Perbedaan istilah Sign System dan Signage

Mon, Mar 31, 2014 at 5:11 PM

Selamat sore Pak Rustan,

Saya yang waktu itu minta referensi teori mengenai wayfinding dari Pak Rustan. Saya menemukan satu teori yang ada di buku Pak Sumbo Tinarbuko yang berjudul “Semiotika Komunikasi Visual” nih Pak..

Apakah Pak Rustan punya/tau siapa yang punya buku tersebut? Sebab saya mencari di Gramedia tidak ada, di toko buku online pun stok sdh habis katanya.. Di perpustakaan UI, UNTAR, DIKNAS juga tidak ada..

Mohon infonya yah Pak kalau2 Bapak tau..
Terima kasih banyak Pak Rustan 🙂

Mon, Mar 31, 2014 at 5:41 PM

Wah sy ga punya bukunya. Btw teorinya apa? Nanti sy bs cariin dr sumber lain di web, kan sama aja.

Tue, Apr 1, 2014 at 1:55 AM

Oh oke Pak, gak apa2 nanti saya coba cari2 lagi hehe.
Hmm teorinya ttg definisi sign system sih..
Saya jg ada bingung nih Pak, apakah sign system dan signage itu berbeda? Sebab saya tdk menemukan teori atau pendapat ahli mengenai hal ini Pak..

Kalau menurut Bapak bgmn?
Dan kalau saya mau buat sistem wayfinding di Stasiun Jakarta Kota, apakah lbh cocok sign system / signage (kalau pun berbeda) ?

Sebelumnya terima kasih banyak yaa Pak.. Saya tau Bapak pasti sibuk, jd saya terima kasih sekali Bapak mau bantu saya dari kmrn inii.. :”)

Terima kasih Pak..

Tue, Apr 1, 2014 at 9:08 PM

jadi memang kita harus hati2 terhadap istilah. yg kamu maksud ‘sign system’ itu sebenarnya istilahnya: environmental graphic design (EGD) – yg berkaitan dengan wayfindings, signage (penunjuk arah, dll).

masalahnya istilah ‘sign system’ itu bukan istilah eksklusif hanya milik desain grafis / dkv. malahan istilah tersebut sudah sejak lama akrab duluan di kalangan para peneliti semiotik. singkatnya silahkan baca yg ditulis oleh wikipedia:
http://en.wikipedia.org/wiki/Sign_system

nah saya yakin teori yg kamu temui di buku Sumbo tsb adalah ‘sign system’-nya semiotik, bukan miliknya EGD. jadi kalau mau tau mengenai EGD silahkan ke wikipedia lagi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Environmental_graphic_design

kalau tema TA mu adalah EGD, ya berarti salah arah kalo nyarinya di semiotik 🙂

gitu. smg lancar TA-nya

Tue, Apr 1, 2014 at 11:28 PM

Oh begitu Pak..
Oke deh makasih banyak yaaa Pak Rustan 😀
Sip akan saya gali lagi dari EGD.

Wayfinding hrs sesuai dg citra perusahaannya? Knp desain wayfinding di Indonesia cenderung bergaya barat? Apa gaya barat lbh unggul dri gaya Indonesia? Stasiun Beos yg bergaya artdeco pakai wayfinding yg minimalis, apa cocok?

Hardy Nurvianto
Wed, Dec 11, 2013 at 2:07 AM

langsung aja ya pak ke pertanyaannya.
1. Apakah desain wayfinding harus sesuai dengan citra perusahaan atau citra bangunan tersebut (landmark)?
2. Bagaimana desain wayfinding yang baik?
3. Kenapa gaya desain wayfinding di Indonesia cenderung bergaya barat? Apakah daya tarik style barat lebih unggul dibandingkan style Indonesia?

segitu dulu pak 😀
ditunggu jawabannya, terimakasih 🙂

Surianto Rustan
Wed, Dec 11, 2013 at 9:04 AM

1. ya, supaya kepribadian si entitas (bangunan / perusahaannya) tetap tersampaikan di pelbagai media termasuk signage, dll.
selain itu apabila sistem desainnya semua terintegrasi (satu nuansa), maka dapat membuat efek: unity dan profesional.

2. untuk menjawab pertanyaan ini sangat panjang sekali 🙂 ada baiknya Anda mencari ebook berikut ini:
the wayfinding handbook – david gibson
dan pelajari web ini:
http://www.segd.org/home/index.html di web tsb
bisa di donlot file pdf yang sangat berguna utk medapat pengertian wayfinding itu apa.

3. bukan hanya wayfinding yang gaya barat, tapi hampir seluruh desain kita juga bergaya barat. ini juga tidak bisa disalahkan, ada bbrp faktor penyebab:
– ilmunya dari sana (studi desain yg diadopsi di Indonesia itu berasal dari Bauhaus – Jerman)
– media TV, iklan, dll di mana2 mendidik kita tentang estetika barat, termasuk desain.
– pertanyaannya saya balik: apakah ada style Indonesia? yang ada ialah style suku2 tertentu, karena indonesia adalah super heterogen.
hingga kini tidak seorangpun baik itu desainer, filsuf, dll yang bilang ada ‘gaya Indonesia’.
suku tertentu pun style-nya harus ditilik lagi, apakah asli daerah tersebut? bukan pengaruh Arab? Persia? Cina? Portugis? Secara Indonesia sejak jaman dulu merupakan daerah perdagangan shg terdapat banyak percampuran budaya.

demikian sejauh pengetahuan saya yg terbatas,
salam suxes!

Hardy Nurvianto
Wed, Dec 11, 2013 at 1:05 PM

Misalnya wayfinding di stasiun Jakarta Kota memiliki style minimalis, tetapi gaya bangunan stasiun tersebut adalah art deco, apakah wayfinding tersebut kurang cocok?

Surianto Rustan
Wed, Dec 11, 2013 at 1:37 PM

wah kalau penjelasannya verbal sangat sulit untuk menggambarkan seperti apa.

istilah minimalis. istilah ini sudah sangat umum digunakan orang, hingga menjadi jargon yg bisa menggambarkan apapun, tidak unik.
minimalis yang seperti apa? visualisasinya bagaimana? setelah melihat visualnya, mungkin baru kita dapat memberi komentar atas apa yg dimaksud.

kalau gaya bangunan stasiun beos (jakarta kota) yang art deco, kita bisa mengerti, karena desainnya yang unik.

nah, untuk menilai kecocokan antara gaya minimalis yg Anda maksud dengan artdeco stasiun beos, perlu ada visualisasi keduanya yang didampingkan. minimal ada sample visualisasi ‘minimalis’ yg Anda maksudkan.