Desain grafis yang baik itu seprti apa? Apa saja prinsip dan unsur desain grafis? Apa yang harus diperhatikan dalam cetak sablon?

Chitellz Holmes
pa apa kabar? saya feny saya ingin bertanya kepada bapak mengenai desain grafis..
1. desain grafis yang baik atau dikatakan berkualitas itu kriterianya seperti apa ya pa?
2. apa saja yang menjadi prinsip dan unsur desain grafis?
3. desain grafis seringkali diaplikasikan pada proses pencapan (sablon), biasanya apa yang harus diperhatikan agar desain rgafis tersebut dapat diterapkan pada proses pensablonan?
terimakasih pa… saya sangat menunggu balasan bapak..

Surianto Rustan
June 7
Halo Feny, ini jwbn sepengetahuan saya:
1. a. memenuhi prinsip2 desain (balance, rhythm, emphasis, unity, dll., b. penampilan (desain fisiknya) cocok dengan pesan / makna / kepribadian entitasnya, c. tidak melanggar hak2 org lain, misal peniruan, moral, etika, dll., d. sustain: mendukung keberlangsungan hidup manusia dan lingkungan (eco friendly, educate, dll), e. kreatif, f. mendukung tujuannya: bisa utk menjual, menginformasikan dg jelas, dll. dan masih byk lagi lainnya.
2. wah mengenai ini akan panjang sekali penjelasannya. sebetulnya ada di buku saya yg Layout dasar & penerapannya, atau bisa juga cari di internet byk sekali, pake keywords di google: design principles, design elements. yg bahasa indonesiapun banyak.
3. mengenai proses cetak tinggi seperti sablon, mohon maaf saya kurang kompeten di situ, mungkin silahkan menghubungi sahabat saya lewat fb: Caroline F. Sunarko, ia pasti senang menjawab pertanyaan Mas.
Demikian, dan mohon maaf saya juga masih belajar, jadi ini yg setahu saya saja. Salam sejahtera [:)]

Chitellz Holmes
June 11
wah terimakasih banyak pa.. saya sangat tertolong.. sekali l;agi terimakasih banyak.. [:D]

Surianto Rustan
June 12
sama2 Feny, sy juga taunya cuma segitu [:)]

Istilah Editor dalam bidang desain grafis

Ai JanuArt
Halo apa kabar
Apa kabar pak Surianto? Udah lama temenan di FB tapi baru sekali ini menyapa. Hehe… Sebelumnya saya mau terima kasih, saya punya satu buku pak Surianto yg tentang Logo. Bukunya sangat bagus. Membantu sekali. Jadi semacam kitab suci desain logo hehe…
Sebetulnya ada yg mau saya tanyakan. Saya ini awam di bidang seni grafis dan desain grafis. Tapi saya punya minat yg cukup besar di dunia ini. Itulah kenapa saya beli buku “Mendesain Logo” (buku lain belum kebeli hehe).
Begini pak, saya sering upload karya ke fb dengan harapan ada yg kasih kritik & saran dari para ahli. Kadang ada juga orang awam (seperti saya) yg ikutan komen kira2 begini
“Editan lu keren juga bro”. Atau
“Gua juga mau dong foto gua dieditin kaya gitu”.
Pernah juga liat ada forum yg menamakan dirinya “xxx editor” isinya berupa artwork. Hampir tiap hari ada artwork baru. Dan yg komen isinya kebanyakan seperti yg saya tulis diatas.
Pertanyaan saya. Tepatkan istilah “edit” untuk sebuah kegiatan desain atau pembuatan artwork grafis dan istilah “Editor” untuk orangnya??
Mengingat istilah edit juga ada di dalam proses desain. Bahkan menu edit pasti ada di (hampir) semua software grafis.
Itu saja pak. Mohon maaf kalau kepanjangan & merepotkan hehe. Terima kasih [:)]

Surianto Rustan
April 17
halo Mas Ai JanuArt, saya jawab sepanjang pengetahuan saya yang terbatas ini ya: istilah edit sangat umum, tidak eksklusif di bidang desain grafis saja, tapi juga ke area literatur, jurnalistik, informasi teknologi, dll. Jadi apabila saya melakukan seperti yang Anda lakukan, lalu saya menyebut diri saya editor, itu sah-sah saja menurut saya, namun ini hanya di area sempit dan personal, yaitu saya sendiri dan mungkin teman2 yang kenal saya, tapi untuk sampai ke area publik, masyarakat taunya editor itu ya itu tadi, ada yang taunya editor surat kabar, HTML editor, mengedit surat, dll.
Itu sejauh pengetahuan saya.
Suxeselalu Mas Ai [:)]

Ai JanuArt
April 22
Oh gitu. Ok deh makasih yah pak Rustan [:)]

Mau buka usaha desain grafis

Misbah Lutfi
selamat pagi mas rustan hehe

Surianto Rustan
April 14
halo

Misbah Lutfi
April 14
butuh cerahan sedikit nih mas, kan saya mau buka Usaha DG menurut mas apa sih yg harus saya persiapkan selain mental dan tanggung jawab yg tinggi
pertanyaan nya kurang baik ya mas

Surianto Rustan
April 14
maaf barusan pesan makanan [:)]
wah banyak sekali yg perlu dipersiapkan.

