Mengapa master file desain sebaiknya tidak dikasih ke klien? Bagaimana kalau jadwal proyek telah lewat deadline? Apa kita masih minta bayaran?

Selamat malam pak,

Baru keinget mau nanya ke bapak sekarang, keburu kelupaan jadi emailnya sekarang deh pak hehe. Mau nanya nih pak jadinya gara2 ikut seminar kemaren yang bapak jd pembicaranya.

1) Kalo emang softcopy karya/pesanan klien ga boleh kita kasih, walopun itu temen ato sodara sendiri, alasan yang bisa kita kasih klo mereka nanya: “Kenapa ga boleh gw minta??” itu apa pak?? Apa alasannya juga karena kita mau mencoba menjadi profesional juga?

2) Kita dapet job, tapi kita udah lewat deadline. Molor bangetlah bisa dibilang. Nah, kita masih harus minta bayaran ga pak?? Kalo iya, harus di-reducekah karena kerugian waktu klien? Ato bagaimana pak?

Sekian.. Mohon kesediaan bapak menjawab. 🙂

Salam,

Inez A.R.

____________________

hihi halo Nez,
sori telat bgt jawabnya
ini dia, smg blm basi:

1. yg dimaksud itu adalah master file-nya. misalnya kamu bikin desainnya di photoshop (.psd), trus utk dipresentasikan ke klien, kamu hrs convert ke format umum yg klien bisa buka, krn kl psd lom tentu klien punya photoshop, kalopun dia punya, tktnya versinya jadul tar jadi ribet. jd biasanya format ke (pilih): jpg, gif, png. Setelah project selesai, silahkan diserahkan seluruh master file-nya apabila di dlm surat perjanjian tertera seperti itu. namun bila klien tidak mengatakan apa2, di surat perjanjian tidak usah dituliskan, dan hingga akhir project pun master file tsb dipegang oleh desainer.

memang adakalanya ketemu klien yang mau mengubah-ubah seenak mereka, jadi mereka minta master file-nya utk diubah sendiri, tapi seandainya di dlm surat perjanjian sudah jelas – bahwa project akan dikerjakan sepenuhnya oleh desainer dan campur tangan klien hanya soal penyediaan konten dan memberi input, tidak campur tangan ikut mengerjakan desainnya – maka ga usah khawatir, dan apabila klien minta masternya bilang bhw apabila diinginkan, akan diberikan di akhir project, tidak di tengah-tengah project yg sedang berjalan.

Intinya kalau relasi antara desainer dengan kliennya baik toh mereka akan mengerti, dan balik lagi ke kita. jadi hrs dilandaskan oleh itikad baik, saling percaya dan saling seimbang. jangan menahan-nahan master file dengan tujuan tidak baik, yaitu agar si klien ‘terpaksa’ ke kita lagi karena kita yang pegang master file-nya. bisa-bisa nanti citra desainer buruk di mata dia.

2. kondisi apabila terjadi keterlembatan penyelesaian pekerjaan, harus dicantumkan secara detail dlm surat perjanjian, dan hrs secara
berimbang, yaitu apabila keterlambatan tsb disebabkan oleh klien, maupun disebabkan oleh desainer. masing2 hrs ada ‘hukumannya’ dan plan
B-nya, ‘hukuman’ bisa berupa: kl penyebabnya klien: nambah biaya, kl penyebabnya desainer: kurangin bayarannya, dll.

namun sekali lagi, kalau ada sesuatu hal di luar dugaan terjadi, contohnya keterlambatan ini, maka sebaiknya dibicarakan baik2 oleh kedua pihak, apabila desainer penyebabnya maka harus minta maaf dan komitmen dengan aturan main yg sudah disepakati bersama. Sebaliknya
desainer juga tidak membiarkan klien terlambat, melainkan mengingatkan schedule project tsb. kadang2 klien krn sibuknya shg agak
menomorduakan project desain ini, maka kita ingatkan status project saat ini dan jadwal yg disepakati sebelumnya, shg mereka aware. ini
lebih sopan ketimbang tiba2 kita ngomong: “Pak, ini sudah terlambat, Anda harus membayar biaya keterlambatan ini”

Ingat, tujuan kita bukan relasi jangka pendek, melainkan jangka panjang.

