Golden section pada logo, Bgmn desainer merefleksikan makna/filosofi logo dr bentuk & warna?

Ravly Herdian
Thu, Dec 5, 2013 at 8:52 PM

halo pak
apa kabar 😀

ada beberapa pertanyaan dari saya seputar dunia logo
mohon bimbingannya ya pak 😀
1. bagaimana menerapkan golden section sebagai struktur logo, seperti yang diterapkan logo apple ataupun twitter ?
2. seperti apasih, seorang desainer logo mempresentasikan makna/filosofi logo yang ia buat, dari segi bentuk dan warna ? kalo bisa, kasih beberapa contoh ya pak 😀

untuk saat ini hanya itu yang mau saya tanyakan, terima kasih sebelumnya 😀

Surianto Rustan
Wed, Dec 11, 2013 at 8:36 AM

Halo Mas, maaf baru bisa jawab sekarang:

1. golden section lebih banyak digunakan dalam spatial organisation, atau istilah lainnya: layout sebuah bidang. jadi lebih banyak diterapkan dalam bidang desain grafis yang sifatnya editorial, bukan identitas seperti logo.
apabila diterapkan dalam sebuah logo ini kurang lazim, bilapun ada yang menerapkannya, ini bukanlah sebuah penerapan yang dikenal secara umum. golden section diterapkan dalam sebuah logo bukanlah suatu keharusan.
saya sendiri tidak mendalami hal ini, karena kurang lazim diterapkan dalam identitas, namun lebih banyak dalam layout.
kalau dalam layout, banyak sekali contoh penerapan golden section, di web pun banyak sekali contoh2 yang bisa kita dapatkan:
ini beberapa contohnya:
http://www.creativebloq.com/design/designers-guide-golden-ratio-12121546
di blog tsb juga diterangkan logo skype yg memakai golden ratio, yang tadi sy sebutkan tidak umum digunakan tsb.
http://www.thegridsystem.org/tags/golden-section/

2. secara singkat, elemen2 desain adalah modal desainer utk memasukkan makna2 / filosofi perusahaan / produknya: poin, garis, bidang, bentuk, warna, huruf, dll.bisa dimanipulasi untuk mencerminkan makna tertentu.
untuk lebih lengkapnya, silahkan mampir ke web2 berikut, yang sudah menjelaskannya secara komprehensif beserta contoh2nya:
http://flernk.blogspot.com/2006/07/philosophy-of-logo-design.html

The Hidden Meaning Behind Really Good Logos


http://stocklogos.com/topic/fantastic-logos-hidden-meaning

ini sejauh yang saya ketahui, mudah2an bermanfaat.
salam suxes!

Wayfinding hrs sesuai dg citra perusahaannya? Knp desain wayfinding di Indonesia cenderung bergaya barat? Apa gaya barat lbh unggul dri gaya Indonesia? Stasiun Beos yg bergaya artdeco pakai wayfinding yg minimalis, apa cocok?

Hardy Nurvianto
Wed, Dec 11, 2013 at 2:07 AM

langsung aja ya pak ke pertanyaannya.
1. Apakah desain wayfinding harus sesuai dengan citra perusahaan atau citra bangunan tersebut (landmark)?
2. Bagaimana desain wayfinding yang baik?
3. Kenapa gaya desain wayfinding di Indonesia cenderung bergaya barat? Apakah daya tarik style barat lebih unggul dibandingkan style Indonesia?

segitu dulu pak 😀
ditunggu jawabannya, terimakasih 🙂

Surianto Rustan
Wed, Dec 11, 2013 at 9:04 AM

1. ya, supaya kepribadian si entitas (bangunan / perusahaannya) tetap tersampaikan di pelbagai media termasuk signage, dll.
selain itu apabila sistem desainnya semua terintegrasi (satu nuansa), maka dapat membuat efek: unity dan profesional.

2. untuk menjawab pertanyaan ini sangat panjang sekali 🙂 ada baiknya Anda mencari ebook berikut ini:
the wayfinding handbook – david gibson
dan pelajari web ini:
http://www.segd.org/home/index.html di web tsb
bisa di donlot file pdf yang sangat berguna utk medapat pengertian wayfinding itu apa.