Misbah Lutfi
April 14
oh gitu okey mas
sangat penasaran ingiin tau saya mas

Surianto Rustan
April 14
antara lain kemampuan manajemen bisnis dan komunikasi praktis

Misbah Lutfi
April 14
ooh ia itu si sudah saya persiapkan mas, haruskah saya memilih mana target klien saya atau kah saya harus menerima semua orang yg apabila dia membutuhkan sayapun harus siap jadi kaya tukang gitu.

Surianto Rustan
April 14
sebaiknya untuk awal, terbuka bagi siapapun yg memerlukan jasa kita, nanti apabila sudah berjalan sekitar 2/3 tahunan akan kelihatan kita cenderung kemana

Desainer harus Idealis, atau Komersil?

Rizal Fauzi A
Menarik pak setelah saya baca artikel di wordpress nya bapak,namun pak kembali kepada pertanyaan mendasar, apakah nantinya banyak tercipta desainer muda Indonesia yang mau untuk mengorbankan “kemewahan” saat berkuliah dengan mencoba memajukan UKM berkualitas dengan ilmu yang didapat untuk mencoba melabelisasi produk asli Indonesia yang terbaik dengan harga murah atau tidak dibayar sekalipun. terima kasih pak [:D]

Surianto Rustan
February 1
jadi kalau saya pikir, riwayat seorang desainer itu ada tahap2nya, misalnya: kuliah, atau tidak kuliah, awal bekerja, sudah bekerja tahunan, sudah bekerja puluhan tahun (senior).
nah membantu orang lain itu tidak terikat dengan setinggi apa karier kita. bisa kapan saja, apakah waktu masih kuliah, atau sudah senior. kalau di luar negeri, seorang desainer profesional justru berlomba2 mendapatkan pekerjaan yang sifatnya sosial, misalnya social campaign, membantu ukm, dll, krn itu sangat bagus buat portfolio mereka. jadi menyeimbangkan antara pekerjaan komersial dan segi pelayanan sosial. brandingnya jadi bagus. di sini juga demikian, kalaupun belum membudaya, sikap seperti itu adalah perlu: membantu orang lain kapanpun. saya sendiri dan beberapa teman desainer punya pemikiran yg sama, jadi selain kita bekerja komersial, kita seimbangkan dengan bekerja sosial bahkan tanpa dibayar sepeserpun.

Surianto Rustan
February 1
karena kita seharusnya melihat gambaran besarnya, bahwa bukan semata-mata uang yang paling penting, melainkan juga reputasi pribadi / nama baik. kalaupun itu masih dianggap bungkus, mari masuk ke yang lebih dalam lagi: hati nurani [:)] Nah Mas Rizal sejak awal sudah memiliki kepekaan tsb, silahkan menyebarkan virus kebaikan tsb di lingkungan terdekatnya dulu, baru lama2 meluas.

Surianto Rustan
February 1
bagi desainer muda / pemula, lebih jelas lagi kebutuhan mereka memang harus melayani orang lain dulu, tanpa mengharapkan balasan materi, krn yg dibutuhkan oleh mereka lebih berupa: portfolio, network, pengalaman, latihan, dll. jadi paling baik melihat ke dalam / introspeksi, jadi kita tetap sadar saya sedang berada di tahap mana, dan apa yg sebaiknya saya lakukan, apa saya sudah bisa kasih harga mahal, apa belum, bagaimana kualitas saya, kapan saya harus lebih membantu orang, kapan harus kerja lebih keras lagi, dll.

Rizal Fauzi A
February 1
Waw, [:D] saya tidak menyangka pak kalo jawabannya sekomprehensif ini pak [:D] . Terima kasih sekali
Mengenai undangan tersebut ya iya saya memahaminya [:)] , tanpa ada kekhawatiran lain pak. Insyaallah saya sedang menuju itu (untuk mencoba mengundang dan menimba ilmu langsung di kampus udinus) [:D]
Lalu untuk menjadi seorang desainer muda yang berkembang seperti yang bapak ungkap disini kadang pak kita sebagai seorang desainer terjegal hal yang sama, kebutuhan ekonomi.
Lalu apakah memang kita harus menjadi desainer yang seperti supermarket? yang notabenenya terkadang harus bersimpangan dengan apa yang kita yakini dari awal, atw mungkin adakah cara yang lainnya tanpa kita meninggalkan idealis kita tersebut?

Surianto Rustan
February 1
Banyak Cara mengakalinya Mas Rizal, ada teman saya desainer profesional, di sela2 proyek desain idealis pribadinya, ia jg menerima pekerjaan2 desain ecek2 spt brosur, kartu nama, dll. Jadi dia mengelompokkan ada 2 macam kerjaan desain, yg 1 yg sifatnya komersial, dan uangnya cepat dan banyak, yg 1 lagi pekerjaan idealis sosial yg tidak ada uangnya. Pekerjaan komersialnya bisa menghidupi dirinya dan memodali idealismenya. Kreatif dan seimbang kan?

