Gaya Desain seperti Uang Kertas

Wendy Wahyu
Selamat Pagi Pak Rustan,
ada yang mau Saya tanyakan
Tentang gaya desain yang diadopsi dari cetakan uang kertas, terutama untuk portrait / foto wajah. Contohnya seperti gambar pahlawan di uang kertas Rupiah / Dollar Amerika dan seperti Poster Iklan Java Jazz tahun 2011.
Gaya desain apa itu namanya?
Teknik pembuatannya?
karena Saya sudah mencoba membuat secara manual menggunakan software Adobe Illustrator dan tidak bisa (juga tidak mirip sama sekali [:D] ) juga Saya rasa itu bukan dibuat dengan cara manual (tracing satu persatu) karena Saya melihat seperti ada “pola”nya (maaf, mungkin ini sok tahu Saya).
Terima kasih Pak Rustan

Surianto Rustan
March 8
wah itu ga ada namanya, karena style tersebut tidak mempengaruhi style secara global (di seluruh dunia), lain halnya dengan psychedelic style misalnya, yg mendunia di sekitar tahun 1970an.
wah saya belum pernah mencoba membuatnya, mohon maaf. mungkin bisa cari di google, misalnya dengan keyword: design, money, pattern, motifs.

(Atau mungkin ada diantara pembaca blog ini yang mengetahui teknik pembuatannya? silahkan berbagi ilmu)

Tips-tips cari Ide

Wendy Wahyu
Selamat Siang Pak Rustan

Surianto Rustan
February 1
halo

Wendy Wahyu
February 1
bisa mengganggu sebentar?

Surianto Rustan
February 1
silahkan banget [:)]

Wendy Wahyu
February 1
begini Pak,
Saya mau tanya tentang pencarian ide
selama ini saat akan meng-konsep sebuah “karya” Saya selalu terkendala dalam sebuah ide

Surianto Rustan
February 1
trus? apa yg kamu lakukan utk mengatasinya

Wendy Wahyu
February 1
biasanya, Saya browsing di website yang menampilkan karya-karya desainer luar negeri
tetapi kendala yang ada,
kemudian Saya malah mendapatkan hasil saya mirip dengan desain tersebut
walaupun produknya berbeda (contohnya :Saya lihat dari poster lalu saya aplikasikan ke t-shirt)

Surianto Rustan
February 1
i c
ada lagi?

Wendy Wahyu
February 1
selama ini untuk pencarian ide Saya masih melakukan hal tersebut

Surianto Rustan
February 1
ok begini,
eits, masih ada?

Wendy Wahyu
February 1
sementara itu dulu pak

Surianto Rustan
February 1
jadi begini, seturut pengalaman saya, ada 2 macam cara mendapatkan ide spy cepat keluar.
1. jalur formal
2. jalur informal

Wendy Wahyu
February 1
ya Pak

Surianto Rustan
February 1
1. cara formal ini yg mungkin telah kamu lakukan selama ini cari referensi di internet, jangan lupa juga baca buku, nonton film, dengar musik yg banyak, dll. namun semua itu dilakukan jangan pas ada kerjaan saja, tapi di waktu2 luang terus harus dilakukan sampai eneg dan mual :))) alasannya? otak kita perlu asupan data yg super banyak, jadi ga cuma dilihat2 saja, tapi juga dikulik, dimengerti, dipahami, oh elemnnya terdiri dari ini dan itu, oh dia pake jenis huruf dekorati, oh halaman ini pake palette warna ini, dll. jadi banyak data di otak. selain itu data tersebut tidak hanya visual, tapi juga rangsangan audial, verbal, experiential (pengalaman / mengalami), perabaan, penciuman, dll. jadi sering2lah ke pameran, pertunjukan, seminar, workshop, wayang, gamelan, band yg disukai, dll. semua indera harus dirangsang, agar data yg masuk lancar ke otak bukan hanya data visual.

Surianto Rustan
February 1
masih di jalur formal: belajar ilmu desainnya sendiri lebih dalam lagi, gali lagi, eksplorasi, bikin alternatif desain sampai puluhan, kalau perlu ratusan, pakai jenis huruf yang berbeda2 setiap kali mendesain, belajar memadukan warna dari buku2 & website, pelajari di dalam ilmunya sendiri. apa itu gestals, apa itu semiotic, apa saja prinsip2 desain dan aplikasinya. karena kadang2 ide muncul dengan penggalian ini, misalnya oh, ternyata saya bisa mendesain dengan pakai point saja, oh ternyata pakai line saja juga bisa bagus, jadi itu dimaksimalkan dulu. unsur2 dasar dan prinsip2 dasarnya.

Wendy Wahyu
February 1
untuk yang jalur informal, Pak?

Surianto Rustan
February 1
saya tambahkan sedikit yg jalur formal: melakukan brainstorming, mindmapping verbal, dan visual, sketching, bikin moodboard dari images2 dll, juga membantu.
nah sekarang jalur non formal: ada berbagai macam, tapi kemungkinan intinya satu: justru kebalikan dengan jalur formal, kita membebaskan diri dari segala data. caranya: jalan2 ke taman, naik gunung, pergi ke tempat yg disukai, atau ke tempat yg belum dikunjungi sebelumnya, dan melakukan yg belum pernah dilakukan sebelumnya. lupakan bhw saya harus cari ide. ada org yg keluar sebentar lalu merokok, itu sebetulnya keluar sejenak dari rutinitas. mengosongkan pikiran.