3. bukan hanya wayfinding yang gaya barat, tapi hampir seluruh desain kita juga bergaya barat. ini juga tidak bisa disalahkan, ada bbrp faktor penyebab:
– ilmunya dari sana (studi desain yg diadopsi di Indonesia itu berasal dari Bauhaus – Jerman)
– media TV, iklan, dll di mana2 mendidik kita tentang estetika barat, termasuk desain.
– pertanyaannya saya balik: apakah ada style Indonesia? yang ada ialah style suku2 tertentu, karena indonesia adalah super heterogen.
hingga kini tidak seorangpun baik itu desainer, filsuf, dll yang bilang ada ‘gaya Indonesia’.
suku tertentu pun style-nya harus ditilik lagi, apakah asli daerah tersebut? bukan pengaruh Arab? Persia? Cina? Portugis? Secara Indonesia sejak jaman dulu merupakan daerah perdagangan shg terdapat banyak percampuran budaya.

demikian sejauh pengetahuan saya yg terbatas,
salam suxes!

Hardy Nurvianto
Wed, Dec 11, 2013 at 1:05 PM

Misalnya wayfinding di stasiun Jakarta Kota memiliki style minimalis, tetapi gaya bangunan stasiun tersebut adalah art deco, apakah wayfinding tersebut kurang cocok?

Surianto Rustan
Wed, Dec 11, 2013 at 1:37 PM

wah kalau penjelasannya verbal sangat sulit untuk menggambarkan seperti apa.

istilah minimalis. istilah ini sudah sangat umum digunakan orang, hingga menjadi jargon yg bisa menggambarkan apapun, tidak unik.
minimalis yang seperti apa? visualisasinya bagaimana? setelah melihat visualnya, mungkin baru kita dapat memberi komentar atas apa yg dimaksud.

kalau gaya bangunan stasiun beos (jakarta kota) yang art deco, kita bisa mengerti, karena desainnya yang unik.

nah, untuk menilai kecocokan antara gaya minimalis yg Anda maksud dengan artdeco stasiun beos, perlu ada visualisasi keduanya yang didampingkan. minimal ada sample visualisasi ‘minimalis’ yg Anda maksudkan.

Apa grid ditentukan sendiri oleh desainer? Apa itu symmetrical grid dan golden section grid?

Mutiq Yb
selamat pagi pak, saya sudah beli buku bapak yg layout, dasar & penerapannya dan bukunya sangat bagus dan sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas akhir tentang pembuatan buku company profile, maksihh pak ,, hehe 🙂
tapi ada yang mau saya tanya kan pak, saya masih bingung mengenai GRID..

1. apakah grid itu bisa ditentukan sendiri oleh kita?
2. apakah ada teori yang jelas mengenai GRID? sebenarnya yang dimaksud symetrical grid dan golden section grid itu apaa yaa pak?

Mohon bantuannya pak, biar saya mempunyai teori yang bisa memperkuat tugas akhir sayaa waktuu sidangg, makasiihh sebelumnya pak hehe :p

surianto rustan
Halo Mba Mutiq,
Wah selamat ya sebentar lagi lulus 🙂

Mengenai grid:
1. grid ditentukan sepenuhnya oleh si desainer, jadi sangat bebas. Tapi namanya juga desain, walaupun bebas, tapi tidak bisa sebebas seni
murni. sebelum menentukan gridnya kaya apa, harus selalu mengacu ke tujuan desain, siapa si entitas, siapa target audience, dll hasil
riset sebelum mendesain, karena tidak semua jenis grid cocok untuk semua jenis tujuan, entitas, audience, dll.

2. golden section (ada yg bilang golden numbers, golden ratio, fibonacci numbers, dll) itu bukan grid, tapi bisa jadi dasar penentuan grid. golden section adalah formula jaman dulu untuk membuat sebuah komposisi enak dipandang mata. formulanya = 8 : 13 (8 banding 13), ada
juga yang bilang merupakan urutan angka= 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, dst. Katanya golden section ini berdasarkan kehadirannya di alam,
golden section ada pada proporsi tubuh manusia, ada pada cangkang keong, pada tumbuhan, dan di mana-mana. saya sendiri belum pernah
membuktikan kebenarannya 🙂 Bahkan ada juga yang mengaitkannya dengan daVinci Code, dll.
lebih lanjut mengenai golden section silahkan baca2 web di bawah ini, seru 🙂

http://www.mathsisfun.com/numbers/nature-golden-ratio-fibonacci.html
http://www.mathsisfun.com/numbers/golden-ratio.html

The Golden Section / Golden Ratio


http://en.wikipedia.org/wiki/Golden_ratio
http://www.maths.surrey.ac.uk/hosted-sites/R.Knott/Fibonacci/fibInArt.html

banyak orang masih menggunakan golden section ini hingga sekarang, termasuk di bidang arsitektur dan desain grafis, yaitu sebagai dasar
untuk membagi bidang menjadi beberapa bagian, misalnya untuk menentukan margin dan grid sebuah halaman buku.

