Menghadapi Klien

Ircuz Pastrana
oke, boleh panggil aku prazz aja,, hehe. biar lebih akrab,, hehe,, eh ngomong” ni lagi sibuk gak pak ? mau sharing” ni .. tentang client.. [:)]

Surianto Rustan
January 22
silahkan Mas Praz

Ircuz Pastrana
January 22
gini pak, selaku junior, apa kedepan nya aku harus menerima client yg ngerti atau paham dan mau mengerti tentang apa itu hak, kewajiban dan lain” tentang desainer grafis, stelah aku jabarkan atau mengkasih 3 artikel yg judulnya kalo gk slah BUKA MATA di site nya DGI.. atau mungkin aku juga boleh menerima client yg gak mau tau tentang itu semua.. ” ah saya gak perlu tau detail tentang itu semua,, yg penting desenin yg bagus,, konsep dan bla bla bla ,, gak perlu ,, tapi harga nya jangan mahal2” ketika aku menerima client yg gak mau tau tentang DG ini, apakah secara gak langung ikut serta memperkembangkan pemikiran masyarakat yg slah kaprah tentang DG. tp aku juga butuh menambah porto, dan juga ngenyangin perut,, melihat di indonesia ato d surabaya (krna aku tinggal di sby) yg sudah terpecah mnjadi 2 , yaitu pemikir dessain dan tukang desain, karna aku pengen nanti nya jadi desainer yg PRO. pemikir desain.bukan ” TUKANG ”. mohon penjelasannya dari bapak ?

Surianto Rustan
January 22
Pertama2 saya salut dg sikap kritisnya Mas.
Begini, kalau kita cuma mau dengan klien yg mengerti & menghargai desain, bisa2 ga pernah dapat kerjaan. masalahnya bukan di kliennya, tapi di kitanya. karena kita terlalu berpihak pada diri sendiri, menganggap orang lain harus mengerti kita. saya sarankan ubah 180% pemikiran seperti itu.
desainer grafis itu konsultan, bukan operator. sbg konsultan hukumnya harus pertama2 bisa menempatkan diri sebagai klien, mendengarkan, mengerti jalan pikirannya, dan berbicara dengan bahasa mereka
kedua: menyambung kita sbg konsultan yg hrs mengerti klien, jadi yg perlu dipelajari oleh desainer sama sekali bukan ilmu desainnya saja, tapi ilmu mendengarkan, dan berkomunikasi dengan baik pada klien. ini semua utk memperlihatkan pada mereka bhw “oh desainer itu sopan2 & wawasannya luas, dll” > citra positif. ini adalah misi & tanggung jawab moral kita: mengedukasi masyarakat (trmsk klien) tentang apa itu desain & siapa itu desainer.

Surianto Rustan
January 22
tiga: hampir semua klien yg saya temui punya pemikiran yg barusan Mas sebutkan semua: mau cepat, desain bagus, murah. itu semua wajar saja, krn mereka belum kenal siapa kita & apa itiu desain. ok, sekarang tunjuk balik diri saya sendiri, apa saya tau betul apa itu desain grafis? siapakah saya yg disebut desainer grafis ini? nah sebelum edukasi mereka, sepertinya kita hrs didik diri kita sendiri dulu. belajar yg banyak, cari wawasan seluas2nya, bergaul dengan desainer lain, dll.

Ircuz Pastrana
January 22
oo.. gitu ya pak, jadi aku boleh menerima klien yg sperti apa saja ya. dan yg paling utama aku sendiri harus mempunyai patokan ato pondasi, harus mengerti ilmu mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik pada klien. terus bagaimana aku mensikapi klien” yg tidak mau tau tentang desain grafis, dan menganggap desain itu ya gitu” aja, hanya software dan selera, dan berlaku se.enak nya sendiri terhadap desainer grafis ?