Surianto Rustan
February 1
ingatkah saat mandi atau saat buang air, kita kadang2 jadi teringat sesuatu yg harus dikerjakan, atau ketemu ide cemerlang yg tak terduga. saat mandi dan buang air itu, semua kerja fisik otomatis, meninggalkan pikiran yang bebas. itu lah saat yg kadang digunakan orang utk cari ide.

Surianto Rustan
February 1
ada lagi waktu di mana antara tidur dan bangun, jadi sebelum tidur pulas, atau sebelum betul2 bangun tidur, itu biasa saya gunakan utk memikirkan hal2 yg masih menggantung belum ada pemecahannya, dan seringkali ide2 bagus muncul di saat2 itu. mungkin bisa dijadikan ritual sehingga ide bagus selalu datang [:)] sampai saat ini saya masih melakukannya.

Surianto Rustan
February 1
nah, apabila semua cara itu ditempuh: belajar rajin, mendalami, eksplorasi, banyak baca, lihat, dengar, nonton, mengalami, dll maka niscaya inspirasi itu datang.
tapi amat sangat baik, apabila kita kembali lagi ke yang hakiki: tahu siapa klien, tahu siapa audiencenya, tahu tujuan proyek desain tsb, krn kerja keras kita mendesain untuk mencari solusi2 berdasarkan hal2 tsb, bukan semata2 keinginan aktualisasi diri saja, atau mementingkan ego. itulah desain, bukan sekadar hiasan atau karya seni murni tanpa campur tangan fungsi. dengan penyadaran ini maka hidup jadi berimbang, tapi tetap ‘nakal’ dan ‘jahil’.

Surianto Rustan
February 1
begitu saya rasa
btw saya harus berangkat sekarang, kalau ada lagi silahkan di msg saja, nanti pasti saya balas. dan saya minta ijin utk mengupload obrolan kita ini di blog boleh?

Wendy Wahyu
February 1
Maaf Pak, tadi jaringan internetnya down.
Boleh saja Pak, silakan [:)]

Desainer harus Idealis, atau Komersil?

Rizal Fauzi A
Menarik pak setelah saya baca artikel di wordpress nya bapak,namun pak kembali kepada pertanyaan mendasar, apakah nantinya banyak tercipta desainer muda Indonesia yang mau untuk mengorbankan “kemewahan” saat berkuliah dengan mencoba memajukan UKM berkualitas dengan ilmu yang didapat untuk mencoba melabelisasi produk asli Indonesia yang terbaik dengan harga murah atau tidak dibayar sekalipun. terima kasih pak [:D]

Surianto Rustan
February 1
jadi kalau saya pikir, riwayat seorang desainer itu ada tahap2nya, misalnya: kuliah, atau tidak kuliah, awal bekerja, sudah bekerja tahunan, sudah bekerja puluhan tahun (senior).
nah membantu orang lain itu tidak terikat dengan setinggi apa karier kita. bisa kapan saja, apakah waktu masih kuliah, atau sudah senior. kalau di luar negeri, seorang desainer profesional justru berlomba2 mendapatkan pekerjaan yang sifatnya sosial, misalnya social campaign, membantu ukm, dll, krn itu sangat bagus buat portfolio mereka. jadi menyeimbangkan antara pekerjaan komersial dan segi pelayanan sosial. brandingnya jadi bagus. di sini juga demikian, kalaupun belum membudaya, sikap seperti itu adalah perlu: membantu orang lain kapanpun. saya sendiri dan beberapa teman desainer punya pemikiran yg sama, jadi selain kita bekerja komersial, kita seimbangkan dengan bekerja sosial bahkan tanpa dibayar sepeserpun.

Surianto Rustan
February 1
karena kita seharusnya melihat gambaran besarnya, bahwa bukan semata-mata uang yang paling penting, melainkan juga reputasi pribadi / nama baik. kalaupun itu masih dianggap bungkus, mari masuk ke yang lebih dalam lagi: hati nurani [:)] Nah Mas Rizal sejak awal sudah memiliki kepekaan tsb, silahkan menyebarkan virus kebaikan tsb di lingkungan terdekatnya dulu, baru lama2 meluas.

Surianto Rustan
February 1
bagi desainer muda / pemula, lebih jelas lagi kebutuhan mereka memang harus melayani orang lain dulu, tanpa mengharapkan balasan materi, krn yg dibutuhkan oleh mereka lebih berupa: portfolio, network, pengalaman, latihan, dll. jadi paling baik melihat ke dalam / introspeksi, jadi kita tetap sadar saya sedang berada di tahap mana, dan apa yg sebaiknya saya lakukan, apa saya sudah bisa kasih harga mahal, apa belum, bagaimana kualitas saya, kapan saya harus lebih membantu orang, kapan harus kerja lebih keras lagi, dll.

Rizal Fauzi A
February 1
Waw, [:D] saya tidak menyangka pak kalo jawabannya sekomprehensif ini pak [:D] . Terima kasih sekali
Mengenai undangan tersebut ya iya saya memahaminya [:)] , tanpa ada kekhawatiran lain pak. Insyaallah saya sedang menuju itu (untuk mencoba mengundang dan menimba ilmu langsung di kampus udinus) [:D]
Lalu untuk menjadi seorang desainer muda yang berkembang seperti yang bapak ungkap disini kadang pak kita sebagai seorang desainer terjegal hal yang sama, kebutuhan ekonomi.
Lalu apakah memang kita harus menjadi desainer yang seperti supermarket? yang notabenenya terkadang harus bersimpangan dengan apa yang kita yakini dari awal, atw mungkin adakah cara yang lainnya tanpa kita meninggalkan idealis kita tersebut?