Banyak versi jenis2 grid yang dibuat oleh berbagai pihak. ada yang bilang 2 macam yaitu symmetrical, asymmetrical, multiple. lalu yg
symmetrical dibagi 2: symmetrical column based, symmetrical module based.
disebut Symmetrical grid kalo grid di halaman verso (halaman bagian kiri dr sudut pandang si pembaca) merupakan cerminan dari halaman
recto-nya (kanan).

liat buku: basic design 02: :Layout, oleh Gavin Ambrose dan Paul Harris.

Ada juga yang membaginya jadi 4 macam grid:
Manuscript grid, Column grid, Modular grid, Hierarchical grid

silahkan liat juga buku:
Making and breaking the grid oleh Timothy Samara.

juga website menarik berikut ini:
http://www.thegridsystem.org/

4 Types of Grids And When Each Works Best


http://en.wikipedia.org/wiki/Grid_%28graphic_design%29

selamat berburu grid Mba,
suxes buat sidangnya nanti 🙂

Mutiq Yb
okehh pak..maksihh banyak atas jawabannya…hehe
alhmdulillah dapat jawaban..
jangan bosan jawab pertanyaan saya yaa pak 🙂

surianto rustan
Sip, sama2 Mba.

Apa itu scanimation? Optical ilusion?

Ilham Ilmam Aufar
Pak, mksh atas jawaban tempo kemarin,
hmmm saya jadi mengambil tugas akhir buat buku SCANIMATION, seperti bukunya Star Wars karya Rufus Butler Seder
kira-kira, bapak tahu tentang itu? dan bisa saya mengajukan lebih banyak pertanyaan?

lumayan banyak pak hhe maaf ya 😀

1. Teori tentang SCANIMATION BOOK, itu seperti buku STAR WARS, saya ingin cari teori itu untuk tugas akhir saya, tapi saya susah pak nemunya, mungkin dia pakai optical illussion ya? -_-
Jadi tugas akhir saya membuat seperti SCANIMATION BOOK STAR WARS itu, tapi versi wayang Indonesia, nah saya agak kesulitan cari teori tentang itu pak
ini contoh bukunya: http://scanimationbooks.com/

Mksh Pak 😀

surianto rustan
Halo Mas Aufar,
mohon maaf baru bisa balas hari ini.

Saya sudah cari ke kamus-kamus, tapi tidak menemukan istilah scanimation. ada kemungkinan ini bukan official terms, tapi popular terms. jadi sifatnya populer pada masa kini (ini dipengaruhi juga oleh aspek marketing si penjual bukunya – buat jualan, jadinya kudu cari istilah yg menarik), namun sesungguhnya bukan istilah resmi seperti yang Anda maksudkan, soalnya kalo liat di wikipedia, ternyata “scanimate” itu sebuah teknik animasi untuk video, bukan di buku / kertas: “The Scanimate systems were used to produce much of the video-based animation seen on television between most of the 1970s and early 1980s in commercials, promotions, and show openings.”

Silahkan pelajari juga sumber lainnya: http://scanimate.zfx.com/article.html
ini istilah scananimation menurut wordnik:
http://www.wordnik.com/words/Scanimation

Saya tidak yakin ada teori (dalam rupa buku) tentang ini, paling mungkin yang ada sejarahnya dan cara pembuatannya, tapi teorinya harus
digabung2kan sendiri dari beberapa teori lain, misalnya teori tentang animasi, dan teori tentang ilusi optis.

Demikian Mas, yang setahu saya.
Btw apa boleh saya upload percakapan kita ini ke blog san website
saya? spy teman2 lain juga bisa belajar tentang hal ini.

Salam sejahtera.

Ilham Ilmam Aufar
Halo Pak
okeh, makasih atas bimbingan dan infonya, akan saya artikan dan cari tahu lebih banyak tentang scanimation.

