Apa kiat kiat yang harus dilakukan semasa muda agar menjadi seorang Designer yg baik?

Anjam Piyani Anjam Piyani
selamat malam bpk Rustan.
saya sudah membaca beberapa buku dr bpk,salah satunya Logo.

Surianto Rustan
June 13
halo

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
sangat bagus [(Y)]
bpk bagaimana dulu merintis kariernya?
kiat kiat seperti apa yg harus saya lakukan semasa muda skrng ini pak,agar menjadi seorang Designer yg baik.?

Surianto Rustan
June 13
saya? yah awalnya sih mengikuti arah angin saja
btw skrg sedang kuliah atau otodidak?

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
arahnya mana pak?kuliah advertising pak,di slh stu swasta JKT,,tp sering keluar masuk.hehe

Surianto Rustan
June 13
oh gitu. hehe kiat2 apa ya? saya juga masih dlm tahap belajar nih

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
iya kan setidaknya bpk lebih duluan belajar dari saya.
lebih banyak pengalamanya,,
share dong pak ilmunya..

Surianto Rustan
June 13
iya ya betul juga :))))
saya lahir duluan sih ya.

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
btw saya sangat beruntung dan bersyukur bisa chating sama bapak.

Surianto Rustan
June 13
yg penting di jmn sekarang mah kurang cocok pake cara ngikuti arah angin
wah saya jg senang chatting dengan Mas Anjam

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
ngikutin apa yg cocok pak?

Surianto Rustan
June 13
hrs punya rencana sendiri, punya cita2 / dreams yg jelas
krn waktu berjalan super cepat dan coba lihat persaingan di jaman sekarang apalagi di area industri kreatif, wah super banyak desainer & org yg kreatif

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
YES SIR!
hehe
bagaimana dulu awalnya bapak mendapatkan client?

Surianto Rustan
June 13
dulu mah klien yg nyari desainer, krn desainer masih dikit, tapi skrg? kebalik!

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
iya ya betul juga :))))
bapak lahir duluan sih ya.

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
*Copas*
hehe
boleh tanya pak?

Surianto Rustan
June 13
silahkan sblm sy berangkat ke peraduan, maklum fisik sudah renta

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
apa yg bapak lakukan ketika dalam keadan titik terjenuh.
biasanya saya kalo lagi design ada kalanya sangat semangat dan kadang berada di titik paling jenuh…

Surianto Rustan
June 13
kalo saya jalan2 dulu aja, hrs betul2 keluar dari kejenuhan itu, biasanya saya naik gunung, ato pergi kemana keq yg membuat saya melupakan rutinitas sebentar. ntar pas pulang berlarut2 kreatif lagi koq

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
ok..
mksih banyak bpk rustan.
semoga di lain hari bisa chat lagi.
selamat istrhat.

Surianto Rustan
June 13
sam2 Mas Anjam, sip, kl sy online langsung disapa aja, tar kita ngobrol lagi ya. slmt begadang :)))

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
kalo ada seminar atau louncing buku bisa share saya pak infonya..

Surianto Rustan
June 13
sip pasti. biasanya saya share di fb ini
sampai jumpa Mas Anjam.. suxeselalu!

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
trimaksih pak Rustan

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 13
semoga Tuhan selalu memberi Anda kesehatan Utuk terus berkarya dan membagi ilmunya ke Generasi berikutnya.amin

Surianto Rustan
June 14
Wah makasih bgt doanya Mas Anjam, salam sejahtera sekeluarga!

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 21
ehh ada bapak,,,

Surianto Rustan
June 21
haloo

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 21
jarang2 lo bisa Onlen ama penulis Buku

Surianto Rustan
June 21
hehehe bisa aja [:)]

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 21
td mau nyapa pak,tp bingung mau bilang apa..
ya sudaah deh aku putusin bilang
“eh bapak”
[:D]

Surianto Rustan
June 21
ini aku nyambi nulis ya

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 21
Owh semoga dapet inspirasinya dari saya jg pak
hehe
Monggo silahkan [(Y)]

Surianto Rustan
June 21
nulis pe er S2 Mas, bukan nulis buku [:)]

Anjam Piyani Anjam Piyani
June 21
owh? [:D]
bapak S 2 ambil apa?