Surianto Rustan
February 1
Banyak Cara mengakalinya Mas Rizal, ada teman saya desainer profesional, di sela2 proyek desain idealis pribadinya, ia jg menerima pekerjaan2 desain ecek2 spt brosur, kartu nama, dll. Jadi dia mengelompokkan ada 2 macam kerjaan desain, yg 1 yg sifatnya komersial, dan uangnya cepat dan banyak, yg 1 lagi pekerjaan idealis sosial yg tidak ada uangnya. Pekerjaan komersialnya bisa menghidupi dirinya dan memodali idealismenya. Kreatif dan seimbang kan?

Surianto Rustan
February 1
Jadi bukan berarti kota menolak uang, tapi bagaimana secara arif mengolahnya utk tujuan yg lebih mulia
Mohon maaf saya sudah siap2 kuliah, jadi hrs terpotong obrolannya, tapi silahkan dilanjutkan saja apabila masih penasaran [:)] terimakasih bisa berbincang2 dengan Mas Rizal yg menyenangkan

Rizal Fauzi A
February 1
iya makasih banget atas kerelaannya meluangkan waktu dan berbagi dengan saya yang sangat cerewet ini heheheh. sekali lagi terima kasih banyak pak [:D]

Bingung dapat tugas Tipografi membuat style condensed, normal, extended

Sali Lestari
selamat pagi pak..
saya ingin bertanya ttg tipografi..
saya sedang bingung pak…
saya ada tugas membuat typeface Gloucester dengan style :
1. Condensed
2. normal
3. Ekstended
dosen saya bilang type gloucester mesti di download dlu pak..
dan type gloucester berjenis style normal dan ekstended blm ada .
jadi kita membuat sndiri..
cara membuat font gloucester normal dan ekstended caranya bgaimana si pak ?
saya bngung..
kmrn saya dwnload typeface gloucester d 1001 font tdk bs pak..

Sali Lestari
October 29, 2011
lalu saya search melalui google dgn free dwnload font saya menemukan dan mendonload font gloucester .
namun type jenis gloucester bnyk sekali pak bntuknya..
ada yg brbntuk serif, brbntuk tlsan arab , dll..
saya jdi bngung melihat cnth panduan gloucester seperti ap …
mohon bntuannya pak..
trimakasih ak sebelumnya…
oia pak situs untuk mendownload free font selain 1001 font ada lagi ga pak..
trimakasih pak……

Surianto Rustan
October 29, 2011
1. wah tugas dari dosenmu itu berat juga ya
2. sebetulnya tidak perlu di download, kan bisa juga dengan melihat reviewnya (dlm ukuran besar) di fontfont.com atau fontshop.com misalnya, lalu imagenya di save as.
3. Gloucester utamanya memang serif, tapi family-nya banyak, ada yang arab, cyrilic, dll. bahkan banyak juga typeface lain yg punya family huruf2 thai, cina, jepang, dll.
4. kalo mao mendapatkan intisarinya cari yang versi regularnya.
5. tidak ada cara mudah untuk membuat versi sebuah font. biasanya si pembuatnya memulainya dari regular / normal, lalu bold, italic, baru ke condensed & extended, dll.
6. jadi utk membuat condensed & extended ya beranjak dari versi normalnya / regular, bukan sebaliknya.
7. saya sarankan save as image font tersebut versi yang diinginkan di fontfont atau fontshop, lalu belajar membuatnya dengan mencontohnya.
8. situs freefont lain yg saya tau: dafont.com

mudah2an lancar Sali.

Sali Lestari
October 29, 2011
siaap pak..
terimakasih bnyk infonya [:D]
nti saya buka situs yg bpk beritahu ke saya …
pak , saya ingin bertanya lagi..
condensed dan ekstended itu apa si pak ?
nti tipe huruf nya mempunyai serif jg pak ?
kalo gloucester normal tidak perlu mengalami perubahan bntk ya pak ?
trimakasih bnyk pak atas infonya [:)]

Surianto Rustan
October 30, 2011
1. condensed & extended itu style huruf, ada di hal. 63 buku tipografi saya. biasanya kalo regularnya ada serifnya, style lain dlm familynya juga berserif.
2. mxd kamu apa ya gloucester normal tidak perlu mengalami perubahan bentuk?
trm ksh kembali Sali [:)]

Sali Lestari
October 30, 2011
hhe…
iya pak saya sudah mulai paham..
trimakasih bnyk pas surianto [:)]

Tentang Trend Desain dan Pesan di dalam Desain

Ibad Baharudin
bang terimaksih udah di acc

Surianto Rustan
January 7
oh, sip Mas Ibad, silahkan kalau mau ngobrol2, kalau kebetulan online pasti saya balas, tapi harap maklum, biasanya nyambi kerja, jd tidak seketika

Ibad Baharudin
January 7
iyah bang
saya kan kebetulan ngambil dkv
menurut abang gimana prospeknya buat nanti soalnya orang tua selalu bertanya saya belum bisa jawab

Surianto Rustan
January 7
oh, DKV memang lagi booming, karena booming jadinya peminatnya membludak. karena membludak, lulusannya juga sangat banyak, memang pada akhirnya tidak semuanya tetap berprofesi sbg desainer, namun tetap saja tingkat persaingan saat ini sangat tinggi. jadi memang dibutuhkan kesungguhan hati, harus haus ilmu, dan yang pati: kerja keras. kalau mau jadi desainer yg berhasil

Ibad Baharudin
January 7
iyah bang saya hobi design tapi belum bisa di terima di masarakat
designya masih egois bang

Surianto Rustan
January 7
oh gitu
sip2

Ibad Baharudin
January 7
bang saya mau tanya lagi nih bang
kalau dalam masalah design ada musim musim nya ga ?