Next Question:
2. Menurut Bapak, gaya disain wayang seperti apa yang targetnya untuk anak muda sekarang, antara SMP dan SMA?
karena klo dikasih bener-bener sesuai pakemnya, kebanyakan remaja sekarang pada “kabur” pak hhe
terbukti dengan melihat pertunjukan wayang setiap minggunya di Museum Wayang, yang dateng hanya beberapa butir hhe

Makasih pak 😀

surianto rustan
yang kayak gini Mas salah satu contohnya:
http://dgi-indonesia.com/wayang-rasa-udang-college-final-assignment-of-bima-nurin-aulan/

penerapannya di media & pengembangannya sampe kayak gini:
http://madcat7777777.deviantart.com/art/Wayang-Rasa-Udang-2011-Concept-275013823

Ilham Ilmam Aufar
okeh pak tq, oh iya, silahkan di share untuk teman2 😀
mksh ya pak 😀

Apa saja faktor yang menentukan harga desain? profesionalisme? lamanya pengerjaan? banyaknya permintaan klien? Bagaimana dengan maraknya jasa desain online yang murah?

Augusty Katherina
Selamat Sore Pak Rustan..

Ngobrol lg ya pak..
Saya masih dibingungkan dengan bagaimana untuk mematok harga desain. Apa saja yg mendasari penentuan harga desain. apakah profesionalisme /lamanya pengerjaan /banyaknya permintaan klien /…..

Saya masih mengerjakan proyek sebelumnya, pertama klien minta desain kemasan kopi kemudian nambah lagi (stiker, banner, spanduk, seragam, table menu, tshirt utk gift) utk keperluan kafenya.
dan saya blm menentukan harga, terus terang pak saya masih bingung soal harga desain. saya takut kerendahan /ketinggian ngasi harga. Tp saya jg pengen desain saya dihargai. krn saya jg kerjakan melalui proses berpikir.

Saya pernah searching ttg harga desain, kmdian saya ceritakan kpd teman saya dan dia blg “itu yg sdh profesional kali”. Memang bs diblg saya blm ckp berpengalaman, tp setiap mendesain saya selalu kerjakan dgn dedikasi. dan menjlnkan proses desain (riset, analisis, brainstorming, desain). Saya tdk ingin disamakan dgn “tukang desain” (desain tanpa berpikir).
Sblm klien saya mempercayakan saya utk mendesain, dia pernah memperlihatkan desain yg tlh dibuat sblmnya oleh desainer lain(yg sdh bekerja diperusahaan desain), namun desainnya sgt mengecewakan klien, saat saya lht jg desainnya terlihat tdk “baik”.
Dlm menentukan harga saya jg tdk mau dilemahkan dgn kata ‘blm profesionalisme’. Dan bagaimana bila klien sgt puas dgn desainnya.
Lalu mnrt pak Rustan bagaimana?

Ada rumus harga desain ga pak? 🙂

Sebelumnya terimakasih pak sudah mau berbagi.
God Bless.

surianto rustan
Halo Katherina,
mohon maaf baru bisa balas sekarang,
Mengenai harga desain, ini saya paste cuplikan2 hsl saya diwawancara oleh teman2 lain ttg topik yg sama mudah2an bisa membantu:

8. Saya kan seorang calon desainer, dan dalam perjalanan desain saya cukup banyak order yang masuk. Sampai sekarang saya masih bingung
bagaimana saya memberikan tarif harga. Saya bimbang, apakah saya harus memberikan tarif harga pada umumnya, atau pasrah saya jika penawaran rendah (setidaknya lumayan dapat pengalaman dan portfolio)? Dulu pengalaman bapak bagaimana?

Dulu saya juga dibayar rendah koq. Maklumlah, masih kuliah atau baru lulus kuliah, punya pengalaman kerja apa? Paling2 portfolio yg kita
tunjukkan pada klien adalah tugas2 kuliah, bukan real project. Nah yg perlu diingat adalah: profit seorang desainer tidak hanya berupa uang, tapi sangat penting juga: pengalaman (pengalaman mendesain agar makin mahir, pengalaman menghadapi klien, dll), portfolio, link / relasi (mendapat channel / relasi2 bisnis yang baru), promosi (apabila karya kita bagus dan klien senang, mungkin dia akan umumkan ke teman2nya mouth to mouth, ini jadi promosi gratis buat kita), berkah & doa (apabila klien senang dan merasa terbantu, maka ia akan berterima kasih pada kita dan mungkin mendoakan kita), bukankah semua ini profit yang luar biasa?

