DKV DI ERA 4.0

Diwawancara oleh @prasetya_dh dari Highlight.id 8 April 2020.

1. Bagaimana perkembangan DKV di Indonesia maupun dunia di era sekarang?

DKV/desain grafis, seperti juga bidang-bidang lainnya, pasti terdampak revolusi industri 4.0. DKV tidak mati, demand bahkan makin tinggi (makin dibutuhkan masyarakat), namun esensi, ekosistem, dll.nya telah berubah.

Tadinya desain dikerjakan oleh profesional, harus pakai riset, waktunya lama, harganya mahal. Kini dikerjakan oleh siapapun tanpa latar belakang pendidikan DKV, tanpa riset, cepat, dan murah.

Semua dimungkinkan karena teknologi canggih masa kini, yang memungkinkan hal-hal ini terjadi:
– siapapun, kapanpun, di manapun, bisa mendesain cukup pakai hape saja
– apps desain gratisan bermodal puluhan template yang keren-keren.
– biaya promosi murah pakai media sosial.
– dll.

Hal-hal tersebut berdampak terhadap esensi desain, profesi desainer & ekosistemnya, kualitas desain, harga desain, dll.
___

2. Ada anggapan bahwa desainer grafis hanya sebatas kemampuan mengoperasikan software komputer. Bagaimana menurut Anda?

DKV/desain grafis dimensinya luas sekali. Ada pekerjaan desain yang seluruhnya dikerjakan pakai software komputer, contohnya: digital painting, photo editing, landscape untuk game, dll. tapi ada juga yang perlu bikin konsep dulu, contohnya: brand Identity, iklan, display design, dll.

Yang bilang “cuma perlu pakai software komputer” mungkin dia bekerja di proyek kecil atau pekerjaannya sebagai eksekutor visual saja. Tapi yang bekerja di proyek desain besar pasti tahu bahwa desainer tidak cuma eksekutor visual.

Proyek desain besar biasanya menuntut desainer punya keterampilan lain selain software, diantaranya: menguasai teori-teori desain seperti warna, tipografi, layout, copywritings, hingga ketrampilan di luar visual (sesuai kebutuhan proyeknya): menganalisa kepribadian brand, psikologi konsumen, etnografi, neuroscience, food design, fashion, travel, musik, produk digital, robotik, IOT, AI, dll.

Karena untuk menghasilkan solusi desain yang berkualitas bagi klien/masyarakat, desainer harus tahu dulu segala problem/faktanya (yang mungkin berasal dari bidang/sektor yang berbeda).
___

3. Bagaimana desainer grafis bisa menyeimbangkan antara idealisme berkarya dan kepentingan bisnis?

Pertama yang perlu dipahami adalah desainer bukan seniman. Mendesain itu bukan seperti melukis, membuat patung, membaca puisi, atau menari. Pada seni murni, porsi otak kanan (kreativitas, intuisi, dll) lebih mendominasi, ditambah lagi dengan ekspresi, idealisme, mood/emosi sang seniman.

Pada desainer, porsi otak kanan & otak kiri (analisa, rasio, logika, dll) harus seimbang. Karena dia harus menghasilkan karya yang fungsional, tidak cuma indah. Logo harus mencerminkan kepribadian perusahaan, bukan mencerminkan mood si desainer.  iklan harus bisa menyadarkan masyarakat untuk diam di rumah dalam kondisi wabah, bukan idealisme si desainer mangan ora mangan sing penting kumpul.

Saya suka warna biru, tapi mungkin kurang cocok dipakai untuk logo rumah makan. Saya suka font Comic Sans, tapi mungkin kurang cocok dipakai untuk iklan smartphone canggih.
___

4. Bagaimana agar desainer grafis dapat berkembang dan sukses di era sekarang?

Revolusi industri disebabkan oleh lompatan-lompatan teknologi > biang keroknya adalah “teknologi”. Dulu teknologi mesin uap, lalu listrik, lalu komputer, sekarang teknologi digital yang merasuk ke segala sendi kehidupan.

Jarak antara lompatan-lompatan teknologi ini makin dekat, jadi sebentar lagi pasti ada revolusi industri lagi. Artinya akan ada perubahan lagi, dan satu-satunya cara untuk survive adalah: cepat beradaptasi, keluar dari zona nyaman. Desainer perlu mendekatkan diri ke biang keroknya: teknologi digital. Pelajari karakternya, coba gunakan, manfaatkan.
___

5. Haruskah desainer grafis fokus pada 1 – 2 bidang saja (misal: branding,
advertising, multimedia, dll) atau menguasai banyak bidang sekaligus?