Surianto Rustan
January 22
portfolio, uang, pengalaman, network, dll, itu semua adalah penghargaan2 yg akan kita terima kalau kita berprestasi, tapi sebelum itu seharusnya saya bertanya pada diri saya: standar kualitas saya bagaimana? sekali lagi bukan hanya di ilmu desain, tapi juga kemampuan introspeksi, kemampuan mendengarkan & berbicara, pemikiran bisnis, manajemen, dll.
itu dulu.
penghargaan2 psti akan menyusul belakangan.
bagi yg masih baru di industri ini, silahkan terima klien siapa saja tanpa terlalu melihat gaji, krn profit yg dibutuhkan bukan uang, melainkan: pengalaman, network, kepercayaan orang, portfolio, dll.
tapi bagi yang sudah kerja lama sbg desainer, sudah punya branding, pengalaman, network, dll. seharusnya harganya pun makin mahal, krn kualitasnya mungkin sudah jauh lebih baik dr pd seorang pemula.

Surianto Rustan
January 22
di belahan dunia manapun, kalau kita perhatikan, top designer adalah seorang yg ahli secara tukang, sekaligus seorang pemikir yg ulung. sebaiknya kita sendiri tidak ikut2an arus negatif, termasuk adanya jenis2 desainer, dll, kita harus ‘autis’. kalau tujuannya mau jadi desainer top, ya harus peka segalanya, belajar segalanya, sangat rendah hati & merasa kurang terus.

Ircuz Pastrana
January 22
ooo.. oke” ya ya ya.. aku baru mendapatkan jawaban yg pas untuk masalah ini, sebelumnya aku pernah menanyakan pada teman” senior dan di forum diskusi, jwaban nya kurang kuat. terima kasih pak surya. jawabannya sangat bermanfaat.

Surianto Rustan
January 22
halo Mas Pras, mohon maaf, tadi off sebentar
kalau boleh saya lanjutkan:

Ircuz Pastrana
January 22
ya pak gak pa” ..santai saja..

Surianto Rustan
January 22
yg saya maxud tukang disini adalah ahli soal craft-nya, keindahan, warna, huruf, detail, segala aspek dalam membuat desain tsb.
lagipula semua orang harus mulai dari nol. arsitek ternama harus belajar jadi kuli bangunan dulu, sutradara terkenal hrs mahir megangin lampu dulu, penulis terkenal waktu kecilnya harus belajar mengeja kata2 dulu. semua hrs bersakit2 dahulu, sedikti2 lama2 menjadi bukit, hukum ini berlaku pada tiap orang tanpa kecuali. yg instan cuma indomie dan cerita sinetron!

Ircuz Pastrana
January 22
oo.. iya ya,, jadi bukan ” tukang ” yag maen ceplak ceplok gambar dan huruf.. mungkin hard skill nya ya pak.. baru setelah itu soft skill .. komunikasi,
tapi bagaimana pak surya mensikapi klien” yg belum mengenal desain ? dan siapa itu desainer grafis ?

Surianto Rustan
January 22
menghadapi klien yg tidak menghargai, yah kita tidak tau masa lalu klien itu gimana. coba pikir, yg pasti mereka bukan desainer, mungkin mereka tidak lulus sd (byk org ga lulus sd tp jd jutawan), mungkin mereka dulu disixa ortunya shg sekarang mau menyixa kita [:)] dll, tapi itu semua seharusnya bukan dijadikan alasan mereka harus mengerti kita, justru kitanya yg harus sangat maklum & sabar, untuk itu kitanya harus menggali ilmu2 tadi itu: mendengarkan & berbicara. sudah banyak bukti bahwa dengan komunikasi yg sopan, sabar & baik, klien justru jadi tunduk sama kita.

Ircuz Pastrana
January 22
oalah.. jadi gitu ya mensikapinya ,, brarti desainer grafis itu profesi yag mnurut ku sangat bagus ya,, sealin dengan kelebihan” nya juga harus baik di karakteristiknya.

Surianto Rustan
January 22
tapi ya memang ada beberapa special case, dimana klien tsb sangat kepala batu walaupun sudah berhubungan lama dengan kita dan diberi penjelasan dengan sabar. untuk yg begini dia saya kasih harga khusus. bukan diskon, tapi sebaliknya: saya tinggikan harganya, jadi kalau dia mau syukur (saya masukkan dalam biaya sakit hati saya), kalau dia tidak mau ya sudah, masih banyak klien lain koq, tenang saja [:)]

Ircuz Pastrana
January 23
haha.. iya pak sabar ada batasnya.. kita harus tegas.
tapi bgini pak . bagaimana kalau aku tahu aku mendapat klien yg bagus kedepannya.. dari segi karakteristiknya mau tau tentang desain dan desainer grafis, dan juga kepengen dibuatin karya desain yang bener2 ” berat/berbobot ”. apakah aku akan memberikan semuanya langsung pada saat itu juga , atau aku aku putus” supaya aku masih bisa berhubungan lama dengannya ? kalo misal aku berikan semuanya langsung setelah itu apa. ya sudah habis.. ini lebih ke corporate identity pak ,, mungkin bisa memberi penjelasannya ?