Surianto Rustan
February 1
Jadi bukan berarti kota menolak uang, tapi bagaimana secara arif mengolahnya utk tujuan yg lebih mulia
Mohon maaf saya sudah siap2 kuliah, jadi hrs terpotong obrolannya, tapi silahkan dilanjutkan saja apabila masih penasaran [:)] terimakasih bisa berbincang2 dengan Mas Rizal yg menyenangkan

Rizal Fauzi A
February 1
iya makasih banget atas kerelaannya meluangkan waktu dan berbagi dengan saya yang sangat cerewet ini heheheh. sekali lagi terima kasih banyak pak [:D]

Menghadapi Klien

Ircuz Pastrana
oke, boleh panggil aku prazz aja,, hehe. biar lebih akrab,, hehe,, eh ngomong” ni lagi sibuk gak pak ? mau sharing” ni .. tentang client.. [:)]

Surianto Rustan
January 22
silahkan Mas Praz

Ircuz Pastrana
January 22
gini pak, selaku junior, apa kedepan nya aku harus menerima client yg ngerti atau paham dan mau mengerti tentang apa itu hak, kewajiban dan lain” tentang desainer grafis, stelah aku jabarkan atau mengkasih 3 artikel yg judulnya kalo gk slah BUKA MATA di site nya DGI.. atau mungkin aku juga boleh menerima client yg gak mau tau tentang itu semua.. ” ah saya gak perlu tau detail tentang itu semua,, yg penting desenin yg bagus,, konsep dan bla bla bla ,, gak perlu ,, tapi harga nya jangan mahal2” ketika aku menerima client yg gak mau tau tentang DG ini, apakah secara gak langung ikut serta memperkembangkan pemikiran masyarakat yg slah kaprah tentang DG. tp aku juga butuh menambah porto, dan juga ngenyangin perut,, melihat di indonesia ato d surabaya (krna aku tinggal di sby) yg sudah terpecah mnjadi 2 , yaitu pemikir dessain dan tukang desain, karna aku pengen nanti nya jadi desainer yg PRO. pemikir desain.bukan ” TUKANG ”. mohon penjelasannya dari bapak ?

Surianto Rustan
January 22
Pertama2 saya salut dg sikap kritisnya Mas.
Begini, kalau kita cuma mau dengan klien yg mengerti & menghargai desain, bisa2 ga pernah dapat kerjaan. masalahnya bukan di kliennya, tapi di kitanya. karena kita terlalu berpihak pada diri sendiri, menganggap orang lain harus mengerti kita. saya sarankan ubah 180% pemikiran seperti itu.
desainer grafis itu konsultan, bukan operator. sbg konsultan hukumnya harus pertama2 bisa menempatkan diri sebagai klien, mendengarkan, mengerti jalan pikirannya, dan berbicara dengan bahasa mereka
kedua: menyambung kita sbg konsultan yg hrs mengerti klien, jadi yg perlu dipelajari oleh desainer sama sekali bukan ilmu desainnya saja, tapi ilmu mendengarkan, dan berkomunikasi dengan baik pada klien. ini semua utk memperlihatkan pada mereka bhw “oh desainer itu sopan2 & wawasannya luas, dll” > citra positif. ini adalah misi & tanggung jawab moral kita: mengedukasi masyarakat (trmsk klien) tentang apa itu desain & siapa itu desainer.

Surianto Rustan
January 22
tiga: hampir semua klien yg saya temui punya pemikiran yg barusan Mas sebutkan semua: mau cepat, desain bagus, murah. itu semua wajar saja, krn mereka belum kenal siapa kita & apa itiu desain. ok, sekarang tunjuk balik diri saya sendiri, apa saya tau betul apa itu desain grafis? siapakah saya yg disebut desainer grafis ini? nah sebelum edukasi mereka, sepertinya kita hrs didik diri kita sendiri dulu. belajar yg banyak, cari wawasan seluas2nya, bergaul dengan desainer lain, dll.

Ircuz Pastrana
January 22
oo.. gitu ya pak, jadi aku boleh menerima klien yg sperti apa saja ya. dan yg paling utama aku sendiri harus mempunyai patokan ato pondasi, harus mengerti ilmu mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik pada klien. terus bagaimana aku mensikapi klien” yg tidak mau tau tentang desain grafis, dan menganggap desain itu ya gitu” aja, hanya software dan selera, dan berlaku se.enak nya sendiri terhadap desainer grafis ?

Surianto Rustan
January 22
portfolio, uang, pengalaman, network, dll, itu semua adalah penghargaan2 yg akan kita terima kalau kita berprestasi, tapi sebelum itu seharusnya saya bertanya pada diri saya: standar kualitas saya bagaimana? sekali lagi bukan hanya di ilmu desain, tapi juga kemampuan introspeksi, kemampuan mendengarkan & berbicara, pemikiran bisnis, manajemen, dll.
itu dulu.
penghargaan2 psti akan menyusul belakangan.
bagi yg masih baru di industri ini, silahkan terima klien siapa saja tanpa terlalu melihat gaji, krn profit yg dibutuhkan bukan uang, melainkan: pengalaman, network, kepercayaan orang, portfolio, dll.
tapi bagi yang sudah kerja lama sbg desainer, sudah punya branding, pengalaman, network, dll. seharusnya harganya pun makin mahal, krn kualitasnya mungkin sudah jauh lebih baik dr pd seorang pemula.