Surianto Rustan
June 21
ambil desain, biar sejurusan

Desainer harus Idealis, atau Komersil?

Rizal Fauzi A
Menarik pak setelah saya baca artikel di wordpress nya bapak,namun pak kembali kepada pertanyaan mendasar, apakah nantinya banyak tercipta desainer muda Indonesia yang mau untuk mengorbankan “kemewahan” saat berkuliah dengan mencoba memajukan UKM berkualitas dengan ilmu yang didapat untuk mencoba melabelisasi produk asli Indonesia yang terbaik dengan harga murah atau tidak dibayar sekalipun. terima kasih pak [:D]

Surianto Rustan
February 1
jadi kalau saya pikir, riwayat seorang desainer itu ada tahap2nya, misalnya: kuliah, atau tidak kuliah, awal bekerja, sudah bekerja tahunan, sudah bekerja puluhan tahun (senior).
nah membantu orang lain itu tidak terikat dengan setinggi apa karier kita. bisa kapan saja, apakah waktu masih kuliah, atau sudah senior. kalau di luar negeri, seorang desainer profesional justru berlomba2 mendapatkan pekerjaan yang sifatnya sosial, misalnya social campaign, membantu ukm, dll, krn itu sangat bagus buat portfolio mereka. jadi menyeimbangkan antara pekerjaan komersial dan segi pelayanan sosial. brandingnya jadi bagus. di sini juga demikian, kalaupun belum membudaya, sikap seperti itu adalah perlu: membantu orang lain kapanpun. saya sendiri dan beberapa teman desainer punya pemikiran yg sama, jadi selain kita bekerja komersial, kita seimbangkan dengan bekerja sosial bahkan tanpa dibayar sepeserpun.

Surianto Rustan
February 1
karena kita seharusnya melihat gambaran besarnya, bahwa bukan semata-mata uang yang paling penting, melainkan juga reputasi pribadi / nama baik. kalaupun itu masih dianggap bungkus, mari masuk ke yang lebih dalam lagi: hati nurani [:)] Nah Mas Rizal sejak awal sudah memiliki kepekaan tsb, silahkan menyebarkan virus kebaikan tsb di lingkungan terdekatnya dulu, baru lama2 meluas.

Surianto Rustan
February 1
bagi desainer muda / pemula, lebih jelas lagi kebutuhan mereka memang harus melayani orang lain dulu, tanpa mengharapkan balasan materi, krn yg dibutuhkan oleh mereka lebih berupa: portfolio, network, pengalaman, latihan, dll. jadi paling baik melihat ke dalam / introspeksi, jadi kita tetap sadar saya sedang berada di tahap mana, dan apa yg sebaiknya saya lakukan, apa saya sudah bisa kasih harga mahal, apa belum, bagaimana kualitas saya, kapan saya harus lebih membantu orang, kapan harus kerja lebih keras lagi, dll.

Rizal Fauzi A
February 1
Waw, [:D] saya tidak menyangka pak kalo jawabannya sekomprehensif ini pak [:D] . Terima kasih sekali
Mengenai undangan tersebut ya iya saya memahaminya [:)] , tanpa ada kekhawatiran lain pak. Insyaallah saya sedang menuju itu (untuk mencoba mengundang dan menimba ilmu langsung di kampus udinus) [:D]
Lalu untuk menjadi seorang desainer muda yang berkembang seperti yang bapak ungkap disini kadang pak kita sebagai seorang desainer terjegal hal yang sama, kebutuhan ekonomi.
Lalu apakah memang kita harus menjadi desainer yang seperti supermarket? yang notabenenya terkadang harus bersimpangan dengan apa yang kita yakini dari awal, atw mungkin adakah cara yang lainnya tanpa kita meninggalkan idealis kita tersebut?

Surianto Rustan
February 1
Banyak Cara mengakalinya Mas Rizal, ada teman saya desainer profesional, di sela2 proyek desain idealis pribadinya, ia jg menerima pekerjaan2 desain ecek2 spt brosur, kartu nama, dll. Jadi dia mengelompokkan ada 2 macam kerjaan desain, yg 1 yg sifatnya komersial, dan uangnya cepat dan banyak, yg 1 lagi pekerjaan idealis sosial yg tidak ada uangnya. Pekerjaan komersialnya bisa menghidupi dirinya dan memodali idealismenya. Kreatif dan seimbang kan?