Surianto Rustan
January 23
yg diberikan semuanya itu apa ya maxudnya? desainnya? ide2nya?

Ircuz Pastrana
January 23
iya.. ya mulai dari desainnya idenya semuanya ..apa juga perlu di beri step” nya .. yg padahal itu bisa saja diberi pada saat itu juga. supaya bisa berhubungan terus karna mendapat klien yg cocok.

Surianto Rustan
January 23
utk mendapat kepercayaan klien, kita harus tulus. itu kuncinya. tapi juga kita harus pintar, jgn sampai dimanfaatkan, krn itu saya tidak pernah mengirimkan desain hi-res pada klien, semua lo-res, sedangkan ide, sketsa, dll tidak pernah tertulis, tapi lisan atau dipresentasikan lewat powerpoint.
ide2 brilian kita harus dipresentasikan, supaya klien yakin & berpikir: “saya tidak cuma2 membayar orang ini”. begitu kita sudah dapat kepercayaannya, juga jangan lalu bermalas2an, ketulusan hati harus tetap dijaga sampai akhir kerjasama, harapannya utk dapat projek2 selanjutnya. berpikirlah jangka panjang.

Ircuz Pastrana
January 23
oo.. begitu ya,, wah aku belajar banyak sekali hari ini sama pak surianto rustan. terima kasih banyak pak. mungkin lain waktu aku bisa sharing” lagi sama bapak. jangan kapok ya pak .. hehe [:)]
seorang junior butuh banget belajar dari senior, supaya kelak bisa seperti seniornya. tq pak.

Surianto Rustan
January 23
hahaha saya sendiri juga masih belajar koq, baik kalau kita sama2 belajar, nanti kalau saya ada yg tidak tahu, saya tanya kamu juga ya

Surianto Rustan
January 23
Mas Praz, apa boleh percakapan kita ini saya upload ke blog, spy byk teman2 yg lain bisa belajar juga dari sini?

Ircuz Pastrana
January 23
hahaha, sama2 belajar pak, siap2.. sebisa mungkin saya bantu jawab.
oh, silakan pak dengan senang hati.

Diwawancara soal desain grafis

Adlina Al-Aidid

Salam kenal, Mas.
Saya Adlina, mahasiswi desain grafis semester 5 di Politeknik Negeri Jakarta. [:)]
Saya ada tugas mata kuliah manajemen desain untuk wawancara desainer sukses.
kira2 mas bersedia saya wawancarai atau tidak?
sekiranya bersedia, berikut ini merupakan list pertanyaannya.
terimakasih banyak sbelumnya ya mas. [:)]

List Pertanyaan

1. Bagaimanakah perjalanan karir mas sebagai seorang desainer grafis?

2. Apakah yang membuat mas tertarik dengan desain grafis?

3. Apa saja proyek yang telah mas selesaikan/ sedang berjalan hingga saat ini?

4. Bagaimana mas bisa mendapatkan klien/projek, apakah mas promosi sendiri atau ada usaha lainnya?

5. Bagaimana proses tawar menawar mas dalam menetukan harga desain untuk klien?

6. Siapa saja yang mas libatkan dalam proses produksi?

7. Berapa lama produksinya suatu projek yang mas handle?

8. Bagaimana mas mengkalkulasikan biaya produksi?

9. Berapa kali mas preview dengan klien?

10. Apakah klien merasa puas dengan hasil kerja mas?
Mengapa bisa begitu? apa yang buat mereka puas?

11. ketika projek selesai apakah klien masih bekerja sama dengan mas pada projek berikutnya? jika iya apa alasan mereka?,
kemudian jika tetap bekerja sama apakah klien yang menghubungi mas, atau mas yang menghubungi klien lebih dahulu ?