Surianto Rustan
January 7
maxudnya trend desain gitu?

Ibad Baharudin
January 7
iyah bang trend design ?

Surianto Rustan
January 7
pertama2 saya mau jelasin dulu nih, bhw desain itu punya sub2 area, walaupun ini ga formal, namun perlu diketahui supaya tambah paham.

Ibad Baharudin
January 7
apa ajah tuh bang ?

Surianto Rustan
January 7
yang dimaksud area ini adalah penekanan pada sebuah fungsi. misalnya ada area identitas (logo, branding, dll), ada area komunikasi (iklan, campaign, dll), ada area informasi (wayfindings, signage, dll), ada area yang ketergantungannya pada teknologi besar (webdesign, user interface design, dll), dll.

Surianto Rustan
January 7
nah, mengenai trend, tentu saja desain grafis terpengaruh juga, cuma mungkin pengaruhnya besar di area2 tertentu, dan di area lain tidka begitu besar.
selingan: ingat loh, desain grafis tidak hanya sekadar penampilan visual. kalau hanya sekadar kulit itu namanya hiasan / dekorasi, tapi kalau desain itu sangat dipengaruhi oleh tujuannya, target audiencenya, kliennya, produknya, pesaingnya, pesan yg mau disampaikan, dan setumpuk fungsi2 lainnya. beda dengan hiasan yg sekadar kulit.

Surianto Rustan
January 7
nah saya lanjutkan: kalau dipunggung desain grafis hrs menopang beban fungsi2 yg banyak tsb, tentu ia hrs sgt bijaksana kalau mau mengikuti trend, krn biasanya trend itu sekadar penampilan visual. lain kalau dia hanya berupa hiasan / dekorasi, maka kita bisa lihat contohnya logo2 yg marak di web 2.0 penampilannya hampir serupa semua.

Surianto Rustan
January 7
jadi pertama ita kudu ngerti dulu bedanya desain grafis dengan hiasan / dekorasi.

Ibad Baharudin
January 7
wah saya baru nyadar itu bang
terus cara menampilkan pesan di design terkadang itu sulit bang ada tips atau trik buat bisa menampilkan pesan dalam design ?

Surianto Rustan
January 7
jadi setelah riset & mendapat data2nya, lalu buat kesimpulannya dalam sebuah creative brief. nah kita baru mendesain berdasarkan creative brief, tapi itupun belum menggambar apalagi komputer, sebaiknya brainstorming kata2 kunci dulu, lalu sketsa, nah baru membuat alternatif desain yg banyak, dan rapikan di komputer, baru sodorkan ke klien.

Surianto Rustan
January 7
kalau dari sejak awal sudah pakai komputer ya bisa runyam, nanti jadinya hanya sekadar visual permukaan saja > hiasan / dekorasi.

Ibad Baharudin
January 7
wah iyah bang itu bener . . wah jadi banyak ilmu nih

Surianto Rustan
January 7
desain itu: PEMECAHAN MASALAH, nah biasanya orang salah kaprah langsung cari pemecahannya, padahal masalahnya apa dia lom tau. ibarat saya kasih nasihat ke anda, tapi anda lom cerita masalahnya apa = berarti saya so tau bener ya [:)]

Ibad Baharudin
January 7
iyah bang saya percaya abang karna lebih banyak jam terbangnya di banding saya he he he

Surianto Rustan
January 7
ah, saya kebetulan saja lahir duluan [:)]
pada dasarnya kita kan sama2 pembelajar

Ibad Baharudin
January 7
iyah masih banyak ilmu yang belum saya pelajari nih
oh yah bang saya mau tanya lagi nih soal pemilahn warna sama font itu ngaruh sama pesan design ?

Surianto Rustan
January 7
iya, perumpamaannya kalau kita mau menggambar atau menulis di sebuah kertas kosong, elemen apapun, baik titik, garis, gambar, huruf, dll semua hrs diperhitungkan matang2 krn nantinya sangat mempengaruhi pesan yg ingin disampaikan.

Ibad Baharudin
January 7
wah saya berarti banyak salah nih dalam ngedesign cuman bikin hiasan doang ga ada pesen nya aduh [-_-]
sebelum nya makasih bang udah ngasih tau
mungkin saya bakal banyak tanya
lagi maaf nih kalau ngerepotin

Surianto Rustan
January 7
sam2
silahkan, kalau saya sempat pasti saya jawab
btw saya minta ijin upload obrolan kita ini ke blog saya surianto.wordpress.com, spy yk teman2 lain yg belajar juga

Ibad Baharudin
January 7
iyah bang silahkan dengan seneng hati
boleh sebelum nya terimakasih [:)] he he h

Menghadapi Klien

Ircuz Pastrana
oke, boleh panggil aku prazz aja,, hehe. biar lebih akrab,, hehe,, eh ngomong” ni lagi sibuk gak pak ? mau sharing” ni .. tentang client.. [:)]

Surianto Rustan
January 22
silahkan Mas Praz

Ircuz Pastrana
January 22
gini pak, selaku junior, apa kedepan nya aku harus menerima client yg ngerti atau paham dan mau mengerti tentang apa itu hak, kewajiban dan lain” tentang desainer grafis, stelah aku jabarkan atau mengkasih 3 artikel yg judulnya kalo gk slah BUKA MATA di site nya DGI.. atau mungkin aku juga boleh menerima client yg gak mau tau tentang itu semua.. ” ah saya gak perlu tau detail tentang itu semua,, yg penting desenin yg bagus,, konsep dan bla bla bla ,, gak perlu ,, tapi harga nya jangan mahal2” ketika aku menerima client yg gak mau tau tentang DG ini, apakah secara gak langung ikut serta memperkembangkan pemikiran masyarakat yg slah kaprah tentang DG. tp aku juga butuh menambah porto, dan juga ngenyangin perut,, melihat di indonesia ato d surabaya (krna aku tinggal di sby) yg sudah terpecah mnjadi 2 , yaitu pemikir dessain dan tukang desain, karna aku pengen nanti nya jadi desainer yg PRO. pemikir desain.bukan ” TUKANG ”. mohon penjelasannya dari bapak ?