Untuk seorang pemula, cara menghitung harga desain bisa berdasarkan man-hours atau man-days. perkirakan berapa lama waktu yg dibutuhkan utk mengerjakan desain tersebut, kalikan dengan harga perjam atau perharinya. sedangkan harga perjam atau perharinya dihitung dari ongkos2 yang dikeluarkan untuk mengerjakannya (listrik, internet, komputer, uang kost, makan, minum, transport ke kantor klien, dll)
dalam sehari / sejam. maka nanti akan ketemu perkiraan harganya.

Apabila kamu sudah 5 tahun kerja, portfolio dan link sudah banyak, barulah silahkan tambahkan harga personal-mu, berdasarkan seberapa
besar personal brandingmu.

10. Dan dalam penentuan masalah tarif harga, bagaimana perubahan patokan tarif harga dari seorang desainer pemula sampai menjadi
seorang desainer yang terkenal seperti bapak ini?

Aduh, saya masih amatiran gini koq. mengenai tarif, ya itu tadi, setahun bekerja, 5 tahun bekerja, 10 tahun, 20 tahun, pasti seharusnya
tambah mahal, kan portfolio & list klien sudah panjang. Nah kalo saya harga saya naikkan begitu saya mengajar jadi dosen, pas buku-buku saya terbit, bergabung dalam komunitas desainer grafis, dan sejak menjadi pembicara, dll. karena semua itu menjadi bargaining power kita / jd punya kekuatan atas harga. cara lain adalah: memenangkan kompetisi desain, punya klien perusahaan besar, menjadi juri lomba desain, dll.

12. Bagaimana saran bapak dalam menangani customer yang banyak maunya, tapi menaruh harga patokan yang sangat rendah? saya masih sangat bingung dalam menego harga, tapi tetap ingin memberikan kesan baik pada customer.

Nah untuk itulah kita sebagai desainer harus kenal apa itu desain grafis, apa bedanya dengan hiasan / dekorasi semata, kenapa harganya tidak murah, mengapa harus riset, bagaimana tahapan kerja mendesain, dll. Desainer itu kalau mau dihargai (termasuk dihargai karyanya) pertama-tama harus menghargai dirinya dulu, dengan apa? dengan baca, mempelajari, cari tau siapa dirinya sendiri, apa kekuatan saya, di
mana kelemahan saya, dll. Jadi pertama2 sebelum minta dihargai, tolong hargai diri sendiri dulu.

Kedua, harus tau mengapa klien dan masyarakat bisa berpikiran begitu terhadap desain, mengapa mereka menawar serendah2nya, apa sebabnya? apakah cara komunikasi saya yang kurang baik? apa penampilan saya kurang meyakinkan? apa saya sudah berbicara dengan cara pandang si klien? atau saya masih menganggap klien juga tau desain? apakah saya dapat menerangkan apa itu desain grafis kepadanya? dll.

Utk klien yg cerewet, saya memandangnya sebagai sasaran edukasi saya, ini dia org yg tepat utk di edukasi mengenai desain grafis, tentunya
dengan cara2 yg sopan & tidak menggurui. Bila ia tetap tidak mau mengerti ya sudah terima saja perlakuannya tapi dengan tanpa
menurunkan harga saya, tinggal dia mau terima atau tidak. apabila tidak, ya mungkin ia cukup dengan desain yg kualitasnya yg lebih
rendah, kan memang ada kelas2 desainer dan target grupnya sendiri. Toh jodoh & rejeki di tangan Tuhan. Daripada saya menurunkan harga (nanti desainer lain marah / yg paling buruk: profesi desainer grafis jadi mati), lebih baik saya bertahan. Biasanya sih kalau 1 klien ga jadi, 3
klien gol.

8. bagaimana cara bapak untuk menghargai (memberi harga) karya yang sudah bapak ciptakan?