Demikian Inez,
Semoga berkenan dengan jawabannya.

Apa beda seni grafis dan desain grafis? Adakah buku referensi dasar2 senirupa?

halo pak surianto,
nama saya Hadid Windoro.

sebelumnya saya ingin berterima kasih sama bapak karena dari buku bapak saya bisa belajar banyak tentang bidang desain. baik itu logo, layout maupun tipografi sehingga saya, mahasiswa yang sebenarnya ingin sekali masuk jurusan seni tapi ngga kesampean ini bisa belajar mandiri. dan dengan buku bapak ini saya menjadi semakin ter-motivasi lagi untuk mencari cari pengetahuan ilmu desain secara mandiri. baik itu dari internet atau pun buku lainnya.

dari buku buku karangan bapak yang saya baca, saya jadi paham betul bahwa untuk menyandang predikat desainer grafis itu bukan perkara yang mudah yang hanya bisa didapatkan dengan modal kemampuan photoshop dan selera yang bagus. tapi jauh lebih dalam lagi dari itu.

nah, ada dua buah pertanyaan yang ingin saya ajukan. mungkin pertanyaan ini sangat sederhana dan bersifat kontekstual, trapi saya tidak tahu jawabannya. sebenarnya, apa ada perbedaan dari seni grafis dan desain grafis?
kedua, apakah bapak punya referensi buku yang membahas seni rupa dari hal yang paling dasar? (seperti sejarah, aliran, tokoh, perkembangan, contoh karya)

terima kasih banyak sebelumnya.
_____

Halo Mas Hadid,

Saya akan jawab sejauh pengetahuan saya yg terbatas ini. Jadi kalau tidak memuaskan, sebelumnya sy minta maaf.

Mengenai seni grafis dan desain grafis.

Seni grafis itu ada di tataran seni murni, sedangkan desain grafis itu ada di tataran yg berbeda.
seni grafis adalah seni murni seperti seni lukis, dll, tapi mediumnya adalah alat2 grafika / percetakan. yang saya tahu biasanya para seniman seni grafis ini sekolahnya di jurusan seni murni, tapi mendalami grafika, mereka mengeksplorasi berbagai teknik cetak, dari cetak tinggi, mencetak menggunakan cetakan cukil kayu, dll. dan hasilnya dipamerkan selayaknya pameran lukisan.

Sebagaimana layaknya seni murni, sang seniman / karyanya itulah yang menjadi subjek / pusat seni tersebut, lalu audience yang harus mendatangi mereka, masuk utk menyaksikan karya2 tsb. riset yg dilakukan seniman bukan riset audience, tetapi riset thd objek yang mau dilukisnya. Seniman langsung berhadapan dengan audience, dia bukan ‘komunikator’ bagi pihak lain melainkan bagi dirinya sendiri.

Berbeda dengan desain grafis, yang menjadi subjek adalah audience, karena itu riset audience merupakan yg utama bagi desainer grafis. Desainer grafis yang mendatangi audience dan melayani mereka, bukan sebaliknya. Desainer grafis biasanya berada di posisi jembatan penghubung antara pemilik produk / perusahaan dan masyarakat /audience. jadi dia adalah ‘komunikator’.

artikel yg membahas dasar2 senirupa sangat banyak beredar di internet Mas, silahkan ke google dengan search variasi kata2 ini: basic, fundamental, history, art, movement.

sedangkan buku bahasa indonesia yg membahas senirupa saya sendiri belum pernah baca selain dari sisi desain grafis Indonesia, yaitu di: http://dgi-indonesia.com/garis-waktu-desain-grafis-indonesia-2/ dan buku Arief Adityawan S.: Tinjauan Desain Grafis. Karena desain grafis asalnya juga dari seni murni, maka dalam sejarah desain grafis, pastinya ketemu seni rupa di awal2nya.