Surianto Rustan
January 22
di belahan dunia manapun, kalau kita perhatikan, top designer adalah seorang yg ahli secara tukang, sekaligus seorang pemikir yg ulung. sebaiknya kita sendiri tidak ikut2an arus negatif, termasuk adanya jenis2 desainer, dll, kita harus ‘autis’. kalau tujuannya mau jadi desainer top, ya harus peka segalanya, belajar segalanya, sangat rendah hati & merasa kurang terus.

Ircuz Pastrana
January 22
ooo.. oke” ya ya ya.. aku baru mendapatkan jawaban yg pas untuk masalah ini, sebelumnya aku pernah menanyakan pada teman” senior dan di forum diskusi, jwaban nya kurang kuat. terima kasih pak surya. jawabannya sangat bermanfaat.

Surianto Rustan
January 22
halo Mas Pras, mohon maaf, tadi off sebentar
kalau boleh saya lanjutkan:

Ircuz Pastrana
January 22
ya pak gak pa” ..santai saja..

Surianto Rustan
January 22
yg saya maxud tukang disini adalah ahli soal craft-nya, keindahan, warna, huruf, detail, segala aspek dalam membuat desain tsb.
lagipula semua orang harus mulai dari nol. arsitek ternama harus belajar jadi kuli bangunan dulu, sutradara terkenal hrs mahir megangin lampu dulu, penulis terkenal waktu kecilnya harus belajar mengeja kata2 dulu. semua hrs bersakit2 dahulu, sedikti2 lama2 menjadi bukit, hukum ini berlaku pada tiap orang tanpa kecuali. yg instan cuma indomie dan cerita sinetron!

Ircuz Pastrana
January 22
oo.. iya ya,, jadi bukan ” tukang ” yag maen ceplak ceplok gambar dan huruf.. mungkin hard skill nya ya pak.. baru setelah itu soft skill .. komunikasi,
tapi bagaimana pak surya mensikapi klien” yg belum mengenal desain ? dan siapa itu desainer grafis ?

Surianto Rustan
January 22
menghadapi klien yg tidak menghargai, yah kita tidak tau masa lalu klien itu gimana. coba pikir, yg pasti mereka bukan desainer, mungkin mereka tidak lulus sd (byk org ga lulus sd tp jd jutawan), mungkin mereka dulu disixa ortunya shg sekarang mau menyixa kita [:)] dll, tapi itu semua seharusnya bukan dijadikan alasan mereka harus mengerti kita, justru kitanya yg harus sangat maklum & sabar, untuk itu kitanya harus menggali ilmu2 tadi itu: mendengarkan & berbicara. sudah banyak bukti bahwa dengan komunikasi yg sopan, sabar & baik, klien justru jadi tunduk sama kita.

Ircuz Pastrana
January 22
oalah.. jadi gitu ya mensikapinya ,, brarti desainer grafis itu profesi yag mnurut ku sangat bagus ya,, sealin dengan kelebihan” nya juga harus baik di karakteristiknya.

Surianto Rustan
January 22
tapi ya memang ada beberapa special case, dimana klien tsb sangat kepala batu walaupun sudah berhubungan lama dengan kita dan diberi penjelasan dengan sabar. untuk yg begini dia saya kasih harga khusus. bukan diskon, tapi sebaliknya: saya tinggikan harganya, jadi kalau dia mau syukur (saya masukkan dalam biaya sakit hati saya), kalau dia tidak mau ya sudah, masih banyak klien lain koq, tenang saja [:)]

Ircuz Pastrana
January 23
haha.. iya pak sabar ada batasnya.. kita harus tegas.
tapi bgini pak . bagaimana kalau aku tahu aku mendapat klien yg bagus kedepannya.. dari segi karakteristiknya mau tau tentang desain dan desainer grafis, dan juga kepengen dibuatin karya desain yang bener2 ” berat/berbobot ”. apakah aku akan memberikan semuanya langsung pada saat itu juga , atau aku aku putus” supaya aku masih bisa berhubungan lama dengannya ? kalo misal aku berikan semuanya langsung setelah itu apa. ya sudah habis.. ini lebih ke corporate identity pak ,, mungkin bisa memberi penjelasannya ?

Surianto Rustan
January 23
yg diberikan semuanya itu apa ya maxudnya? desainnya? ide2nya?

Ircuz Pastrana
January 23
iya.. ya mulai dari desainnya idenya semuanya ..apa juga perlu di beri step” nya .. yg padahal itu bisa saja diberi pada saat itu juga. supaya bisa berhubungan terus karna mendapat klien yg cocok.

Surianto Rustan
January 23
utk mendapat kepercayaan klien, kita harus tulus. itu kuncinya. tapi juga kita harus pintar, jgn sampai dimanfaatkan, krn itu saya tidak pernah mengirimkan desain hi-res pada klien, semua lo-res, sedangkan ide, sketsa, dll tidak pernah tertulis, tapi lisan atau dipresentasikan lewat powerpoint.
ide2 brilian kita harus dipresentasikan, supaya klien yakin & berpikir: “saya tidak cuma2 membayar orang ini”. begitu kita sudah dapat kepercayaannya, juga jangan lalu bermalas2an, ketulusan hati harus tetap dijaga sampai akhir kerjasama, harapannya utk dapat projek2 selanjutnya. berpikirlah jangka panjang.