Surianto Rustan
February 1
Jadi bukan berarti kota menolak uang, tapi bagaimana secara arif mengolahnya utk tujuan yg lebih mulia
Mohon maaf saya sudah siap2 kuliah, jadi hrs terpotong obrolannya, tapi silahkan dilanjutkan saja apabila masih penasaran [:)] terimakasih bisa berbincang2 dengan Mas Rizal yg menyenangkan

Rizal Fauzi A
February 1
iya makasih banget atas kerelaannya meluangkan waktu dan berbagi dengan saya yang sangat cerewet ini heheheh. sekali lagi terima kasih banyak pak [:D]

Tentang Usia, Menulis, dan Menciptakan Arus

Joseph Reinaldo May 2 at 5:29pm Report
Halo Pak Rustan, maaf mengganggu.
Sebelumnya perkenalkan nama saya – seperti yang bisa bapak lihat – Joseph Reinaldo.
Saya bisa dipanggil Joe. saya anak DKV Cinematography 2008, satu angkatan
dengan anak-anak DG yang pernah bapak ajari Typography.

Maaf harus menghubungi bapak dengan cara seperti ini. Saya sudah mencoba bertanya
ke sejumlah anak DG tapi herannya tak satupun dari mereka yang punya kontak bapak
(atau sampai saat ini anggaplah saya tidak cukup banyak menginterogasi mereka).
Saya sebetulnya lebih memilih berkomunikasi lewat email, tetapi saat ini Facebook-lah
yang paling efisien.

Saya menguhubungi bapak dalam kapasitas sebagai Head Journalist MORPH Magazine, majalah
DKV UMN. Kebetulan kita akan launching edisi pertama (kalau tidak molor) tanggal 16 Mei ini.
Kita punya satu rubrik judulnya: Dialoge; yang berisi pendapat para praktisi dunia kreatif
antara lain desainer, animator, film-maker dan bidang terkait.

Saya ingin meminta pendapat singkat bapak sebagai penulis buku dan tipografer – tanpa maksud
menjilat atau sejenisnya – karena saya rasa bapak sudah kompeten di bidang yang bapak tekuni.
“Mosi” kita kali ini adalah:

“Do Designers Design Their Future?”

Maksudnya, apakah seseorang – katakanlah mahasiswa desain – sudah bisa mengambil ancang-ancang
tentang pekerjaan yang nanti dia tekuni? Pekerjaan yang dimaksud disini adalah yang sifatnya
menghidupi dan dapat memberikan dampak positif bagi si employer itu sendiri. Mengapa kami
mengambil tema ini; kami mencoba berangkat dari kenyataan (menyedihkan) bahwa banyak mahasiswa
(dan para calon) DKV yang enggan masuk jurusan ini karena dianggap tidak layak, tidak menghasilkan,
kurang berguna (kasarnya: nyampah). Lagi, banyak mahasiswa DKV yang masih bingung hendak
jadi apa mereka setelah lulus, apakah mereka cukup kompeten untuk dunia kerja dan apakah mereka
bisa mendapatkan pekerjaan yang baik.

Akan sangat baik sekali jika bapak memberikan opini berdasarkan pengalaman bapak; apakah
bapak menjadi seorang penulis buku dan typografer seperti ini karena memang sudah bapak rencanakan,
atau terjadi begitu saja. Apakah penting seorang desainer – layaknya saat mereka hendak membuat
suatu artworks – memikirkan dengan baik segala sesuatunya sebelum membuat keputusan? Dan yang terakhir
(saya tahu pertanyaan ini konyol) Apakah dengan menjadi seorang desainer,
mereka bisa memiliki masa depan yang cerah dan menjanjikan – sama seperti artworks2 yang mereka ciptakan?

Selain meminta opini bapak, saya juga punya permintaan kurang ajar lainnya. Saya tahu seharusnya
saya (nekat) menghubungi bapak lebih awal, tetapi saya akan sangat menghargai jika bapak bisa
membalas pertanyaan ini dalam waktu satu dua hari – setidaknya sebelum lewat hari Kamis 5 Mei 2011. Tidak
perlu panjang seperti essay, satu paragraf singkat saja sudah cukup.