Demikian Mas, sementara itu dulu sejauh pengetahuan saya. mudah2an bermanfaat. salam suxes!

Awalnya desainnya dikasih gratis, lama2 keterusan, bagaimana ini?

Someone (nama disamarkan)
Sore Pak, lagi sibuk kah?
saya mau konsultasi…
grin

Surianto Rustan
Thursday
silahkan smile

Someone
Thursday
saya punya paman nih pak, dia kan punya perusahaan, dan saya sempat menawarkan jasa desain saya ke perusahaannya, karena saya merasa itu paman saya, yaa, saya ga’ minta harga desain di awal, cuma harga cetak (kebetulan yang paman saya minta itu desain banner, jdi sekalian cetak)…
nah, saya sempat mengajukan harga desain paman saya bilang “biasanya ga’ pernah kena ongkos desain”, mau ngasi penjelasan kok rasanya ga’ enak, mau nolak orderannya ga’ enak juga…
eeh, keterusan sampai skarang, hanya saja paman saya mendelegasikan urusannya ke staffnya…
alhasil stafnya menghubungi saya untuk order ini itu…
saya minta fee desain, ga’ di respon…
kalau saya nolak orderannya, saya ga’ enak sama paman saya…
wah, jadi galau setiap malam… -.-
apa yang sebaiknya saya lakukan ya?

oia, pak, saya mau tanya, ketika ada penawaran project desain kan sebaiknya langsung tatap muka, bagaimana dengan yang lokasinya jauh? misalnya saya di Bali, klien saya di Jakarta, atau Sumatra, bahkan mungkin di luar negri (amin, hehe) apakah bisa dbuat jadi efektif ya?

Surianto Rustan
Yesterday
halo Mas, itu pertanyaan yg pertama sudah saya jawab kemarin, cuma nampaknya koneksi saya bermasalah jadinya hilang semua yg sdh saya jawab dan tdk terkirim frown
ini saya jawab lagi:
Segala yang telah kita alami, baik yg manis maupun yang pahit adalah guru yg paling baik. seluruhnya membuat kita tambah dewasa dan bijaksana.
nah setelah mengerti kesalahan yg telah kita lakukan, mudah2an kelak menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak melakukannya lagi di masa depan.
usul saya, ajak Paman anda bicara 4 mata, perlihatkan portfolio dan karya2 Anda, tunjukkan bagaimana cara kerja Anda yg tidak asal2an saja, ada riset, mencari strategi, membuat alternatif desain yg banyak, orisinil dan tidak pakai template, tidak pakai clipart, ceritakan jerih payah Anda saat membuat deain tersebut, bahwa desain ada aturannya, tidak sekadar selera, dll. ceritakan apa yg saya tulis di link berikut ini, yg mungkin bisa menambah pemahamannya tentang desain: http://dgi-indonesia.com/bukamata/ di situ ada 3 artikel penting yg wajib diketahui siapa saja tentang desain grafis.
Bukamata adalah rubrik praktis, singkat, padat, amat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mendapat gambaran tentang apa itu desain grafis.

Surianto Rustan
Yesterday
dari situ kemudian bilang padanya bahwa atas jerih payah itu harus ada penghargaan untuk desain, karena desain itu dibikin khusus untuk dirinya. Jadi selain dia terima barang berupa spanduk misalnya, tapi kan di dlm desain spanduk itu ada bobot lain, yaitu kemampuan spanduk tsb memperkenalkan produk Paman Anda, kemampuan spanduk itu utk menjual produk tsb ke masyarakat, atau minimal menginformasikan pada khalayak. Jadi bobot fungsi itu yang sebetulnya harus dihargai, tidak sekadar ‘barang’ komoditi. Itulah desain.
sebetulnya pelajaran dari pengalaman Anda itu dapat dikembangkan lebih jauh, yaitu apabila seseorang desainer memberi ‘edukasi’ pada klien (masyarakat) bahwa desain itu gratis, maka akan makin banyak orang yang mengerti: “ooo ternyata desain itu bisa gratis ya”, atau sebaliknya, apabila para desainer kompak mengedukasi masyarakat bahwa desain itu bukan template, ada tahapan kerja yg perlu dilakukan, ada riset, harus orisinil, bukan template, ada prinsip2 desain, tidak sekadar selera dll, maka makin banyak masyarakat yg mengerti: “ooo desain itu ternyata ilmiah ya, desain ternyata bukan komoditi ya. dll”
mudah2an dengan si Desainer mengerti siapa dirinya sendiri, maka dapat membuat masyarakat (termasuk klien) mengerti siapa desainer itu dan apakah desain itu. kedepannya profesi ini akan dihargai secara berimbang oleh masyarakat