Surianto Rustan
January 22
Pertama2 saya salut dg sikap kritisnya Mas.
Begini, kalau kita cuma mau dengan klien yg mengerti & menghargai desain, bisa2 ga pernah dapat kerjaan. masalahnya bukan di kliennya, tapi di kitanya. karena kita terlalu berpihak pada diri sendiri, menganggap orang lain harus mengerti kita. saya sarankan ubah 180% pemikiran seperti itu.
desainer grafis itu konsultan, bukan operator. sbg konsultan hukumnya harus pertama2 bisa menempatkan diri sebagai klien, mendengarkan, mengerti jalan pikirannya, dan berbicara dengan bahasa mereka
kedua: menyambung kita sbg konsultan yg hrs mengerti klien, jadi yg perlu dipelajari oleh desainer sama sekali bukan ilmu desainnya saja, tapi ilmu mendengarkan, dan berkomunikasi dengan baik pada klien. ini semua utk memperlihatkan pada mereka bhw “oh desainer itu sopan2 & wawasannya luas, dll” > citra positif. ini adalah misi & tanggung jawab moral kita: mengedukasi masyarakat (trmsk klien) tentang apa itu desain & siapa itu desainer.

Surianto Rustan
January 22
tiga: hampir semua klien yg saya temui punya pemikiran yg barusan Mas sebutkan semua: mau cepat, desain bagus, murah. itu semua wajar saja, krn mereka belum kenal siapa kita & apa itiu desain. ok, sekarang tunjuk balik diri saya sendiri, apa saya tau betul apa itu desain grafis? siapakah saya yg disebut desainer grafis ini? nah sebelum edukasi mereka, sepertinya kita hrs didik diri kita sendiri dulu. belajar yg banyak, cari wawasan seluas2nya, bergaul dengan desainer lain, dll.

Ircuz Pastrana
January 22
oo.. gitu ya pak, jadi aku boleh menerima klien yg sperti apa saja ya. dan yg paling utama aku sendiri harus mempunyai patokan ato pondasi, harus mengerti ilmu mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik pada klien. terus bagaimana aku mensikapi klien” yg tidak mau tau tentang desain grafis, dan menganggap desain itu ya gitu” aja, hanya software dan selera, dan berlaku se.enak nya sendiri terhadap desainer grafis ?

Surianto Rustan
January 22
portfolio, uang, pengalaman, network, dll, itu semua adalah penghargaan2 yg akan kita terima kalau kita berprestasi, tapi sebelum itu seharusnya saya bertanya pada diri saya: standar kualitas saya bagaimana? sekali lagi bukan hanya di ilmu desain, tapi juga kemampuan introspeksi, kemampuan mendengarkan & berbicara, pemikiran bisnis, manajemen, dll.
itu dulu.
penghargaan2 psti akan menyusul belakangan.
bagi yg masih baru di industri ini, silahkan terima klien siapa saja tanpa terlalu melihat gaji, krn profit yg dibutuhkan bukan uang, melainkan: pengalaman, network, kepercayaan orang, portfolio, dll.
tapi bagi yang sudah kerja lama sbg desainer, sudah punya branding, pengalaman, network, dll. seharusnya harganya pun makin mahal, krn kualitasnya mungkin sudah jauh lebih baik dr pd seorang pemula.

Surianto Rustan
January 22
di belahan dunia manapun, kalau kita perhatikan, top designer adalah seorang yg ahli secara tukang, sekaligus seorang pemikir yg ulung. sebaiknya kita sendiri tidak ikut2an arus negatif, termasuk adanya jenis2 desainer, dll, kita harus ‘autis’. kalau tujuannya mau jadi desainer top, ya harus peka segalanya, belajar segalanya, sangat rendah hati & merasa kurang terus.

Ircuz Pastrana
January 22
ooo.. oke” ya ya ya.. aku baru mendapatkan jawaban yg pas untuk masalah ini, sebelumnya aku pernah menanyakan pada teman” senior dan di forum diskusi, jwaban nya kurang kuat. terima kasih pak surya. jawabannya sangat bermanfaat.

Surianto Rustan
January 22
halo Mas Pras, mohon maaf, tadi off sebentar
kalau boleh saya lanjutkan:

Ircuz Pastrana
January 22
ya pak gak pa” ..santai saja..

Surianto Rustan
January 22
yg saya maxud tukang disini adalah ahli soal craft-nya, keindahan, warna, huruf, detail, segala aspek dalam membuat desain tsb.
lagipula semua orang harus mulai dari nol. arsitek ternama harus belajar jadi kuli bangunan dulu, sutradara terkenal hrs mahir megangin lampu dulu, penulis terkenal waktu kecilnya harus belajar mengeja kata2 dulu. semua hrs bersakit2 dahulu, sedikti2 lama2 menjadi bukit, hukum ini berlaku pada tiap orang tanpa kecuali. yg instan cuma indomie dan cerita sinetron!