Terimakasih.. [:)]

Surianto Rustan
January 9
Otre Adlina, ini jawabannya:

1. Bagaimanakah perjalanan karir mas sebagai seorang desainer grafis?

Sejak kecil senang menggambar, makin besar makin aktif dan bercita-cita jadi pelukis. Di SMU mulai melihat kenyataan bahwa menjadi seniman lukis sangat besar tantangannya, terutama untuk memenuhi urusan finansial. Jadilah saya mengambil jurusan desain grafis. Karena berhubungan dengan rupa, warna dan keindahan, saya betah di bidang ini sampai sekarang. Padahal setelah lulus kuliah sempat dilema apakah mau bekerja di grafis atau di musik. Saya sempat setahun kesana-kemari melamar kerja sebagai pemain gitar tunggal di lobi hotel-hotel. Dari beberapa kali audisi, tidak ada satupun yang menerima saya. Akhirnya saya introspeksi diri dan menyadari bahwa saya tidak jago gitar, maka saya putuskan kembali ke jalur grafis dan mulai bekerja di bidang ini.

Surianto Rustan
January 9

2. Apakah yang membuat mas tertarik dengan desain grafis?

ya itu, awalnya dari kecil senang menggambar, berekspresi lewat bahasa gambar. sementara orang lain lewat bernyanyi, atau lewat menulis, saya senang menggambar. senang warna, bentuk, pesan, yg ada di dlm sebuah lukisan / gambar. nah di desain grafis ternyata lebih kaya lagi: ga cuma ekspresi pribadi tapi komunikasi yg hrs sampai ke target audience. berarti jauh lebih advance daripada seni murni. lagipula desain grafis erat berkaitan dengan segala bidang ilmu lain, spt: sosial, komunikasi, politik, ekonomi, budaya, antropologi, linguistik, psikologi, hukum, dll. ini suatu bidang yg sangat kaya

Surianto Rustan
January 9

3. Apa saja proyek yang telah mas selesaikan/ sedang berjalan hingga saat ini?

proyek yg pernah saya garap cukup byk, mungkin baiknya lihat website saya saja: rustangrafis.com. yg lagi jalan, ada proyek website sebuah perusahaan bahan kimia.

Surianto Rustan
January 9

4. Bagaimana mas bisa mendapatkan klien/projek, apakah mas promosi sendiri atau ada usaha lainnya?

hingga saat ini saya tidak pakai marketing utk mendapatkan proyek, semua klien datang sendiri, entah tau dari temannya, dari website saya, dari buku2 saya, dll.

Surianto Rustan
January 9

5. Bagaimana proses tawar menawar mas dalam menetukan harga desain untuk klien?

harga yg saya tentukan biasanya tidak utk ditawar lagi. krn Mario Teguh pernah ngomong: umur 20 tahun kamu masih bisa ditawar, umur 30 tahun sehaursnya sudah susah ditawar, umur 40 tahun gaboleh lagi ditawar. hehe logisnya gini: umur 20 saya masih miskin pengalaman & ilmu, jadi bukan uang yg utama tapi portfolio, pengalaman, ilmu, konexi, dll, umur 30 thn, seharusnya sy sudah byk pengalaman, ilmu, konexi, dll., umur 40 tahun seharusnya sudah ngelotok [:)] ))) brandingnya seharusnya sudah begitu kuat shg orang datang ke kita memang utk dihargai mahal [:)]

namun demikian saya tetap realistis, ada perjanjian tak tertulis dimana si pembeli hrs masih bisa nawar. krn itu saya naekin lagi harganya sedikit utk margin tawar menawar, tapi nantinya setelah ditawar akan balik lagi ke angka yg sdh kita tentukan.

Surianto Rustan
January 9

6. Siapa saja yang mas libatkan dalam proses produksi?

utk produksi (pencetakan) saya pakai pihak ketiga, yaitu pihak percetakan.

Surianto Rustan
January 9

7. Berapa lama produksinya suatu projek yang mas handle?

begini, istilah produksi itu di dunia desain grafis biasanya bermakna: pencetakan. sedangkan proses sebelum produksi adalah: riset, strategi, desain (visual), sedangkan di lingkup proses produksi ada istilah pre-production, itu adalah tahap persiapan pencetakan, dan post production, itu adalah proses setelah pencetakan dilakukan.

nah tahap mana nih yg kamu maxud?
kalo tahap riset, & strategi biasanya saya lakukan sendiri, tapi tahap desain visual akhir2 ini saya kerjasama dengan mahasiswa magang atau teman desainer lain.

kalau pekerjaan mendesain buku2 saya, semuanya saya kerjakan sendiri, kecuali beberapa foto, memeriksa tulisan, dan review oleh para ahli.

lama produksi tergantung besar proyeknya, ada yg beberapa hari saja (pekerjaan desain cetak, template website), sebulan (biasanya website lengkap), beberapa bulan sampai setahunan (logo & identitas visual lainnya).