mengenai tatap muka dengan klien, sebisa mungkin ya, harus dilakukan. namun apabila ada kendala geografis, lihat dulu proyeknya, kalau proyek skala kecil, mungkin komunikasinya masih bisa dilakukan secara online, tapi kalau proyeknya besar dan menuntut ketepatan pengertian oleh kedua pihak (desainer & klien) mau tidak mau harus bertemu muka.
yg menjadi dasar pengertian adalah: hrs ada relasi yg erat antara desainer – klien. itu yg penting

Galau karena kerjasama dengan teman, gimana pembagian keuntungannya?

Someone (nama disamarkan)
semangat pagi pak… ^.^

Surianto Rustan
September 13
halo Bung smile

Someone
September 13
ngajar kuliah nanti pak?
btw, mau curhat nih pak… grin
saya kan mengajak kerja sama teman sebagai tim desain saya…
pembagiannya, setiap ada job kita bagi dua…
nah, yang jadi masalah, saya ngerasa apa yang didesain sama dia itu kok beda sama persepsi awal yang kita rapatkan…
sya jadi bingung, dan galau…
@.@
enaknya kalau bagi tugas itu seperti apa pembagiannya ya?

Surianto Rustan
September 13
memang sulit bila keduanya sejajar, maka keputusan ada di tangan berdua. paling baik adalah, yang mendapatkan project itu pertama kali, maka dialah yg jadi project managernya. dia yg lbh menentukan keputusan. tp ini hrs diomongkan lebih dulu dgn rekan tsb.

Someone
September 13
project manager itu mengkonsep desain dan mengatur jalannya project ya?

Surianto Rustan
September 13
kalo saya sendiri tidak pernah mengajak teman utk sejajar levelnya, krn pembagian kerja juga jadi sulit. jadi bila saya yg mendapatkan project tsb, maka saya mjd managernya (sama spt di atas) tp saya tdk pernah mengatakan pada dia nilai rupiah project tsb. pokoknya rekan kerja saya itu saya mintakan penawaran harganya, nah saya yg membagi tugas kerja, dll sekaligus membayar dia sesuai dengan permintaan harganya itu. tapi semuanya itu janjian sejak awal, juga bilang pada klien, kalo mengenai finance langsung berhubungan dgn saya, tidak dengan rekan saya. gitu
Mas, mohon maaf, sy hrs brkt ngajar, nanti kta lanjutkan

Berapa ukuran standar huruf di kartu nama?

Yuny Oktavia 陈凌云
malam, pak. saya mau nanya soal ukuran font kartu nama. smile ukuran standard font untk kartu nama itu berapa ya, pak? thanks in adv. grin

Surianto Rustan
52 minutes ago
Halo Mba Yuni, ukuran yang pas biasanya sangat tergantung bentuk / desain font-nya.
kalau mau di ambil rata2, mungkin antara 8-12 point
tapi cara yang paling betul adalah:
1. desain kartu nama tersebut dengan alternatif huruf yg diinginkan. misalnya ada 3 alternatif, maka desain kartu tsb menggunakan 3 jenis huruf tsb.
2. print ke 3-3nya, lalu bandingkan.
jadi test-print adalah cara yg paling tepat untuk menentukan font mana dan ukuran berapa yg paling sesuai

Yuny Oktavia 陈凌云
49 minutes ago
ohhh. kalo jenis font plng bnyk yg bisa dipakai dlm 1 kartu nama itu 3 jenis aja ya, pak?

