kata Erwin Aksa dalam sebuah seminar yang saya hadiri, “Profesional itu dimulai dari diri sendiri”…
        seorang profesional memang harus benar benar memahami apa yang dilakukannya, dan profesional memang pantas dibayar mahal…
        #kesimpulan grin

Apa bedanya pekerjaan desain kontes logo VS proyek dari klien betulan?

A.C.
masih sibuk ya, pak? [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
sok sibuk tepatnya, sy belum komen ya?

A.C.
September 30, 2011
hehe.. belum.. [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
bntr ya
wah karyanya sudah banyak sekali, ini mah saya aja kalah ni

A.C.
September 30, 2011
sy korban kontes soalnya, pak
msh susah klo nyari real client [:(]

Surianto Rustan
September 30, 2011
gpp, yah semuanya pasti ada kelebihannya ada kekurangannya. dg real klien emang sih cape bgt tp kita sgt didewasakan secara pribadi

A.C.
September 30, 2011
mohon wejangannya, pak [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
wejangan apa nih?

A.C.
September 30, 2011
buat karya dan karir sy.. [:D]
klo dibandingin karya orang2 yg punya jalur akademis pasti punya sy msh jauh banget ya, pak?
gmn caranya biar bisa ngejar?

Surianto Rustan
September 30, 2011
hmm.. menurut pengalaman saya sih guru yg paling baik itu adalah pengalaman. coba perbanyak pengalaman dengan real client (bisa tanpa perlu meninggalkan pekerjaan yg ini – kompetisi), jadinya diri kita lebih kaya nantinya, bukan soal uang, tapi perkembangan kepribadian. sekolah ga terlalu menentukan koq, banyak juga yg sekolah formal tapi kalau memang malas atau ga ada keinginan belajar, ya sama saja. keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa kuat keinginan kita itu utk berhasil

Surianto Rustan
September 30, 2011
sekolah, latar belakang keluarga, teman, dll ga lagi mempengaruhi. cuma diri kita sendiri.
dinding penghalang kemajuan kita ya diri kita sendiri juga

A.C.
September 30, 2011
klo dinilai, kira2 karya sy dpt nilai apa, pak?
apa yg perlu ditingkatkan?
*kadang pengen juga dpt studi kasus layaknya mahasiswa, trus dinilai sm dosennya [:D]

Surianto Rustan
September 30, 2011
masalahnya desain grafis ga cuma sekadar hiasan / visual, yg dinilai dari penampilannya saja, tapi desain grafis itu satu paket dengan segala konsep di belakang karya tersebut. ini juga mungkin bedanya real klien dengan yg tidak, kalo ada real klien, kita berhadapan dengan real problem, kudu tau target audience-nya siapa, tau persis siapa perusahaannya, dia punya anak perusahaan ga, apa produknya, siapa pesaingnya, dll. dari situ semua baru menyusun strategi komunikasi (belum visual), terakhir baru visualnya. jadi penilaiannya ga cuma: bagus, jelek, ato secara visual saja, dan membuatnya / pendekatan visualnya tidak cuma disesuaikan dengan sektor industrinya / bidang pekerjaannya saja, tapi bisa juga dari spirit / jiwa si perusahaan, ato kecenderungan si target audience, atau bahkan ke hal2 yang spontan sifatnya seperti bentuk bangunannya yg unik, atau karyawannya yg semua orang muda, dll. itu yg setahu saya

A.C.
September 30, 2011
sy catat bener2, pak [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
desain grafis itu pemecahan masalah, memang hasil akhirnya berbentuk visual, tapi sebetulnya itu hrs bisa memecahkan masalah si klien, apakah itu meningkatkan penjualan (misal iklan produk, packaging, sign di rak toko), meningkatkan awareness thd produk tsb (iklan branding), mengajak target audience datang ke tempat tsb (display toko / pameran, iklan event), mengidentifikasi (logo perusahaan, produk & identitas visual lainnya), dll. kalau desain itu tidak bisa memecahkan masalah si klien itu desain yg tidak efektif – dianggap gagal.

Surianto Rustan
September 30, 2011
logo nantinya digunakan oleh si klien utk memperkenalkan diri, dipakai di segala produknya, di billboard, di koran, di tv, dll. akan digunakan utk identifikasi & jualan & mewakili brand / citrasi si klien, mungkin hal itu akan berlangsung selama 10 tahun sebelum logo itu diganti lagi. klien akan keluar uang sangat banyak utk itu semua. sayang kalau logonya hanya sekedar visual & dibuat lewat pendekatan yg hanya dari 1 sudut saja. not fair.

A.C.
September 30, 2011
kliatannya perlu baca ulang buku ‘mendesain logo’nya pak rustan nih..
sy baca lagi

Surianto Rustan
September 30, 2011
hehe yah saya sendiri masih belajar koq Mas, bukan cuma spy tambah pinter tapi spy tambah bijak [:)]
btw mohon maaf sekiranya ada kata2 yg kurang berkenan, namanya juga manusia jd suka salah bicara, harap maklum [:)]

A.C.
September 30, 2011
kata2 pak rustan tu halus banget+wise kok, pak
sy dpt ilmu banyak

A.C.
September 30, 2011
kira2 ada contoh brief dr real client+real case yg bisa sy lihat gak ya, pak? mungkin juga hasil desain dr brief itu
biar sy bisa belajar dr contoh riil..

Surianto Rustan
September 30, 2011
di buku logo saya da Mas Abi, halaman 37-38, itu klien saya beneran

A.C.
September 30, 2011
contohn brief yg di halaman itu brarti apa memang gk ada brief tertulis dr klien..
jd pak rustan yg riset & wawancara sendiri gitu?
lalu,rumus semiotika untuk menentukan visualisasi dr tiap keyword yg didapet dr brief tu gmn biar bisa pas?
*maaf ya, pak klo banyak nanya & pertanyaannya belibet
maklum,orang awam…

Surianto Rustan
September 30, 2011
sori barusan aku ke bawah bentar.
desainer sebaiknya selalu menganggap dirinya adalah pemberi solusi, klien itu tidak tau apa2 tentang desain krn itu mereka datang pada kita, mereka butuh solusi. utk mencapai solusi tsb kita yang guide mereka tahap2nya, krn kita yg tau seluk beluk desain.
setelah mengetahui klien itu siapa & apa problemnya, saya beri mereka kuesioner yg hrs mereka isi, selain itu juga saya interview. nah yg di buku logo tsb adalah hasil kuisioner & interview.
begitu sampai tahap brainstorming desain mah sudah lebih banyak feeling & membangkitkan perbendaharaan hubungan verbal – visual. sedangkan rumus2 semiotika sebaiknya sudah diluar kepala, krn itu kit hrs byk2 belajar, baca, melihat, menonton, dll, spy byk perbendaharaan datanya.

A.C.
September 30, 2011
buku yg recomended untuk belajar semiotika apa ya pak?

Surianto Rustan
September 30, 2011
saya belum menemukan buku semiotika berbahasa indonesia yg bagus di sini. tp resource yg bagus dari luar & berbahasa inggris ada:
http://www.aber.ac.uk/media/Documents/S4B/semiotic.html

A.C.
September 30, 2011
maturnuwun… [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
sama2 Mas Abi, suxeselalu!

A.C.
September 30, 2011
suxeselalu [:D]