Surianto Rustan
January 9

kalo proyek buku sangat bervariasi, yg saya alami selama ini: buku layout penulisannya selesai dalam 3 bulan, logo 6 buloanan, tipografi setahun. itu semua diluar review oleh para ahli, finishing, production.

Surianto Rustan
January 9

8. Bagaimana mas mengkalkulasikan biaya produksi?

balik lagi neh, produksi cetak ato seluruhnya? riset, strategi, desain, cetak?

Surianto Rustan
January 9

9. Berapa kali mas preview dengan klien?

mgkn maxudnya review, bukan preview?
sangat tergantung proyeknya. kalo website ga lama, tapi kalo identitas biasanya bolak-balik. interview dengan boss besarnya, interview dengan para direkturnya, anak buah & staff2nya, lalu design review / evaluasi: bisa 3-4 kali biasanya.

Adlina Al-Aidid
Tuesday

untuk nomer 8, biaya produksi dr awal sampai akhir,pak..

waaah.. trimakasih banyak ya pak.. [:D]
*seneng dapet ilmu tambahan.
terimakasih banyak.
[:)]

Surianto Rustan
Wednesday

utk no.8: dari awal ya:
– riset: kalo pake pihak luar, ya kita bayar pihak periset tsb, kalo ga ya paling yang diperhitungkan transportasi, biaya bikin kuesionernya, gift utk menyatakan terima kasih ke yang diwawancara (kalau riset masyarakat umum), biaya pemakaian waktu & tenaga yg digunakan utk riset tsb, waktu & tenaga yg keluar utk menyimpulkan hasil riset, dll.
– strategi: biaya utk tenaga & waktu yg keluar utk bikin strategi komunikasi, visual, media, dll. kalo di branding kudu bikin moodboarding, brainstorming, riset visual lagi melihat contoh2 desain yg orang sudah buat, dll.
– mendesain visual: biaya atas tenaga & waktu yg keluar utk membuat desain visual / penerapan ke berbagai media (kalo identitas / branding), dll.
– preproduction: biaya yg keluar utk mempersiapkan file yg siap cetak, production & postproduction: biaya cetak & finishing (lipat, potong, tempel, emboss, dll) yg dibayar ke percetakan. (seandainya pekerjaan pencetakan diserahkan ke pihak percetakan)

biasanya orang mengcompile (menggabungkan) semua biayanya & merata-rata dalam bentuk: man-days, mxdnya man per day / biaya per hari. jadi misalnya setelah dihitung semuanya, maka biaya mendesain perhari rata2 rp.50rb, nah pas dpt order tinggal dikira2 itu butuh berapa hari pengerjaan, kalo 20 hari kerja, maka 20 x 50.000 = 1.000.000.

gitu Adlina, smg bermanfaat [:)]

Wawancara seputar Desain Grafis dan Permasalahannya

1. Apa itu desain GRAFIS?

Bila pertanyaan ini diajukan pada tahun 1900an awal, jawabannya akan jauh lebih sederhana dibandingkan tahun 2011 (sekarang). Menjawab pertanyaan itu pada saat ini harus dilihat dari berbagai dimensi dan sifatnya conditional (tergantung dari siapa, kapan, di mana, dll):
1. Umum, 2. Personal, 3. Orang di level tertentu, di tempat tertentu, di waktu tertentu.