Tentunya saya menghitung dulu basic resource yang saya pakai untuk membuat proyek tsb, yaitu waktu, uang, tenaga, tenaga lain yang saya
kontrak, + biaya produksi (kalau termasuk dalam kontrak), setelah itu saya tambahkan presentasi tertentu sesuai dengan brand value saya saat
ini. Tapi tidak tertutup kemungkinan hal-hal lain juga masuk dalam perhitungan, misalnya: tingkat kesulitan pekerjaan yang sangat tinggi,
besar-kecilnya perusahaan / banyak-sedikitnya produk, jauh-dekatnya klien (transportasi), dll.

Saya juga menyarankan kamu untuk membaca2 website saya di bagian learning, karena semua wawancara dan tanya jawab dengan teman2 lain ada di situ, untuk melengkapi pertanyaanmu soal tarif desain.
http://www.suriantorustan.com/en/learning/

atau bisa juga ke klinikonsultasi di blog saya:
http://surianto.wordpress.com/category/klinikonsultasi-2/

Nah, seandainya setelah baca2 masih bingung dan ada yg mau ditanyakan soal tarif, jangan sungkan2 tanya lagi ya.

Suxeselalu!

Augusty Katherina
Terimakasih pak Rustan..
Saya pelajari dulu pencerahan dr pak Rus, sambil ngitung2 hehe…

Skrg saya mo nanya tentang maraknya jasa desain yg ditawarkan dengan harga murah bahkan yg nerima online jg semakin banyak. Menurut pak Rus gimana ttg hal ini?

Suxes jg pak 🙂

surianto rustan
yah itu tidak dapat dielakkan, pada akhirnya memang ada kelas2 desainer, ada yang kelas 50rb, ada yg kelas 500rb, ada yg kelas 1 juta, 5 juta, 10 juta, 100 juta, 1 M, dll.

desainer tidak bisa hanya menguntungkan dirinya sendiri dan keluarganya saja, tapi berkaitan dengan seluruh desainer lain. satu orang mematikan harga maka terjadilah perang harga murah2an sampai gratis.

Desainer sepantasnya meningkatkan kualitas pribadi dan kualitas karyanya, tidak hanya cari uang cepat. kalau kualitas dirinya baik, belajar terus, belajar komunikasi yang baik, cara bicara dengan klien, cara bisnis yang baik, belajar marketing, belajar bahasa asing, memperdalam pengetahuan tentang desain, bergaul dengan desainer lain sampai ke luar negeri, maka kita tidak perlu berebut sepotong kue lokal, tapi bisa bikin sendiri kue sebesar yang kita mau yang lingkupnya internasional. pasar tidak cuma di Indonesia, tapi juga di luar negeri. mengapa tidak
berani? karena minder, tidak bisa bahasa inggris, mengapa pengetahuan desainnya sedikit? karena tidak bisa bahasa inggris, sedangkan buku2
desain (wong asal ilmunya dari Eropa) rata2 berbahasa Inggris. tidak pede? minder? itu karena tidak mau belajar, bukan karena kemampuan
otaknya yang terbatas. orang yang tidak begitu cerdas bisa jadi mahir sekali karena rajin belajar.

jadi perdebatan yang selama ini kita dengar tentang adu murah harga di dalam negeri, itu sikut2an sendiri antara pihak2 yang mungkin minder karena tidak meningkatkan kualitas dirinya sendiri dan karyanya. kemajuan desain grafis negara ini semua ada di tangan para pelakunya sendiri.

lebih jauh lagi silahkan baca artikel tanya jawab yg ada di website & blog saya, sudah sering sekali hal ini dibicarakan & didiskusikan,
jangan sampai ketinggalan berita, jadi silahkan disharekan ke sebanyak2nya teman agar makin banyak orang mengerti.

Daaaaaa..

Menjadi desainer grafis harus kuliah dulu? Riset, analisa, strategi, tidak dimiliki orang awam?

Dark Pane
Selamat Pagi Pak Surianto.
Maaf sebelum nya subuh-subuh saya bertanya hehe.
Gini Pak, saya mau bertanya. Apakah untuk menjadi seorang desainer grafis itu harus kuliah DKV dulu?
Apa itu tidak harus Pak?
Terkait kalau yang harus kuliah itu pasti mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk kuliah itu sendiri.
Nah, jika ada orang yang ekonomi nya bisa di katakan tidak mencukupi, tetapi dia sangat ingin belajar menjadi desainer grafis itu gmn pak?
Apakah ada ketentuan untuk harus kuliah DKV dulu Pak?