Surianto Rustan
48 minutes ago
sebutuhnya saja. tidak ada aturan baku. yg pasti kalo kebanyakan jadi terlalu berbeda2, tidak unity
toh 1 family typeface pun sudah memadai.
kan ada berbagai style biasanya. misalnya bold, italic, dan size-nya pun bisa dimainkan, juga warna huruf itu sendiri bisa diganti2, bisa hitam pekat 100%, bisa dikurangi kepekatannya menjadi 50% misalnya, dll
yang penting di test print juga, utk melihat mana yg paling baik

Yuny Oktavia 陈凌云
45 minutes ago
oke, pak. udah jelas banget nih infonya. hahah. thank you very much, pak. grin

Surianto Rustan
39 minutes ago
sam2 Yuny
pokoke kalimat ajaib hari ini: test print smile

Yuny Oktavia 陈凌云
38 minutes ago
wkwk. iya, pak. sip. grin

Presentasi ke Klien hasil jadinya saja atau sketsa2nya/mindmapping-nya dulu? Bgmn cara membuat hati klien tenang?

Janrico Renaldy Liando
oia pak, lagi sibuk ga?
pengen nanya lagi seputar desain, hehe
(nanya mulu jd ga enak, hehe)
upset

Surianto Rustan
3 hours ago
trims smile silahkan, gapapa koq, malah senang saya

Janrico Renaldy Liando
3 hours ago
tq tq tq
hehe
gini pak
melanjutkan perbincangan kita yg kemarin

Janrico Renaldy Liando
3 hours ago
yg bikin identitas visual manajemen hotel
kan saya udah dpt nih datanya

Surianto Rustan
3 hours ago
iya

Janrico Renaldy Liando
3 hours ago
proeses desain akan saya lakukan
nah yang ingin saya tanyakan
kira2 pas kasih ke klien itu hasil jadinya berikut alternatifnya yg udah ada warnanya
atau sketsanya dulu yang bebentuk thumbnail?
bingung pak, ini kali pertamanya saya
upset
mohon pencerahannya
grin

Surianto Rustan
3 hours ago
presentasinya harus sudah rapi, sudah diedit di komputer. tidak dalam bentuk sketsa. kalau saya biasanya semua alternatifnya dimasukkan ke dlm powerpoint semua lalu dipresentasikan. tiap alternatif disertakan keywords nya masing2. misalnya alternatif A, tulis keywordsnya: friendly, letter A & K, flexible, emphaty, dynamic. alternatif B, keywordsnya: strong, charisma, fist (kepalan tangan), unbreakable, dll.

Janrico Renaldy Liando
3 hours ago
ohhh

Surianto Rustan
3 hours ago
keywords itu bisa menggambarkan bentuknya, sifat/kepribadiannya, harapan2nya, dll.

Janrico Renaldy Liando
3 hours ago
jadi harus dah dalam bentuk pilihan alternatif (yg sudah jd beserta keyword dan keyvisual) nya ya?
sketsa, brainmap gak perlu yah pak?
(gak perlu di presentasikan maksudnya)

Surianto Rustan
3 hours ago
sketsa ga perlu, soalnya Klien sih biasanya ga mao tau smile
sketsa itu urusan desainer
presentasi logo2 tsb sdh beserta alternatif warnanya tapi diinfokan bhw warnanya itu blm fix, tahap memilih warna bisa kemudian. supaya fokus dulu pada bentuknya

Janrico Renaldy Liando
3 hours ago
wiw
MANTAP pak
grin
iya soalnya saya mikir kalo kyk skripsikan ada tahapannya dan itu smua harus di acc dosen pembimbing
hehe
sekarang saya semakin paham apa yang akan saya presentasikan kepada klien
smile

Surianto Rustan
3 hours ago
tahapan pengerjaan desain dari sejak riset, dll itu dipresentasikan di briefing awal, nah kalo sdh mau presentasi desainnya, ga perlu dipresentasikan lagi, kecuali mau mengingatkan klien, “pak setelah ini kita akan berlanjut pada tahap berikutnya, yaitu..” semuanya agar klien ngerti arah pekerjaan ini, dan melihat kita kompeten