Umum: ini saya ambil dari tulisan saya di www.dgi-indonesia.com/bukamata, di situ ada 3 artikel, silahkan download PDF-nya dan menyebarluaskannya kepada siapapun, agar makin banyak orang mengenal apa itu desain grafis.
Wujud-wujud desain grafis dapat dengan mudah ditemui di mana-mana. Brosur, surat kabar, surat-surat tagihan, kartu kredit, tagihan listrik, uang, halaman Facebook, twitter, di BB, di iPad, iklan majalah, billboard, rambu lalu lintas, logo, pada papan nama restoran, pada bungkus permen, pada kartu nama, dan lain-lain, semua itu adalah wujud desain grafis yang sering dijumpai. Kalau diperhatikan, rata-rata diterapkan dalam bidang datar (dua dimensi).
Semua benda itu fungsinya untuk berkomunikasi,
menyampaikan identitas dan pesan dari suatu pihak ke pihak lainnya.
Contohnya sebuah billboard berisi Iklan sepeda motor, bertujuan untuk:
menyampaikan identitas dan pesan ajakan dari si produsen kepada masyarakat: “ayo beli motor ini, gesit, irit”.
Supaya dapat ditangkap lebih cepat dan tepat oleh target audience, maka pesan-pesan yang berupa teks, gambar, foto, maupun elemen lainnya itu diberi identitas, ditata letaknya, diberi warna dan atribut lain yang menarik perhatian.
Itulah desain grafis.

Personal: ini istilah desain secara pribadi dari orang-orang yang telah berkecimpung dalam dunia desain. Beberapa contoh:
“Desain menciptakan kebudayaan, kebudayaan menciptakan nilai, nilai menentukan masa depan. Oleh karena itu desain bertanggung jawab atas dunia yang akan ditempati anak cucu kita” – Robert L. Peters. “Design is directed toward human beings. To design is to solve human problems by identifying them and executing the best solution.” – Ivan Chermayeff.
Dan banyak sekali desainer yang mendefinisikan desain berdasarkan opini dan pengalaman pribadi mereka.

Orang di level tertentu, di tempat tertentu, di waktu tertentu: jawaban tentang ‘apa itu desain grafis’ untuk seorang awam (lihat jawaban Umum di atas), seorang mahasiswa, seorang desainer profesional, seorang di Jakarta, seorang di Papua, seorang di tahun 1970, seorang di tahun 2050, semua memerlukan jawaban yang berbeda.

2. Menurut bapak / ibu desain GRAFIS yang baik itu seperti apa? Mengapa?

Desain grafis yang baik itu: memenuhi persyaratan sbb:
– persyaratan marketing & ekonomis: menjawab kebutuhan klien dan masyarakat
– persyaratan desain grafis itu sendiri: ada riset, kedalaman konsep, menggunakan cara kerja yang benar, ada eksplorasi, estetis & harmony, kreatif, unity
– persyaratan sustainability: tidak membohongi orang, tidak merusak masyarakat serta lingkungan, ada pendidikan bagi klien & masyarakat.
Mengapa? Karena desain grafis itu tidak sekedar jualan lewat visual, harus dipahami bahwa desain grafis adalah media komunikasi yang sangat powerful untuk mempengaruhi massa (lihat branding Barrack Obama), otomatis desainernya -sebagai orang yang sangat powerful – punya tanggung jawab besar terhadap masyarakat dan lingkungan alamnya. Ingat quotation dari film Spiderman? “With great power, comes great responsibility”.

3. Bapak / ibu menilai desain GRAFIS dari segiapa? Dan kenapa?

Ya itu tadi di atas.

4. Menurut bapak / ibu desain GRAFIS yang buruk seperti apa? Mengapa?

Yang tidak memenuhi persyaratan pada jawaban nomor 1 di atas

5. Apakah desain GRAFIS yang disukai masyarakat merupakan desain yang baik? Mengapa?

Belum tentu. Mungkin ia memenuhi persyaratan marketing & ekonomis, tapi bagaimana dengan persyaratan desain grafis itu sendiri, dan persyaratan sustainability?
Pilih mana:
– ikut maunya masyarakat, atau:
– masyarakat yang ikut kita
Saya berpikir, penjajahan di negeri ini sebetulnya terus berlangsung sampai sekarang, oleh siapa? Oleh bangsa sendiri, oleh para pemilik & pengelola media massa: stasiun TV, perusahaan film, dll. karena tujuannya hanya uang saja sehingga pilih ikut maunya masyarakat, contohnya banyaknya film bertema pocong. Coba kalau orang2 yang punya power tsb (para pemilik media) mau kompak memenuhi syarat sustainability, saya yakin secara berangsur-angsur penyakit2 di masyarakat akan sembuh.
Tidak jauh berbeda dengan para desainer grafis yang turut andil dalam penjajahan tsb, meng-iya-kan saja maunya klien untuk berbohong, lewat iklan yang suka meniru, desain yang murahan, menjerumuskan dan tidak mendidik, dll.