Sebelum nya terima kasih Pak Surianto, maaf sekali lagi menggangu subuh-subuh. Hehehe
Mohon Pencerahannya.
Sekali lagi terima kasih..

surianto rustan
Halo Mas,
Mohon maaf baru balas sekarang krn kebetulan seminggu kemarin sedang sibuk.
mengenai hal yang ditanyakan, jawabannya relatif, sangat tergantung dari kapasitas & kemampuan pribadi yang bersangkutan.
karena pada prakteknya banyak juga mahasiswa dkv yang setelah luluspun tidak bisa mendesain dengan baik. namun kalau belajar secara formil memang menambah wawasan tentang desain, dan cara berpikir desain (design thinking), tidak cuma sekedar ketrampilan menggambar atau software (ini mah bisa dipelajari sendiri).

Mungkin kita harus melihat secara lebih luas. sekarang ini sudah tahun 2013, pilihan terhadap jalan hidup super banyak sekali. bolehlah kalau
dulu profesi cuma terbatas (ingat pas wakt kecil kita ditanya cita2nya mau jadi apa), paling2 guru, dokter, arsitek, polisi, dll.
sekarang sudah era digital, warnet ada di mana2, nonton film, cek email, browsing bisa dari hp. informasi bisa dicari dengan mudah,
termasuk ilmu2 desain, kesempatan kerja, dll. begitu juga profesi yang sudah sangat beraneka macam dan tidak dapat diduga. teman saya seorang ibu rumah tangga bisa nyambi kerja sbg content updater website2 di Eropa, kerjanya dari rumah di Jakarta. Ada lagi teman saya yang
kerjanya sebagai social media strategist, dia membuat program2 promosi perusahaan khusus untuk media2 sosial spt di Fb, Twitter, dll.

Maksud saya, sebaiknya pola pikir kita terhadap profesi itu juga berkembang, jangan terbatas. desain grafis pun sekarang (sebetulnya
sudah dari dulu, cuma orang2 baru ngeh sekarang) sudah sangat menempel dengan bisnis, marketing, dengan IT, dengan arsitektur, dengan desain produk, interior, animasi, perfilman, broadcasting, dll. jadi tidak hanya di media bidang datar seperti kertas atau cetakan, karena itulah
istilahnya pun disesuaikan menjadi desain komunikasi visual.

Saya pikir jaman sekarang ini, bagi yang sekolah maupun tidak, yang penting itu KREATIF dan KERJA KERAS. banyak cerita tentang anak tidak lulus SD tapi bisa jadi milyarder, atau anak orang miskin dari desa yang bisa sekolah sampai ke luar negeri.

Apabila merasa berat mengambil S1, mungkin dengan kursus dulu, yang penting bisa mengenal desain lebih banyak, lalu harus praktek
terus-menerus, latihan terus, baca / lihat banyak buku2 dan artikel2 di internet, jauhi diri dari minder karena tidak bisa bhs inggris.
belajar bahasa inggris sedikit2, nonton film2 berbahasa inggris, buku, liat website berbahasa inggris, nanti lama2 juga bisa. maklum, ilmu
desain asalnya dari Eropa, jadi minimal dengan membaca buku2 mereka kita jadi bisa memahaminya.

jadi kesimpulannya:
– perlu sekolah formal atau tidak, sangat tergantung pada pribadi masing2
– jaman sekarang toh profesi sangat beragam dan kesempatan sangat terbuka luas
– semua tergantung pada kreatifitas manusianya

Gitu Mas Dark Pane,
itu yang setahu saya, mudah2an bisa membantu.
Apabila ada yang mau ditanyakan lagi silahkan, dengan senang hati saya menjawabnya.

Terima kasih

Dark Pane
Halo Pak,
Wah iya Pak saya mengerti sekarang. Berati itu semua tergantung pada diri masing2 ya pak.
tadi nya saya sempet minder Pak, karena belum bisa kuliah dkv.
sebenernya ada keinginan sekali untuk masuk institusi atau kuliah dkv. Cuma keterbatasan ekonomi lah yg harus membuat saya belum bisa kuliah, ingin sekali rasanya menambah wawasan tentang design. Dan itu yang saya lakukan sekarang, belajar dan terus mencari Pak.. ya dengan cara liat2 refresni2 di Intenet, buku, dll. Termasuk di website Bapak.
Saya banyak terbuka pikiran saya setelah membaca artikel2 dan learning2 dari Pak Surianto..

surianto rustan
Iya Mas,
Yg penting byk lihat2 internet, belajar dr sana, terus praktek dg menerima pekerjaan2 desain, dan rajin tanya2 seperti ini, pasti lama kelamaan juga bisa koq 🙂
Asalkan jgn minder & niat hrs kuat.