Surianto Rustan
3 hours ago
tiap status pengerjaan hrs dikomunikasikan. ini penting supaya klien juga sadar bhw desain ga cuma visual belaka, tapi ada proses2 yg tidak instan

Janrico Renaldy Liando
3 hours ago
hmmm
ya, betul saya sudah bicaran tahapan dan cara kerja saya sebagai desainer sm klien pas brief awal. bearti saya harus infokan yah kalo saya sudah dapat datanya dan sekarang sedang memasuki proses selanjutnya
supaya klien tau proses saya sudah sampai dimana
bukan begitu pak?

Surianto Rustan
2 hours ago
betul! masalah klien adalah: mereka selalu gelisah, ini desainer kompeten ga sih? bisa ga sih rancangin logo gw? dll. jadi mereka hrs diyakinkan & ditenangkan hatinya: dengan selalu memberitahukan status pengerjaan desain yg kita lakukan. mirip update status fb
Janrico Renaldy Liando
2 hours ago
iya betul bgt bgt pak, saya setuju
grin
saya selalu follow up dia
status saya
makasih banyak pak
pencerahannya

Konsep dalam desain & bagaimana menjelaskan ke klien soal harga desain?

    Riza Arfian Bahasuan
        siang pak… grin

    Surianto Rustan
    11 hours ago
        halo Mas Riza

    Riza Arfian Bahasuan
    11 hours ago
        lagi sibuk pak? mau ngobrol ngobrol seputar desain nih… (nyolong ilmu) hehe

    Surianto Rustan
    11 hours ago
        silahkan, tapi saya nyambi ya

    Riza Arfian Bahasuan
    10 hours ago
        yang dimaksud dengan konsep desain itu seperti apa ya pak? apakah seperti makalah, coret sketsa awal desain atau apa ya?

    Surianto Rustan
    10 hours ago
        istilah konsep sgt luas, tapi umumnya mengarah pada: segala proses yang dilakukan sebelum mendesain dan produksi.
        pada intinya ada 3 tahap mendesain: 1. riset, 2. strategi, 3. mendesain (kalo di desain grafis: mendesain visual)
        nah konsep itu adalah poin 1 dan 2.

    Riza Arfian Bahasuan
    10 hours ago
        ooo, paham paham… grin

    Surianto Rustan
    10 hours ago
        tp ada juga pada tahap desain visual hrs dibuat lagi konsep visualnya, nah jd intinya konsep ini adalah pra-desain

    Riza Arfian Bahasuan
    10 hours ago
        misalnih, ada klien, ketika brief sudah diisi, kemudian, kita (desainer & tim) melakukan riset, menyusun strategi (konsep), dan kemudian riset dan strategi itu yang dipresentasikan ke klien sebagai konsep ya pak?
        konsep visual itu sperti sketsa awal ya?

    Surianto Rustan
    10 hours ago
        iya, bisa dikatakan begitu. kl saya sih tidak suka pakai kata konsep, krn sifatnya umum sekali, tidak spesifik. kalo saya akan bilangnya: “Pak ini hasil riset yang sdh kami analisa, lalu kami jadikan landasan strategi yg kami ambil sebelum mendesain”. jadinya spesifik.

    Riza Arfian Bahasuan
    10 hours ago
        iya juga ya, kalau konsep visual itu seperti sketsa diatas kertas ya?