Ircuz Pastrana
January 22
oo.. iya ya,, jadi bukan ” tukang ” yag maen ceplak ceplok gambar dan huruf.. mungkin hard skill nya ya pak.. baru setelah itu soft skill .. komunikasi,
tapi bagaimana pak surya mensikapi klien” yg belum mengenal desain ? dan siapa itu desainer grafis ?

Surianto Rustan
January 22
menghadapi klien yg tidak menghargai, yah kita tidak tau masa lalu klien itu gimana. coba pikir, yg pasti mereka bukan desainer, mungkin mereka tidak lulus sd (byk org ga lulus sd tp jd jutawan), mungkin mereka dulu disixa ortunya shg sekarang mau menyixa kita [:)] dll, tapi itu semua seharusnya bukan dijadikan alasan mereka harus mengerti kita, justru kitanya yg harus sangat maklum & sabar, untuk itu kitanya harus menggali ilmu2 tadi itu: mendengarkan & berbicara. sudah banyak bukti bahwa dengan komunikasi yg sopan, sabar & baik, klien justru jadi tunduk sama kita.

Ircuz Pastrana
January 22
oalah.. jadi gitu ya mensikapinya ,, brarti desainer grafis itu profesi yag mnurut ku sangat bagus ya,, sealin dengan kelebihan” nya juga harus baik di karakteristiknya.

Surianto Rustan
January 22
tapi ya memang ada beberapa special case, dimana klien tsb sangat kepala batu walaupun sudah berhubungan lama dengan kita dan diberi penjelasan dengan sabar. untuk yg begini dia saya kasih harga khusus. bukan diskon, tapi sebaliknya: saya tinggikan harganya, jadi kalau dia mau syukur (saya masukkan dalam biaya sakit hati saya), kalau dia tidak mau ya sudah, masih banyak klien lain koq, tenang saja [:)]

Ircuz Pastrana
January 23
haha.. iya pak sabar ada batasnya.. kita harus tegas.
tapi bgini pak . bagaimana kalau aku tahu aku mendapat klien yg bagus kedepannya.. dari segi karakteristiknya mau tau tentang desain dan desainer grafis, dan juga kepengen dibuatin karya desain yang bener2 ” berat/berbobot ”. apakah aku akan memberikan semuanya langsung pada saat itu juga , atau aku aku putus” supaya aku masih bisa berhubungan lama dengannya ? kalo misal aku berikan semuanya langsung setelah itu apa. ya sudah habis.. ini lebih ke corporate identity pak ,, mungkin bisa memberi penjelasannya ?

Surianto Rustan
January 23
yg diberikan semuanya itu apa ya maxudnya? desainnya? ide2nya?

Ircuz Pastrana
January 23
iya.. ya mulai dari desainnya idenya semuanya ..apa juga perlu di beri step” nya .. yg padahal itu bisa saja diberi pada saat itu juga. supaya bisa berhubungan terus karna mendapat klien yg cocok.

Surianto Rustan
January 23
utk mendapat kepercayaan klien, kita harus tulus. itu kuncinya. tapi juga kita harus pintar, jgn sampai dimanfaatkan, krn itu saya tidak pernah mengirimkan desain hi-res pada klien, semua lo-res, sedangkan ide, sketsa, dll tidak pernah tertulis, tapi lisan atau dipresentasikan lewat powerpoint.
ide2 brilian kita harus dipresentasikan, supaya klien yakin & berpikir: “saya tidak cuma2 membayar orang ini”. begitu kita sudah dapat kepercayaannya, juga jangan lalu bermalas2an, ketulusan hati harus tetap dijaga sampai akhir kerjasama, harapannya utk dapat projek2 selanjutnya. berpikirlah jangka panjang.

Ircuz Pastrana
January 23
oo.. begitu ya,, wah aku belajar banyak sekali hari ini sama pak surianto rustan. terima kasih banyak pak. mungkin lain waktu aku bisa sharing” lagi sama bapak. jangan kapok ya pak .. hehe [:)]
seorang junior butuh banget belajar dari senior, supaya kelak bisa seperti seniornya. tq pak.

Surianto Rustan
January 23
hahaha saya sendiri juga masih belajar koq, baik kalau kita sama2 belajar, nanti kalau saya ada yg tidak tahu, saya tanya kamu juga ya

Surianto Rustan
January 23
Mas Praz, apa boleh percakapan kita ini saya upload ke blog, spy byk teman2 yg lain bisa belajar juga dari sini?

Ircuz Pastrana
January 23
hahaha, sama2 belajar pak, siap2.. sebisa mungkin saya bantu jawab.
oh, silakan pak dengan senang hati.

Diwawancara soal desain grafis

Adlina Al-Aidid

Salam kenal, Mas.
Saya Adlina, mahasiswi desain grafis semester 5 di Politeknik Negeri Jakarta. [:)]
Saya ada tugas mata kuliah manajemen desain untuk wawancara desainer sukses.
kira2 mas bersedia saya wawancarai atau tidak?
sekiranya bersedia, berikut ini merupakan list pertanyaannya.
terimakasih banyak sbelumnya ya mas. [:)]

List Pertanyaan

1. Bagaimanakah perjalanan karir mas sebagai seorang desainer grafis?

2. Apakah yang membuat mas tertarik dengan desain grafis?

3. Apa saja proyek yang telah mas selesaikan/ sedang berjalan hingga saat ini?

4. Bagaimana mas bisa mendapatkan klien/projek, apakah mas promosi sendiri atau ada usaha lainnya?

5. Bagaimana proses tawar menawar mas dalam menetukan harga desain untuk klien?

6. Siapa saja yang mas libatkan dalam proses produksi?

7. Berapa lama produksinya suatu projek yang mas handle?

8. Bagaimana mas mengkalkulasikan biaya produksi?

9. Berapa kali mas preview dengan klien?

10. Apakah klien merasa puas dengan hasil kerja mas?
Mengapa bisa begitu? apa yang buat mereka puas?

11. ketika projek selesai apakah klien masih bekerja sama dengan mas pada projek berikutnya? jika iya apa alasan mereka?,
kemudian jika tetap bekerja sama apakah klien yang menghubungi mas, atau mas yang menghubungi klien lebih dahulu ?