Ircuz Pastrana
January 23
oo.. begitu ya,, wah aku belajar banyak sekali hari ini sama pak surianto rustan. terima kasih banyak pak. mungkin lain waktu aku bisa sharing” lagi sama bapak. jangan kapok ya pak .. hehe [:)]
seorang junior butuh banget belajar dari senior, supaya kelak bisa seperti seniornya. tq pak.

Surianto Rustan
January 23
hahaha saya sendiri juga masih belajar koq, baik kalau kita sama2 belajar, nanti kalau saya ada yg tidak tahu, saya tanya kamu juga ya

Surianto Rustan
January 23
Mas Praz, apa boleh percakapan kita ini saya upload ke blog, spy byk teman2 yg lain bisa belajar juga dari sini?

Ircuz Pastrana
January 23
hahaha, sama2 belajar pak, siap2.. sebisa mungkin saya bantu jawab.
oh, silakan pak dengan senang hati.

Diwawancara soal desain grafis

Adlina Al-Aidid

Salam kenal, Mas.
Saya Adlina, mahasiswi desain grafis semester 5 di Politeknik Negeri Jakarta. [:)]
Saya ada tugas mata kuliah manajemen desain untuk wawancara desainer sukses.
kira2 mas bersedia saya wawancarai atau tidak?
sekiranya bersedia, berikut ini merupakan list pertanyaannya.
terimakasih banyak sbelumnya ya mas. [:)]

List Pertanyaan

1. Bagaimanakah perjalanan karir mas sebagai seorang desainer grafis?

2. Apakah yang membuat mas tertarik dengan desain grafis?

3. Apa saja proyek yang telah mas selesaikan/ sedang berjalan hingga saat ini?

4. Bagaimana mas bisa mendapatkan klien/projek, apakah mas promosi sendiri atau ada usaha lainnya?

5. Bagaimana proses tawar menawar mas dalam menetukan harga desain untuk klien?

6. Siapa saja yang mas libatkan dalam proses produksi?

7. Berapa lama produksinya suatu projek yang mas handle?

8. Bagaimana mas mengkalkulasikan biaya produksi?

9. Berapa kali mas preview dengan klien?

10. Apakah klien merasa puas dengan hasil kerja mas?
Mengapa bisa begitu? apa yang buat mereka puas?

11. ketika projek selesai apakah klien masih bekerja sama dengan mas pada projek berikutnya? jika iya apa alasan mereka?,
kemudian jika tetap bekerja sama apakah klien yang menghubungi mas, atau mas yang menghubungi klien lebih dahulu ?

Terimakasih.. [:)]

Surianto Rustan
January 9
Otre Adlina, ini jawabannya:

1. Bagaimanakah perjalanan karir mas sebagai seorang desainer grafis?

Sejak kecil senang menggambar, makin besar makin aktif dan bercita-cita jadi pelukis. Di SMU mulai melihat kenyataan bahwa menjadi seniman lukis sangat besar tantangannya, terutama untuk memenuhi urusan finansial. Jadilah saya mengambil jurusan desain grafis. Karena berhubungan dengan rupa, warna dan keindahan, saya betah di bidang ini sampai sekarang. Padahal setelah lulus kuliah sempat dilema apakah mau bekerja di grafis atau di musik. Saya sempat setahun kesana-kemari melamar kerja sebagai pemain gitar tunggal di lobi hotel-hotel. Dari beberapa kali audisi, tidak ada satupun yang menerima saya. Akhirnya saya introspeksi diri dan menyadari bahwa saya tidak jago gitar, maka saya putuskan kembali ke jalur grafis dan mulai bekerja di bidang ini.

Surianto Rustan
January 9

2. Apakah yang membuat mas tertarik dengan desain grafis?

ya itu, awalnya dari kecil senang menggambar, berekspresi lewat bahasa gambar. sementara orang lain lewat bernyanyi, atau lewat menulis, saya senang menggambar. senang warna, bentuk, pesan, yg ada di dlm sebuah lukisan / gambar. nah di desain grafis ternyata lebih kaya lagi: ga cuma ekspresi pribadi tapi komunikasi yg hrs sampai ke target audience. berarti jauh lebih advance daripada seni murni. lagipula desain grafis erat berkaitan dengan segala bidang ilmu lain, spt: sosial, komunikasi, politik, ekonomi, budaya, antropologi, linguistik, psikologi, hukum, dll. ini suatu bidang yg sangat kaya

Surianto Rustan
January 9

3. Apa saja proyek yang telah mas selesaikan/ sedang berjalan hingga saat ini?

proyek yg pernah saya garap cukup byk, mungkin baiknya lihat website saya saja: rustangrafis.com. yg lagi jalan, ada proyek website sebuah perusahaan bahan kimia.