6. Apakah mungkin hasil desain GRAFIS orang awam bisa lebih baik dibanding profesional? Jika iya, apakah itu berarti tingkat pendidikan tidak mempengaruhi hasil desain GRAFIS?

Lebih baik dalam hal apa? Kalau hanya tampak indah secara visual (fisik) saja dan jago dalam penggunaan tools (softwares) mungkin orang awam bisa, tapi masalahnya yang seperti itu bukan desain grafis tapi dekorasi (make-up), (saya sarankan baca: www.dgi-indonesia.com/7-mitos-fakta-desain-grafis/Desain grafis, supaya lebih paham perbedaan antara: apa itu desain grafis dan apa itu dekorasi). Sedangkan desain grafis itu selain memperindah juga punya fungsi: menyampaikan pesan dan identitas. Tujuannya untuk menjual, memberi informasi, menanamkan citra ke benak konsumen, dan lain-lain. Nah yang seperti ini pastinya butuh riset, analisa, cari strategi, dll. Nah keahlian riset, analisa, strategi, dll ini yang mungkin tidak dimiliki oleh awam. Jadi jelas tingkat pendidikan pastinya mempengaruhi hasil desain grafis.

7. Apakah pendapat masyarakat awam tentang suatu desain GRAFIS dapat mengubah nilai desain GRAFIS tersebut?

Maaf tapi saya tidak mengerti maxud pertanyaan ini. Mohon dijelaskan lebih detil dulu.

8. Bagaimana standar desain GRAFIS di Indonesia menurut bapak / ibu?

Bukan maksud saya untuk merendahkan orang lain, tetapi faktanya di Indonesia banyak orang yang menyebut dirinya ‘desainer grafis’, entah apa pekerjaan maupun latar belakangnya. Nah kaum awam yang menyebut dirinya ‘desainer grafis’ ini mungkin minim pengetahuannya tentang ilmu desain grafis dan value seorang desainer grafis. Boro-boro bicara tentang sustainability, rakyat kita masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan, maka pikiran pertama mereka adalah perut dulu, kualitas desain belakangan. Hasilnya: tercipta banyak kelas2 desainer grafis di sini, mau yang harga serba 20ribuan ada, yang serba 500ribuan ada, yang medium dan high class juga ada.

9. Apakah selera masyarakat mempengaruhi hasil dan nilai desain GRAFIS di Indonesia?

Sangat tergantung para desainernya. Kalau pribadi kita masing2 menilai diri kita sendiri sebagai murahan dan berprinsip ‘ikut kemauan masyarakat’ (lihat jawaban nomor 5), sangat besar kemungkinan jawabannya Ya. Tapi kalau kita mau kompak dan terus berjuang mendidik masyarakat tentang apa itu desain grafis & siapa itu desainer grafis (diri kita) dan mematok diri kita dengan standar yang tinggi (bukan cuma harga, tapi: cara kerja, kecerdasan, wawasan, keilmuan, taste, sense, dll), maka kita bisa mengubah keadaan tsb menjadi: masyarakat yang ikut kita > standar desain grafis di Indonesia menjadi tinggi dan memiliki martabat yang layak.

10. Apa pendapat tentang desain GRAFIS yang menurut bapak / ibu buruk tapi disukai masyarakat?

Buruk dari segi apa? Visual semata? Unity? Kedalaman konsep? Maaf, belum jelas pertanyaannya

11. Apakah desain GRAFIS yang baik harus memenuhi prinsip-prinsip desain GRAFIS? Jika iya, desain GRAFIS macam apa yang lebih diprioritaskan?
a. Desain GRAFIS yang diterima masyarakat
atau
b. Desain GRAFIS yang memenuhi prinsip-prinsip desain GRAFIS?

Anda harus mengerti dulu bahwa penilaian terhadap desain tidak hanya pemenuhan persyaratan desain grafis itu sendiri (lihat jawaban no.2) tapi lebih dari itu, ada persyaratan ekonomis, dan persyaratan sustainability. Desain grafis yang baik tentunya yang mencapai persyaratan sustainability, selain ekonomis dan persyaratan desain grafis itu sendiri.