Terimakasih.. [:)]

Surianto Rustan
January 9
Otre Adlina, ini jawabannya:

1. Bagaimanakah perjalanan karir mas sebagai seorang desainer grafis?

Sejak kecil senang menggambar, makin besar makin aktif dan bercita-cita jadi pelukis. Di SMU mulai melihat kenyataan bahwa menjadi seniman lukis sangat besar tantangannya, terutama untuk memenuhi urusan finansial. Jadilah saya mengambil jurusan desain grafis. Karena berhubungan dengan rupa, warna dan keindahan, saya betah di bidang ini sampai sekarang. Padahal setelah lulus kuliah sempat dilema apakah mau bekerja di grafis atau di musik. Saya sempat setahun kesana-kemari melamar kerja sebagai pemain gitar tunggal di lobi hotel-hotel. Dari beberapa kali audisi, tidak ada satupun yang menerima saya. Akhirnya saya introspeksi diri dan menyadari bahwa saya tidak jago gitar, maka saya putuskan kembali ke jalur grafis dan mulai bekerja di bidang ini.

Surianto Rustan
January 9

2. Apakah yang membuat mas tertarik dengan desain grafis?

ya itu, awalnya dari kecil senang menggambar, berekspresi lewat bahasa gambar. sementara orang lain lewat bernyanyi, atau lewat menulis, saya senang menggambar. senang warna, bentuk, pesan, yg ada di dlm sebuah lukisan / gambar. nah di desain grafis ternyata lebih kaya lagi: ga cuma ekspresi pribadi tapi komunikasi yg hrs sampai ke target audience. berarti jauh lebih advance daripada seni murni. lagipula desain grafis erat berkaitan dengan segala bidang ilmu lain, spt: sosial, komunikasi, politik, ekonomi, budaya, antropologi, linguistik, psikologi, hukum, dll. ini suatu bidang yg sangat kaya

Surianto Rustan
January 9

3. Apa saja proyek yang telah mas selesaikan/ sedang berjalan hingga saat ini?

proyek yg pernah saya garap cukup byk, mungkin baiknya lihat website saya saja: rustangrafis.com. yg lagi jalan, ada proyek website sebuah perusahaan bahan kimia.

Surianto Rustan
January 9

4. Bagaimana mas bisa mendapatkan klien/projek, apakah mas promosi sendiri atau ada usaha lainnya?

hingga saat ini saya tidak pakai marketing utk mendapatkan proyek, semua klien datang sendiri, entah tau dari temannya, dari website saya, dari buku2 saya, dll.

Surianto Rustan
January 9

5. Bagaimana proses tawar menawar mas dalam menetukan harga desain untuk klien?

harga yg saya tentukan biasanya tidak utk ditawar lagi. krn Mario Teguh pernah ngomong: umur 20 tahun kamu masih bisa ditawar, umur 30 tahun sehaursnya sudah susah ditawar, umur 40 tahun gaboleh lagi ditawar. hehe logisnya gini: umur 20 saya masih miskin pengalaman & ilmu, jadi bukan uang yg utama tapi portfolio, pengalaman, ilmu, konexi, dll, umur 30 thn, seharusnya sy sudah byk pengalaman, ilmu, konexi, dll., umur 40 tahun seharusnya sudah ngelotok [:)] ))) brandingnya seharusnya sudah begitu kuat shg orang datang ke kita memang utk dihargai mahal [:)]

namun demikian saya tetap realistis, ada perjanjian tak tertulis dimana si pembeli hrs masih bisa nawar. krn itu saya naekin lagi harganya sedikit utk margin tawar menawar, tapi nantinya setelah ditawar akan balik lagi ke angka yg sdh kita tentukan.

Surianto Rustan
January 9

6. Siapa saja yang mas libatkan dalam proses produksi?

utk produksi (pencetakan) saya pakai pihak ketiga, yaitu pihak percetakan.

Surianto Rustan
January 9

7. Berapa lama produksinya suatu projek yang mas handle?

begini, istilah produksi itu di dunia desain grafis biasanya bermakna: pencetakan. sedangkan proses sebelum produksi adalah: riset, strategi, desain (visual), sedangkan di lingkup proses produksi ada istilah pre-production, itu adalah tahap persiapan pencetakan, dan post production, itu adalah proses setelah pencetakan dilakukan.

nah tahap mana nih yg kamu maxud?
kalo tahap riset, & strategi biasanya saya lakukan sendiri, tapi tahap desain visual akhir2 ini saya kerjasama dengan mahasiswa magang atau teman desainer lain.

kalau pekerjaan mendesain buku2 saya, semuanya saya kerjakan sendiri, kecuali beberapa foto, memeriksa tulisan, dan review oleh para ahli.

lama produksi tergantung besar proyeknya, ada yg beberapa hari saja (pekerjaan desain cetak, template website), sebulan (biasanya website lengkap), beberapa bulan sampai setahunan (logo & identitas visual lainnya).

Surianto Rustan
January 9

kalo proyek buku sangat bervariasi, yg saya alami selama ini: buku layout penulisannya selesai dalam 3 bulan, logo 6 buloanan, tipografi setahun. itu semua diluar review oleh para ahli, finishing, production.