Surianto Rustan
January 9

4. Bagaimana mas bisa mendapatkan klien/projek, apakah mas promosi sendiri atau ada usaha lainnya?

hingga saat ini saya tidak pakai marketing utk mendapatkan proyek, semua klien datang sendiri, entah tau dari temannya, dari website saya, dari buku2 saya, dll.

Surianto Rustan
January 9

5. Bagaimana proses tawar menawar mas dalam menetukan harga desain untuk klien?

harga yg saya tentukan biasanya tidak utk ditawar lagi. krn Mario Teguh pernah ngomong: umur 20 tahun kamu masih bisa ditawar, umur 30 tahun sehaursnya sudah susah ditawar, umur 40 tahun gaboleh lagi ditawar. hehe logisnya gini: umur 20 saya masih miskin pengalaman & ilmu, jadi bukan uang yg utama tapi portfolio, pengalaman, ilmu, konexi, dll, umur 30 thn, seharusnya sy sudah byk pengalaman, ilmu, konexi, dll., umur 40 tahun seharusnya sudah ngelotok [:)] ))) brandingnya seharusnya sudah begitu kuat shg orang datang ke kita memang utk dihargai mahal [:)]

namun demikian saya tetap realistis, ada perjanjian tak tertulis dimana si pembeli hrs masih bisa nawar. krn itu saya naekin lagi harganya sedikit utk margin tawar menawar, tapi nantinya setelah ditawar akan balik lagi ke angka yg sdh kita tentukan.

Surianto Rustan
January 9

6. Siapa saja yang mas libatkan dalam proses produksi?

utk produksi (pencetakan) saya pakai pihak ketiga, yaitu pihak percetakan.

Surianto Rustan
January 9

7. Berapa lama produksinya suatu projek yang mas handle?

begini, istilah produksi itu di dunia desain grafis biasanya bermakna: pencetakan. sedangkan proses sebelum produksi adalah: riset, strategi, desain (visual), sedangkan di lingkup proses produksi ada istilah pre-production, itu adalah tahap persiapan pencetakan, dan post production, itu adalah proses setelah pencetakan dilakukan.

nah tahap mana nih yg kamu maxud?
kalo tahap riset, & strategi biasanya saya lakukan sendiri, tapi tahap desain visual akhir2 ini saya kerjasama dengan mahasiswa magang atau teman desainer lain.

kalau pekerjaan mendesain buku2 saya, semuanya saya kerjakan sendiri, kecuali beberapa foto, memeriksa tulisan, dan review oleh para ahli.

lama produksi tergantung besar proyeknya, ada yg beberapa hari saja (pekerjaan desain cetak, template website), sebulan (biasanya website lengkap), beberapa bulan sampai setahunan (logo & identitas visual lainnya).

Surianto Rustan
January 9

kalo proyek buku sangat bervariasi, yg saya alami selama ini: buku layout penulisannya selesai dalam 3 bulan, logo 6 buloanan, tipografi setahun. itu semua diluar review oleh para ahli, finishing, production.

Surianto Rustan
January 9

8. Bagaimana mas mengkalkulasikan biaya produksi?

balik lagi neh, produksi cetak ato seluruhnya? riset, strategi, desain, cetak?

Surianto Rustan
January 9

9. Berapa kali mas preview dengan klien?

mgkn maxudnya review, bukan preview?
sangat tergantung proyeknya. kalo website ga lama, tapi kalo identitas biasanya bolak-balik. interview dengan boss besarnya, interview dengan para direkturnya, anak buah & staff2nya, lalu design review / evaluasi: bisa 3-4 kali biasanya.

Adlina Al-Aidid
Tuesday

untuk nomer 8, biaya produksi dr awal sampai akhir,pak..

waaah.. trimakasih banyak ya pak.. [:D]
*seneng dapet ilmu tambahan.
terimakasih banyak.
[:)]

Surianto Rustan
Wednesday

utk no.8: dari awal ya:
– riset: kalo pake pihak luar, ya kita bayar pihak periset tsb, kalo ga ya paling yang diperhitungkan transportasi, biaya bikin kuesionernya, gift utk menyatakan terima kasih ke yang diwawancara (kalau riset masyarakat umum), biaya pemakaian waktu & tenaga yg digunakan utk riset tsb, waktu & tenaga yg keluar utk menyimpulkan hasil riset, dll.
– strategi: biaya utk tenaga & waktu yg keluar utk bikin strategi komunikasi, visual, media, dll. kalo di branding kudu bikin moodboarding, brainstorming, riset visual lagi melihat contoh2 desain yg orang sudah buat, dll.
– mendesain visual: biaya atas tenaga & waktu yg keluar utk membuat desain visual / penerapan ke berbagai media (kalo identitas / branding), dll.
– preproduction: biaya yg keluar utk mempersiapkan file yg siap cetak, production & postproduction: biaya cetak & finishing (lipat, potong, tempel, emboss, dll) yg dibayar ke percetakan. (seandainya pekerjaan pencetakan diserahkan ke pihak percetakan)

biasanya orang mengcompile (menggabungkan) semua biayanya & merata-rata dalam bentuk: man-days, mxdnya man per day / biaya per hari. jadi misalnya setelah dihitung semuanya, maka biaya mendesain perhari rata2 rp.50rb, nah pas dpt order tinggal dikira2 itu butuh berapa hari pengerjaan, kalo 20 hari kerja, maka 20 x 50.000 = 1.000.000.