Dark Pane
Bener Pak,
Ohya terus mau tanya lagi pak.
Saya baca di learning nya Pak Surianto,
Kalo riset ,analysa, strategi dll mungkin tidak dimiliki oleh orang awam (specially yg bukan anak kuliahan)
Nah, apakah semua itu bisa Pak pelan2 kita pelajari sendiri?
riset, analisa, cari strategi, dll. Nah keahlian riset, analisa, strategi, dll ini yang mungkin tidak dimiliki oleh awam. – See more at: http://www.suriantorustan.com/en/learning/82/wawancara-seputar-desain-grafis-dan-permasalahannya/#sthash.oJqOvh05.dpuf

surianto rustan
Tentu bisa Mas, belajarnya biasanya sekalian pas dpt order desain dr klien, nah ketiga langkah tsb kita terapkan pas ngerjain proyek tsb. Lama2 terbiasa pake langkah itu.

Bagaimana membuat layout yang berkesan simpel namun fun tapi cuma pakai warna merah, putih, hitam.

Dimas yusmana
sore pak
maaf ganggu
saya dimas mahasiswa yang sedang bikin tugas akhir mau bertanya seputar layout
untuk memberikan kesan simpel tp jga ada fun nya dalam sebuah layout booklet gmana carany ya pak, tp cma hanya menggunakan wrna merah putih hitam saja pak
terima kasih

surianto rustan
Halo Mas Dimas,
Mohon maaf sekali baru mengabarkan hari ini,
mengenai layout:
semua pekerjaan desain tidak berdasarkan style (style yg humor itu begini, style yg simpel ini begitu, style yg serius itu begini, dll).
desain harus dilandasi oleh problem. problemnya apa? problem ini harus dikumpulkan dulu. problem yaitu:
siapa si klien? apa produknya? siapa audiens-nya? apa yg mau disampaikan? dll.
6W+1H: what, who, whom, when, where, why + how..

Soalnya kalau dilandasi oleh style (style yg humor itu begini, style yg simpel ini begitu, dll) jadinya seperti template. bahayanya pakai template: keserupaan. keserupaan adalah musuhnya desain. desain murah gara2 ini, gara2 template. mungkin di level tertentu template bisa digunakan, tapi tidak di semua level desain. misalnya akan gawat sekali kalau starbucks pakai logo bergambar cangkir kopi karena kecenderungan template adalah menggambarkan bidang usahanya. nanti starbucks logonya akan serupa dengan kopi bengawan solo, dengan kopitiam, dengan excelso, dll.

makanya itu selalulah mendesain dengan berlandaskan problem: siapa klien, siapa audiens, apa produknya, dll, dll. dengan demikian hasilnya: klien A (problem A), solusi desainnya A, klien B, solusi desainnya B. tidak mungkin desain A merupakan solusi bagi A, B, C, D, dll.
krn problem tiap klien beda2, kepribadian klien juga beda2.

ngomong2 soal kepribadian, seperti halnya logo, semua desain itu spt wajah manusia = tidak ada yg sama. kalaupun style humor cocok utk
klien A, B, C, tapi mana ada selera humor orang yang sama? ada yg cocok dengan gaya Tukul, ada yg cocok dengan gaya Olga, ada yg cocoknya gaya humor stand-up comedy, dll.

Ini menekankan bahwa kalau berlandaskan style / gaya, maka jatuhnya ke komoditi, pukul rata semua. jadi berproseslah berdasarkan jatidiri
klien, tujuan, 6W1H.

Nah, kalau boleh tahu, siapa kliennya? tujuannya? 6W1H-nya? Apa sudah bikin creative brief?
Untuk lebih jelasnya, silahkan melihat2 kumpulan artikel tanya jawab
saya dengan teman2 lain di:
http://www.suriantorustan.com/en/learning/
atau di blog saya:
http://surianto.wordpress.com/category/klinikonsultasi-2/

Sementara sekian dulu Mas Dimas yang setahu saya.