    Surianto Rustan
    10 hours ago
        iya, betul Mas

    Riza Arfian Bahasuan
    10 hours ago
        mmm, berarti selama ini saya baru menggunakan konsep visual saja…

    Riza Arfian Bahasuan
    9 hours ago
        mau tanya lagi, tapi bingung mau tanya apa, hehe, btw, trimakasih pak atas kucuran ilmunya…
        ^.^

    Riza Arfian Bahasuan
    9 hours ago
        semangat siang! grin

    Surianto Rustan
    about an hour ago
        silakan tanya saja Mas, pasti saya jawab kalo pas online

    Riza Arfian Bahasuan
    51 minutes ago
        oia, pak, gmana ya jelasin ke klien knp desain itu harganya puluhan ribu…
        soalnya saya udah berusaha jelasin, ujung ujungnya kalau ga’ ditawar jaauuuuh sekali, ya sya good bye…
        (bahkan ada yang bilang “lho mas, biasanya saya ga’ pakai harga desain”) itu yang bikin gimana gitu…

    Surianto Rustan
    44 minutes ago
        kalo saya selalu mengusahakan harus temu muka dengan klien. biasanya miting ke kantornya. saya bersikap sbg konsultan, saya yg tau desain itu apa, siapa itu desain grafis, bagaimana itu proses desain. tapi semua itu tidak dipaksakan ke klien kalau mereka tidak mau tahu. yang pasti dlm miting awal tsb saya hrs tau siapa si klien itu, dengan menanyakan secara rinci siapa mereka, apa produknya, servicenya, siapa pesaingnya, siapa konsumennya, sejarah perusahaan, manajemen, cabang, agen, distributor, dll, setelah kira2 ckp lengkap, saya minta ijin memperkenalkan diri

    Surianto Rustan
    44 minutes ago
        ini bagian yg penting: memperkenalkan diri.
        di sini saya memperkenalkan siapa saya, visi misis saya, apa yg saya kerjakan, siapa klien yg pernah saya servis, produk dan jasa saya, metode kerja saya, parter kalau ada, kantor, dll
        dan protfolio, hasil kasya yg pernah dibuat.

    Riza Arfian Bahasuan
    37 minutes ago
        waw, seperti itu yaa…
        siap pak! akan saya praktikan segera…
        (^.^)7

    Surianto Rustan
    28 minutes ago
        O iya, perkenalan diri saya ini dalam bentuk powerpoint, jadi terlihat secara visual, boleh juga kalau ada karya jadinya. dengan melihat dengan visual dan penjelasan lisan, maka klien ada gambaran siapa diri saya, “ooo ini orang ternyata bukan desainer di tempat fotokopi / digital printing”, “ooo ini orang kerja pake konsep”, ooo desain ada langkah2 kerjanya ya, ternyata pake riset ya, ternyata ga cuma visual semata, ternyata ga cuma masalah selera ya”

    Surianto Rustan
    27 minutes ago
        nah, masalahnya apa desainer itu tau desain grafis itu apa? bagaimana mau menjelaskan ke klien kalau desainernya sendiri tdk tau? jadi supaya dianggap ahli, saya sendiri harus tau siapa saya dan apa yg saya kerjakan ini.
        untuk itu apa mungkin sudah baca ini: http://dgi-indonesia.com/bukamata/
        setelah mengetahui siapa klien dan apa kebutuhannya, serta memperkenalkan diri, barulah boleh bicara harga

    Riza Arfian Bahasuan
    9 minutes ago
        wah, selama ini belum sejauh dan sedalam itu informasi yang saya berikan ke klien, ga’ heran klu banyak yang gimana gitu ya…

    Surianto Rustan
    7 minutes ago
        iya, krn mereka belum kenal siapa kita, terutama kitanya sendiri belum terlalu kenal diri kita
        maklum saja kalau mereka beraninya harga murah
        btw apakah saya boleh upload percakapan ini ke blog saya surianto.wordpress.com? supaya makin byk org yg turut paham

    Riza Arfian Bahasuan
    5 minutes ago
        sangat boleh sekali pak… grin
        sangat menginspirasi…

    Surianto Rustan
    5 minutes ago
        baik kl bgt, terima kasih Mas Riza atas kesediaannya smile

    Riza Arfian Bahasuan
    4 minutes ago
        btw saya jadi ingat sebuah kata Erwin Aksa dalam sebuah seminar yang saya hadiri, “Profesional itu dimulai dari diri sendiri”…
        seorang profesional memang harus benar benar memahami apa yang dilakukannya, dan profesional memang pantas dibayar mahal…
        #kesimpulan grin