gitu Adlina, smg bermanfaat [:)]

Tentang proses produksi desain

Nur Humaira Albar
bapak..sa mau ada pertanyaan nih pak..hihi..buat tgs klompok pak..adu maav ya pak dadakan..hihihi..biasa pak ttg production,yg kertas,binding sm finishing pak..hihi..jwb sebisa bpk sajo..hohoho..bapak kan jagooo..hihihi

Nur Humaira Albar
November 7, 2011
1.Kapan kertas,binding,finishing mulai masuk ke Indonesia?
2.Bagaimana perkembangan proses produksi di indo?
3.Peran dari proses produksi?
4.Apa factor yang membuat kertas,binding, dan finishing itu relative mahal?
5.Peranan proses produksi itu sendiri apakah cukup penting utk mahasiswa?
6.Apakah Semua jenis kertas,binding,maupun finishing lengkap di Indonesia?

Surianto Rustan
November 8, 2011
Mai, ini jawaban gw:
1 & 2 bisa diliat di link ini: http://dgi-indonesia.com/garis-waktu-desain-grafis-indonesia-1/
3. peran proses produksi, ya ampiuuunnn.. masa kaga tau? kalo elo misalnye bikin flier, kalo kaga diproduksi ya tu desain masi di komputer doank atuh. jadi peran produksi itu ya untuk mengkongkritkan ide2 kita yang abstrak (di pikiran) ataupun yang masih virtual (di komputer)
4. kertas susah bikinnya & pake bahan dasar kayu yg makin langka, binding & finishing itu mahal krn dikserjakan manual, pake tenaga manusia bukan mesin, finishing yg pake mesinpun (misalnya efek2 cetak spt emboss, UV, dll.) kudu bikin plat/film lagi, belom bahan plastiknya utk UV & mesin press buat emboss.
5. ya iyalah, supaya hasil produksinya nanti sama / mendekati dengan yang didesain.
6. kaga.
demikian Mai, smg berguna.

Nur Humaira Albar
November 8, 2011
waahhh si bapak bae deh..hahahaa..kami sekelompok turut berterima kasih atas jwban bpk..hahah..berguna bgt ini pak,abs buat laporan uts..hahaha..mksh ya pak [:)]

Surianto Rustan
November 9, 2011
sip dah, makasih kembali :)smg lancar tugasnya

Nur Humaira Albar
December 5, 2011
bapak,hihi aku mau nanya dong pak..buat skripsi aku..hehe..biar kuat ni alasannya..hoho..yang harus diperhatiin pas kita ngedesain itu apa ajah ya pak?biar afdol gtu klo bapak yg jwb..hihi..gapapa kok klo bpk cmn ksh point2ny ajah,jd ntr aku cari gtuu buat penjelasanny..hehe,asal ntr ada kutipan nama bapak pas aku tulis yg teori konsep ny..hehe

Surianto Rustan
December 6, 2011
intinya sih menggunakan tahapan kerja yg benar, disederhanakan menjadi 3 tahap: riset dulu, lalu cari strategi, baru kemudian mendesain visual.

Apa bedanya pekerjaan desain kontes logo VS proyek dari klien betulan?

A.C.
masih sibuk ya, pak? [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
sok sibuk tepatnya, sy belum komen ya?

A.C.
September 30, 2011
hehe.. belum.. [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
bntr ya
wah karyanya sudah banyak sekali, ini mah saya aja kalah ni

A.C.
September 30, 2011
sy korban kontes soalnya, pak
msh susah klo nyari real client [:(]

Surianto Rustan
September 30, 2011
gpp, yah semuanya pasti ada kelebihannya ada kekurangannya. dg real klien emang sih cape bgt tp kita sgt didewasakan secara pribadi

A.C.
September 30, 2011
mohon wejangannya, pak [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
wejangan apa nih?

A.C.
September 30, 2011
buat karya dan karir sy.. [:D]
klo dibandingin karya orang2 yg punya jalur akademis pasti punya sy msh jauh banget ya, pak?
gmn caranya biar bisa ngejar?

Surianto Rustan
September 30, 2011
hmm.. menurut pengalaman saya sih guru yg paling baik itu adalah pengalaman. coba perbanyak pengalaman dengan real client (bisa tanpa perlu meninggalkan pekerjaan yg ini – kompetisi), jadinya diri kita lebih kaya nantinya, bukan soal uang, tapi perkembangan kepribadian. sekolah ga terlalu menentukan koq, banyak juga yg sekolah formal tapi kalau memang malas atau ga ada keinginan belajar, ya sama saja. keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa kuat keinginan kita itu utk berhasil

Surianto Rustan
September 30, 2011
sekolah, latar belakang keluarga, teman, dll ga lagi mempengaruhi. cuma diri kita sendiri.
dinding penghalang kemajuan kita ya diri kita sendiri juga

A.C.
September 30, 2011
klo dinilai, kira2 karya sy dpt nilai apa, pak?
apa yg perlu ditingkatkan?
*kadang pengen juga dpt studi kasus layaknya mahasiswa, trus dinilai sm dosennya [:D]