Surianto Rustan
January 9

8. Bagaimana mas mengkalkulasikan biaya produksi?

balik lagi neh, produksi cetak ato seluruhnya? riset, strategi, desain, cetak?

Surianto Rustan
January 9

9. Berapa kali mas preview dengan klien?

mgkn maxudnya review, bukan preview?
sangat tergantung proyeknya. kalo website ga lama, tapi kalo identitas biasanya bolak-balik. interview dengan boss besarnya, interview dengan para direkturnya, anak buah & staff2nya, lalu design review / evaluasi: bisa 3-4 kali biasanya.

Adlina Al-Aidid
Tuesday

untuk nomer 8, biaya produksi dr awal sampai akhir,pak..

waaah.. trimakasih banyak ya pak.. [:D]
*seneng dapet ilmu tambahan.
terimakasih banyak.
[:)]

Surianto Rustan
Wednesday

utk no.8: dari awal ya:
– riset: kalo pake pihak luar, ya kita bayar pihak periset tsb, kalo ga ya paling yang diperhitungkan transportasi, biaya bikin kuesionernya, gift utk menyatakan terima kasih ke yang diwawancara (kalau riset masyarakat umum), biaya pemakaian waktu & tenaga yg digunakan utk riset tsb, waktu & tenaga yg keluar utk menyimpulkan hasil riset, dll.
– strategi: biaya utk tenaga & waktu yg keluar utk bikin strategi komunikasi, visual, media, dll. kalo di branding kudu bikin moodboarding, brainstorming, riset visual lagi melihat contoh2 desain yg orang sudah buat, dll.
– mendesain visual: biaya atas tenaga & waktu yg keluar utk membuat desain visual / penerapan ke berbagai media (kalo identitas / branding), dll.
– preproduction: biaya yg keluar utk mempersiapkan file yg siap cetak, production & postproduction: biaya cetak & finishing (lipat, potong, tempel, emboss, dll) yg dibayar ke percetakan. (seandainya pekerjaan pencetakan diserahkan ke pihak percetakan)

biasanya orang mengcompile (menggabungkan) semua biayanya & merata-rata dalam bentuk: man-days, mxdnya man per day / biaya per hari. jadi misalnya setelah dihitung semuanya, maka biaya mendesain perhari rata2 rp.50rb, nah pas dpt order tinggal dikira2 itu butuh berapa hari pengerjaan, kalo 20 hari kerja, maka 20 x 50.000 = 1.000.000.

gitu Adlina, smg bermanfaat [:)]

Tentang proses produksi desain

Nur Humaira Albar
bapak..sa mau ada pertanyaan nih pak..hihi..buat tgs klompok pak..adu maav ya pak dadakan..hihihi..biasa pak ttg production,yg kertas,binding sm finishing pak..hihi..jwb sebisa bpk sajo..hohoho..bapak kan jagooo..hihihi

Nur Humaira Albar
November 7, 2011
1.Kapan kertas,binding,finishing mulai masuk ke Indonesia?
2.Bagaimana perkembangan proses produksi di indo?
3.Peran dari proses produksi?
4.Apa factor yang membuat kertas,binding, dan finishing itu relative mahal?
5.Peranan proses produksi itu sendiri apakah cukup penting utk mahasiswa?
6.Apakah Semua jenis kertas,binding,maupun finishing lengkap di Indonesia?

Surianto Rustan
November 8, 2011
Mai, ini jawaban gw:
1 & 2 bisa diliat di link ini: http://dgi-indonesia.com/garis-waktu-desain-grafis-indonesia-1/
3. peran proses produksi, ya ampiuuunnn.. masa kaga tau? kalo elo misalnye bikin flier, kalo kaga diproduksi ya tu desain masi di komputer doank atuh. jadi peran produksi itu ya untuk mengkongkritkan ide2 kita yang abstrak (di pikiran) ataupun yang masih virtual (di komputer)
4. kertas susah bikinnya & pake bahan dasar kayu yg makin langka, binding & finishing itu mahal krn dikserjakan manual, pake tenaga manusia bukan mesin, finishing yg pake mesinpun (misalnya efek2 cetak spt emboss, UV, dll.) kudu bikin plat/film lagi, belom bahan plastiknya utk UV & mesin press buat emboss.
5. ya iyalah, supaya hasil produksinya nanti sama / mendekati dengan yang didesain.
6. kaga.
demikian Mai, smg berguna.

Nur Humaira Albar
November 8, 2011
waahhh si bapak bae deh..hahahaa..kami sekelompok turut berterima kasih atas jwban bpk..hahah..berguna bgt ini pak,abs buat laporan uts..hahaha..mksh ya pak [:)]

Surianto Rustan
November 9, 2011
sip dah, makasih kembali :)smg lancar tugasnya

Nur Humaira Albar
December 5, 2011
bapak,hihi aku mau nanya dong pak..buat skripsi aku..hehe..biar kuat ni alasannya..hoho..yang harus diperhatiin pas kita ngedesain itu apa ajah ya pak?biar afdol gtu klo bapak yg jwb..hihi..gapapa kok klo bpk cmn ksh point2ny ajah,jd ntr aku cari gtuu buat penjelasanny..hehe,asal ntr ada kutipan nama bapak pas aku tulis yg teori konsep ny..hehe

Surianto Rustan
December 6, 2011
intinya sih menggunakan tahapan kerja yg benar, disederhanakan menjadi 3 tahap: riset dulu, lalu cari strategi, baru kemudian mendesain visual.