Jika bapak bersedia, saya atas nama redaksi MORPH Magazine akan sangat bersukacita dan berterima kasih.
____________________

“Tentang usia, menulis, dan menciptakan arus”
oleh: Surianto Rustan – writer, speaker, teacher, graphic designer

Panjang umur itu relatif

Dulu, sebelum mulai menulis buku, saya berpikir, apa yang saya lakukan selama ini? Untuk apa saya hidup? Apa hidup hanya lahir, pacaran, menikah, punya anak, lalu mati?
Sayang sekali kalau cuma begitu.

Kebetulan saya mengukur waktu pakai standar bumi, jadi terasa lama dan sempat bermalas-malasan.
Coba saja hitung usia pakai ukuran bintang di angkasa, berapa lama saya hidup? sepersejuta detik?
Bukankah kesannya hidup jadi sekadar “numpang lewat”?
Sungguh menyedihkan.

Hal inilah yang membuat saya berpikir perlu berbuat sesuatu, meninggalkan kenang-kenangan yang berguna buat generasi mendatang, sekaligus mengukir kalimat “Surianto Rustan was here”.

Siapa yang tahu Desain Grafis itu apa?

Kebetulan saya desainer grafis, dan di sini profesi tersebut perlu banyak didukung. Miskinnya literatur tentang hal ini menyebabkan siapapun bertanya-tanya: apa itu desain grafis? siapa itu desainer grafis?

Ketidak-jelasan ini berlangsung lama, diperparah dengan pesatnya teknologi software desain yang makin mempermudah pekerjaan desain menciptakan pengaruh buruk: banyak pihak desainer (atau menyebut dirinya desainer) yang seenaknya mempermainkan harga, masyarakat yang tahunya desain itu = software komputer makin yakin kalau desain dan desainer itu komoditi dan murah harganya.

(untuk mengetahui sebenarnya apa itu desain grafis dan siapa itu desainer grafis secara singkat, silahkan membaca artikel-artikel saya di: DGI-Indonesia.com/bukamata, tiap artikelnya bisa didownload dan disebarluaskan lagi).

Untuk itulah saya menulis, supaya makin banyak orang bisa mengapresiasi bidang ini secara lebih berimbang.

Agent of Changes

Banyak di antara kita yang tidak menyadari hal ini: bahwa kita dapat mengubah dunia.

Polanya sudah umum terjadi di mana-mana: seorang visioner diejek dan diolok-olok oleh orang-orang sekitarnya, dianggap tidak akan bisa mengubah nasib malangnya. Pada suatu hari ia membuktikan ucapannya dan terbukti telah mengubah – bukan hanya nasibnya sendiri, bahkan meningkatkan harkat hidup orang-orang yang dulu mengejeknya.

Hidup seseorang dilalui dengan tahapan-tahapan, masing-masing orang berbeda satu dengan lainnya. Namun pada suatu titik dalam hdupnya, ia harus memilih di antara dua ini:
1. Mau menyerah terbawa arus, atau:
2. Mau menciptakan arus

Mungkin tidak se-ekstrim hitam / putih, tapi lebih tepatnya: mau didominasi oleh yang mana.

Ini berlaku untuk semua orang, apapun profesinya. Tidak hanya desainer, tapi juga akuntan, dokter, arsitek, hakim, pedagang, pengusaha, dan siapapun.

Untuk hidup yang layak, semua orang bisa, syaratnya harus kerja keras. Tapi untuk menciptakan arus, tidak hanya kerja keras yang diperlukan, juga kreatif, pendirian teguh, perencanaan & target yang matang, dan yang paling penting: iman.

Pernah dengar kata-kata bijak ini? “Ubahlah dirimu sendiri, maka engkau mengubah dunia”. Bercerminlah dulu sebelum yakin bahwa engkau adalah agent of changes, si pencipta arus itu. Apakah saya menghargai diri saya dan orang lain? Rajin belajar? tidak malas? jujur? suka membantu orang lain? rendah hati?

Selamat berjuang!