Surianto Rustan
September 30, 2011
masalahnya desain grafis ga cuma sekadar hiasan / visual, yg dinilai dari penampilannya saja, tapi desain grafis itu satu paket dengan segala konsep di belakang karya tersebut. ini juga mungkin bedanya real klien dengan yg tidak, kalo ada real klien, kita berhadapan dengan real problem, kudu tau target audience-nya siapa, tau persis siapa perusahaannya, dia punya anak perusahaan ga, apa produknya, siapa pesaingnya, dll. dari situ semua baru menyusun strategi komunikasi (belum visual), terakhir baru visualnya. jadi penilaiannya ga cuma: bagus, jelek, ato secara visual saja, dan membuatnya / pendekatan visualnya tidak cuma disesuaikan dengan sektor industrinya / bidang pekerjaannya saja, tapi bisa juga dari spirit / jiwa si perusahaan, ato kecenderungan si target audience, atau bahkan ke hal2 yang spontan sifatnya seperti bentuk bangunannya yg unik, atau karyawannya yg semua orang muda, dll. itu yg setahu saya

A.C.
September 30, 2011
sy catat bener2, pak [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
desain grafis itu pemecahan masalah, memang hasil akhirnya berbentuk visual, tapi sebetulnya itu hrs bisa memecahkan masalah si klien, apakah itu meningkatkan penjualan (misal iklan produk, packaging, sign di rak toko), meningkatkan awareness thd produk tsb (iklan branding), mengajak target audience datang ke tempat tsb (display toko / pameran, iklan event), mengidentifikasi (logo perusahaan, produk & identitas visual lainnya), dll. kalau desain itu tidak bisa memecahkan masalah si klien itu desain yg tidak efektif – dianggap gagal.

Surianto Rustan
September 30, 2011
logo nantinya digunakan oleh si klien utk memperkenalkan diri, dipakai di segala produknya, di billboard, di koran, di tv, dll. akan digunakan utk identifikasi & jualan & mewakili brand / citrasi si klien, mungkin hal itu akan berlangsung selama 10 tahun sebelum logo itu diganti lagi. klien akan keluar uang sangat banyak utk itu semua. sayang kalau logonya hanya sekedar visual & dibuat lewat pendekatan yg hanya dari 1 sudut saja. not fair.

A.C.
September 30, 2011
kliatannya perlu baca ulang buku ‘mendesain logo’nya pak rustan nih..
sy baca lagi

Surianto Rustan
September 30, 2011
hehe yah saya sendiri masih belajar koq Mas, bukan cuma spy tambah pinter tapi spy tambah bijak [:)]
btw mohon maaf sekiranya ada kata2 yg kurang berkenan, namanya juga manusia jd suka salah bicara, harap maklum [:)]

A.C.
September 30, 2011
kata2 pak rustan tu halus banget+wise kok, pak
sy dpt ilmu banyak

A.C.
September 30, 2011
kira2 ada contoh brief dr real client+real case yg bisa sy lihat gak ya, pak? mungkin juga hasil desain dr brief itu
biar sy bisa belajar dr contoh riil..

Surianto Rustan
September 30, 2011
di buku logo saya da Mas Abi, halaman 37-38, itu klien saya beneran

A.C.
September 30, 2011
contohn brief yg di halaman itu brarti apa memang gk ada brief tertulis dr klien..
jd pak rustan yg riset & wawancara sendiri gitu?
lalu,rumus semiotika untuk menentukan visualisasi dr tiap keyword yg didapet dr brief tu gmn biar bisa pas?
*maaf ya, pak klo banyak nanya & pertanyaannya belibet
maklum,orang awam…

Surianto Rustan
September 30, 2011
sori barusan aku ke bawah bentar.
desainer sebaiknya selalu menganggap dirinya adalah pemberi solusi, klien itu tidak tau apa2 tentang desain krn itu mereka datang pada kita, mereka butuh solusi. utk mencapai solusi tsb kita yang guide mereka tahap2nya, krn kita yg tau seluk beluk desain.
setelah mengetahui klien itu siapa & apa problemnya, saya beri mereka kuesioner yg hrs mereka isi, selain itu juga saya interview. nah yg di buku logo tsb adalah hasil kuisioner & interview.
begitu sampai tahap brainstorming desain mah sudah lebih banyak feeling & membangkitkan perbendaharaan hubungan verbal – visual. sedangkan rumus2 semiotika sebaiknya sudah diluar kepala, krn itu kit hrs byk2 belajar, baca, melihat, menonton, dll, spy byk perbendaharaan datanya.

A.C.
September 30, 2011
buku yg recomended untuk belajar semiotika apa ya pak?

Surianto Rustan
September 30, 2011
saya belum menemukan buku semiotika berbahasa indonesia yg bagus di sini. tp resource yg bagus dari luar & berbahasa inggris ada:
http://www.aber.ac.uk/media/Documents/S4B/semiotic.html

A.C.
September 30, 2011
maturnuwun… [:)]

Surianto Rustan
September 30, 2011
sama2 Mas Abi, suxeselalu!

A.C.
September 30, 2011
suxeselalu [:D]