Analoginya: dokter spesialis & dokter umum. Si Bram karyanya betul-betul luar biasa, sekali posting ilustrasi di Instagram, yang nge-like ribuan orang, maka Bram fokus jadi ilustrator saja, jadi dokter spesialis.

Tapi suatu hari Bram ditawari proyek membuat logo dengan bayaran yang besar. Itu bukan bidang dia, tapi sayang amat kalau ditolak. Akhirnya Bram menerima proyek itu, mengatur schedule & keuangannya & mencari orang yang ahli logo > artinya Bram bukan cuma ilustrator (dokter spesialis) tapi dia juga sebagai project manager.

Kalau sudah di dunia bisnis, apalagi di era sekarang, pilihan jadi dokter spesialis atau dokter umum jadi naif & relatif. Saya tidak selalu dapat proyek yang sesuai dengan spesialisasi saya. Tapi kalau branding/reputasi saya sudah sangat terkenal, silahkan jadi dokter spesialis.
___

6. Berkembangnya teknologi informasi yang semakin cepat membuat banyak karya desain grafis yang mempunyai kemiripan antara satu dan lainnya. Apa pendapat Anda?

Kemiripan itu biasanya akibat: kurang wawasan visual, ikut-ikutan trend, atau bisa juga karena pakai template yang tersebar di pasaran. Untuk proyek-proyek lingkup kecil mungkin tidak masalah, tapi bagi corporate besar ini masalah.

Contohnya perusahaan ojol besar yang logonya mirip beberapa logo perusahaan lain. Kesannya koq perusahaan sebesar itu kurang wawasan visual. Kita jadi mempertanyakan di mana segi inovasi yg sering digaungkan si perusahaan ojol itu.
___

7. Saat ini banyak aplikasi mobile yang memudahkan masyarakat umum (yang bukan desainer grafis) untuk mendesain. Bagaimana menurut Anda?

Mungkin sudah terjawab di no.1
___

8. Banyak template desain (misal: logo, brosur, layout media sosial, dll) yang
beredar di pasaran sehingga memungkinkan pebisnis untuk mempunyai materi-materi promosi tanpa kehadiran desainer grafis profesional. Bagaimana menurut Anda?

Mungkin sudah terjawab di no.1
___

9. Bagaimana pendapat Anda tentang apresiasi masyarakat Indonesia terhadap karya desain grafis saat ini?

Di level tertentu apresiasinya sangat rendah. Penyebabnya sudah saya terangkan di nomor satu. Penyebab lainnya adalah:
– kurangnya pengetahuan, kesadaran, dan penegakan hukum hak cipta, sehingga banyak terjadi kasus peniruan, pembajakan karya desain.
– asosiasi desainer grafis tidak melindungi desainer. Tidak ada sertifikat profesi, patokan harga, standar kualitas, black list klien atau desainer yang nakal, dll.

Akhirnya semua desainer terpaksa harus melindungi dirinya sendiri, keluarga, dan dapurnya, termasuk dengan cara banting harga, membajak, meniru, dll. oleh oknum-oknum tertentu.

Bagaimana desain mau dihargai kalau desainernya sendiri tidak saling menghargai?
___

10. Apa harapan Anda tentang DKV khususnya di Indonesia?

Btw banyak orang bilang “DKV is a sunset industry”. Maka membicarakan asosiasi desain grafis yang melempem, sekarang mah sudah basi. Karena menurut para ahli, DKV akan semakin “blur” keberadaannya, membaur dengan bidang-bidang lain: bisnis, IT, hiburan, kesehatan, edukasi, dll.

Dulu, hingga tahun 2000-an awal, DKV bisa sebagai bidang yang independen & eksklusif. Tapi sejak disrupsi akibat Revolusi Industry 4.0, tidak lagi. Siapapun kini bisa kerja sebagai desainer di startup kecil maupun di perusahaan unicorn raksasa, tidak perlu lulusan DKV.

Saya tidak menaruh harapan pada sesuatu yang abstrak (DKV di Indonesia), tapi lebih tepatnya sebuah input yang kongkrit bagi teman-teman desainer pemula di akar rumput:

“Jangan cuma mendesain untuk orang lain, tapi terlebih harus mahir mendesain hidupmu sendiri”.

“Dengan Kreativitas dari Tuhan, kita juga kreatif menghadapi segala perubahan & tantangan hidup di masa depan”.

Salam sejahtera.
Terima kasih.
___

Hasil wawancara ini diterbitkan di: https://highlight.id/tantangan-peluang-prospek-pekerjaan-desainer-grafis-lulusan-desain-komunikasi-visual-dkv/

2 Replies to “DKV DI ERA 4.0”

Leave a Reply to Budioso Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *